Minyak Wangi

Kepribadian dan masalah yang sedang dihadapi seseorang bisa diketahui, “salah satu caranya adalah dengan melihat minyak wangi apa yang dipakainya,” ujar Je. Apalagi Aceh masakini, sudah banyak dibuka kedai parfum isi ulang yang terkadang penjualnya bau badan juga.

Suatu hari Je mendapati Ari dengan aroma tubuh yang berbeda. Biasanya Ari tampil bagai anak gaul. Baju bagus. Rambut ikal. Bau badannya pun lembut dan nature. Tapi hari itu keharumannya lain. Baunya sudah meuhong (tajam). Diperhatikannya, raut muka Ari tak ceria. Cemberut. Ketika Je pura-pura meminjam uang padanya, dibilangnya, “maaf kawan, ini lagi tak ada uang. Hutangpun belum kulunasi.” Tapi ketika malamnya, yakni malam Minggu, Ari hendak bertemu sama seorang kawan ceweknya yang tergolong cantik, ia meminjam minyak wangi Je. “Malu jumpa cewek kalau badannya bau.” Je memberinya, tapi, “kenapa waktu pergi Jumatan tak kamu minta minyak wangi padaku?” Ari tak menjawab.

Lain halnya dengan orangtua. Suatu malam, Abu Toy Sijoy pergi tahlilan bersama warga ke rumah seorang meninggal. Didapat Je kalau lelaki tua itu wangi, tumben. Rupanya ia pakai minyak wangi cucunya, Isan. Herannya, ketika duduk di rumah bersama Nek Maneh (istrinya Abu Toy Sijoy), si kakek selalu dalam keadaan bau badan. Bau apek. Bee khoh. Kalau tak ada uang, itu wajar bagi kakek. Tapi kurang wajar bagi anak dan cucunya yang enggan sekadar membelikan sebotol minyak wangi untuk Abu Toy Sijoy.

Lain pula dengan gadis-gadis. Mereka memaksakan diri harus ada minyak wangi setiap hari. Tak boleh melalui hari-hari tanpa percikan parfum di tubuh. “Kamu mudah mendapatinya ketika sore hari. Lebih-lebih hari Minggu,” sebut Je.  Wanginya beragam, berdasarkan penghasilan orangtuanya. Ada bau dari hasil korupsi. Ada bau dari hasil berdagang. Ada aroma dari hasil mengaji. Ada aroma dari hasil bertani, dan dari hasil-hasil lain. Namun lihatlah mereka ketika memakai seragam sekolah. Jangan sampai muntah ketika duduk seangkutan umum bersama mereka ketika pulang sekolah. “Maaf, baunya asem,” kata Je pada Brahim. Kenapa? “Biasanya sebagian mereka memercikkan minyak wangi pada sekujur tubuh yang kadang masih berdaki (ek kalang), sehingga ketika keluar keringat, reaksinya akan berbeda. Dan hasilnya, ya, asam, pahit, khieng, khop, khep, dan lain-lain.”

Kata Ari, selain dapat menipiskan lapisan ozon karena mengandung unsur Chloro Fluoro Carbon (CFC), minyak wangi juga dapat menipiskan tabungan keuangan seseorang yang hidupnya sederhana tapi suka bergaya. “Pastinya, ketika tiba-tiba bau wangian di badannya berubah, tanyakan, apa masalah yang sedang dihadapi. Kalau sedang tidak senang, pasti susah,” kata dia.[]

(CP HA 7/6/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s