Artis dan Sutradara itu Ternyata Teman Saya…

Saya senang sekali hari itu bisa berkumpul dengan artis dan sutradara. Mereka adalah dua teman saya sejak 2009. Pada Jumat (10/6/11) yang panas, mereka mengajak saya untuk belajar bikin film. Mereka ajak saya untuk ikut syuting. Lokasinya di Anjungan PKA, di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh. Semakin menggerakkan hati saya ketika mereka bilang, bahwa akan diberikan tips mudah menjadi artis dan sutradara. Secara otodidak!

Saya pun mengikuti mereka. Si artis mengenakan baju ungu. Sedang sutradara biru donker (nanti kudeskripsikan lagi tentang mereka). Kedua-duanya cewek. Masih single dan bisa dikatakan cantik. Wow!

Ketika hendak ambil gambar, mereka bingung. Mereka butuh seorang tokoh figuran. Saat itu saya pengen sekali mereka tawari saya sebagai tokoh figuran. Saya ngarep sekali. Tapi saya heran ketika kemudian mereka malah memanggil seorang lelaki muda di sebuah anjungan. Saya iri ketika lelaki itu dijadikan tokoh figuran. Dan saya pura-pura menampakkan wajah ceria pada mereka supaya menunjukkan kalau orang Aceh itu memang benar-benar ramah meski hatinya marah.

Ah, kenapa pula mereka tak pakai saya. Apa kurang saya? Saya ganteng. Putih. Bersih. Tinggi. Humoris, dll. Tapi mereka tetap tak pakai saya. Saya cuma bisa melihat lelaki itu akting dengan kobong (kaku). Sementara si artis teman saya itu tampak serius, dengan yakin sekali, kalau filmnya bakal mendunia. Apalagi mereka berdialog dalam bahasa Inggris.

Di akhir pengambilan gambar, mereka pun memberikan tips yang saya tunggu-tunggu. Cuma satu kalimat tipsnya, ada naskah, ada kamera saku, ada pemerannya, dan sedikit kemauan diiringi kerja keras.

“Mantap. Tinggal satu adegan lagi,” ujar sang sutradara. Saya senang mendengarnya. Tak lama lagi filmnya selesai. Saya senang bisa bersama Maria (sutradara), Asrina (artis), Hafeez (kameramen), Zahra dan saya yang hari itu tak ada peran. Kami kru saja.

Haha. Maaf kawan! Saya cuma bercanda. Tapi jangan kecewa. Di bawah, saya ceritakan keadaan kampus kita.

Sebelumnya, hari itu saya dan mereka sedang syuting film pendek, tugas mata kuliah Bahasa Inggris IV dari prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry. Hari itu, kami layaknya kru film benaran. Rina dan Maria layaknya artis dan sutradara sungguhan. Kini kalian tahu, ternyata artis dan sutradara itu teman kuliah saya. Haha.

Kameraaaa rolling. Actions!

Kenapa semua itu terjadi?

Inilah cerita yang saya maksud. Awal masuk kuliah di prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, sebagian kami angkatan 2009 yang mengambil prodi itu mengira-ngira kalau kami nantinya bakal jadi jurnalis, penulis, artis, sutradara, kameramen, reporter, penyiar, penyair, penulis, dan dai. Tapi sampai semester empat menimba ilmu di jurusan ini, kami masih seperti mahasiswa biasa yang datang, duduk, diam, dengar, dan de lainnya! Aktif ketika tampil makalah saja. Ya, hanya saat kuliah saja. Selebihnya, nol kosong.

Belakangan terhembus, kalau IAIN Ar-Raniry ingin maju. Ingin menjelma jadi UIN, bagai seorang lelaki biasa yang ketika ada musuh ia berubah menjadi Satria Baja Hitam atau Power Rangers. Untuk mendukung itu, IAIN pun menerima mahasiswa barus secara online musim ini (ini sebuah langkah maju bagi IAIN Ar-Raniry, ketinggalan langkah bila melihat perguruan tinggi lain).

Mungkin karena ingin maju, kami pun diusulkan untuk bikin film. Dan, tak hanya kami, abang-abang angkatan lainnya juga terobsesi bikin film.

Maka, Jumat sore itu ke sekian kalinya kami syuting untuk sebuah film berdurasi 7-9 menit. Jauh sebelumnya, saat kami mendengar usulan sang dosen bahasa Inggris untuk bikin film sebagai tugas kuliah, kami senang sekali. Tiada bantah. Bahkan minta waktu cukup dua minggu! Yakin sekali. Kami tak tanyakan pada dosen itu: bagaimana cara kami berakting, bergaya, mengambil gambar, dan teknik pembuatan film lainnya.

Namun sampai dua bulan setelah perjanjian, kami jadi kesal. Kami nyaris tak sanggup menyelasaikan film itu. Kami tak tahu cara berakting, bergaya, mengambil gambar, dan segalanya. Tapi kita tak mau cemen, kita belajar saja secara otodidak.

Kembali pada Jumat kemaren, kami pun seperti artis tanpa panggung dan sutradara tanpa pernah pegang kamera. Si Rina yang menjadi tokoh utama, hanya senyum-senyum saja ketika tak tahu cara bergaya. Lalu Si Maria sang sutradara, menyarankan sebisa mungkin dengan motivasi cita-citnya menjadi sutradara.

Saya berlawak sebisa mungkin dengan Si Hafeez ketika giliran kami berakting. Zahra pun tak kalah pandainya. Kami tak hiraukan keadaan perguruan tinggi kami yang sangat kurang fasilitas. Bayangkan saja, untuk bikin film pendek, ada satu kelompok yang harus sewa kamera.

Sampai kapan kami seperti ini? 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

1 thought on “Artis dan Sutradara itu Ternyata Teman Saya…”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s