Ikon Darussalam

“Yang paling menarik, ada Si Alu, seorang lelaki kurang waras: rambut gimbal, kulit hitam, tak pakai baju, jalan gontai. Dialah yang oleh seseorang berambut sebahu tadi menyebutnya ikon Darussalam, layaknya Lionel Messi yang jadi ikon Barecelona, atau seperti Che Guavara yang jadi ikon rakyat Kuba atas revolusinya, atau Nelson Mandela ikonnya Afrika.”

Advertisements

Ada satu daerah di Banda Aceh yang dikenal sampai ke tingkat nasional: Darussalam. Tokoh-tokoh Aceh, rata-rata pernah bersekolah di Darussalam. Tak hanya manusia normal, manusia tidak normal pun begitu terkenal di Darussalam. Bahkan ada yang menyebutkan si kurang waras itu, “sebagai ikon Darussalam,” kata Jailani, mengutip pernyataan seseorang berambut sebahu di tempat ia bekerja.

Pada 2 September 1959, Presiden Soekarno secara resmi membuka Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam. Saat itu juga meresmikan Tugu Darussalam dan Fakultas Ekonomi Unsyiah. Dalam sambutannya Soekarno berkata, “Darussalam sebagai pusat pendidikan daerah Aceh adalah lambang iklim damai dan suasana persatuan, hasil kerjasama antara rakyat dan para pemimpin Aceh, serta sebagai modal pembangunan dan kemajuan daerah Aceh khususnya, dan Indonesia umumnya.” (acehforum.or.id).

Maka beberapa tahun kemudian, Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry pun ditabalkan sebagai “jantong hate rakyat Aceh”. Tak berlebihan saat itu. Sebab dari keduanya melahirkan lulusan yang patut diacungi jempol. “Menelurkan alumni-alumni yang membantu majukan pendidikan dan aspek lainnya bagi Aceh,” nilai Ari.

Tapi lihatlah Darussalam kini. Sekiranya ada orang yang ingin mengubah nama menjadi ‘Darullassalam’, “boleh-boleh saja,” kata Jailani. Ya, dalam bahasa Arab “Darussalam” bermakna negara sejahtera. Maka jika Darullassalam, sebaliknya, “negara tidak sejahtera”.

Dua mahasiswa yang sedang kuliah di Darussalam itu menilai, banyak lulusan kedua Perguruan Tinggi (PT) itu tak sejahtera. Banyak yang menganggur usai kuliah.

Selain itu, ada beberapa juga yang pikirannya tak sejahtera, sehingga, ada orang yang bunuh diri di jembatan sebelum menuju Darussalam. Yang paling menarik, ada Si Alu, seorang lelaki kurang waras: rambut gimbal, kulit hitam, tak pakai baju, jalan gontai. Dialah yang oleh seseorang berambut sebahu tadi menyebutnya ikon Darussalam, layaknya Lionel Messi yang jadi ikon Barecelona, atau seperti Che Guavara yang jadi ikon rakyat Kuba atas revolusinya, atau Nelson Mandela ikonnya Afrika.

Oleh seseorang berambut sebahu itu dikatakannya pada Jailani di tahun 2011, Si Alu sudah berkeliaran di Darussalam sejak gurunya kuliah di Unsyiah. “Sejak 90-an,” katanya. Sungguh sudah lama sekali. Pantaslah kiranya ia jadi ikon Darussalam. Alasannya, “mungkin atas perjuangan Si Alu berkeliling kota, sehingga cukup menarik perhatian pelintas jalan raya,” kata Ari, bercanda.

Namun seyogyanya kita berharap, akan lahir ikon Darussalam yang sesungguhnya kemudian hari. Jangan malah kedua PT itu mewisudakan sarjana-sarjana yang kemudian menggantikan posisi Si Alu.[]

(CP HA 10/6/11)

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s