Pemimpin Khôh

MEMILIH kriteria calon pemimpin bisa dengan mencermati keunikan bahasa Aceh. Kata-kata dalam bahasa Aceh mengandung filosofi menarik, terkadang. Khèb, khöb, khieng, khôh, dan khie adalah kata-kata yang memiliki kesamaan jika melihat dua huruf awalnya. Kelima kata inilah yang mempunyai filosofi bagus untuk mengetahui calon-calon pemimpin jelang pilkada ke depan.Kamus Bahasa Aceh-Indonesia terbitan 2001 oleh Balai Pustaka menjelaskan maksud kelima kata “kembar tapi beda” itu. Makna kelima kata tersebut kiranya sudah cukup bagi pembaca atau rakyat untuk berjaga-jaga dalam memilih calon pemimpin yang “baunya” seperti apa, terlepas dari harapan untuk memilih yang benar-benar “harum” secara alami.

Dalam kamus yang diprakarsai oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional itu, khèb ditulis kh’eb, artinya berbau busuk. Kata ini lazim dipakai pada bau telur yang sudah busuk, atau bau mulut seseorang. Sering diucap, “bee nafah kah lagee bee naga (bau nafas kamu seperti bau naga).”

Calon pemimpin yang kh’eb, dapat dilihat dari cara dia berkampanye. Dia akan mengatakan yang manis-manis saat merebut hati rakyat di atas panggung atau baliho-baliho, tapi akan mengeluarkan “nafas” janjinya dengan kh’eb tak lama setelah terpilih. Calon pemimpin pada Pemilihan lalu yang menggunakan cara curang, kiranya bisa tergolong dalam calon pemimpin kh’eb. Ibarat telur yang telah busuk, tak tahu harus dipakai di mana lagi.

Khöb yang ditulis kh’ob dalam kamus itu berarti busuk, nyaris sama dengan kh’eb. Tapi kh’ob lebih menusuk hidung daripada kh’eb. Biasa ditujukan pada daging yang telah busuk (bangkai). Atau kentut yang mengeluarkan bau yang kh’ob. Maka orang berkata, “bee geuntot lagee bee bangke (bau kentut seperti bau bangkai).” Ini menunjukkan busuk sekali aroma angin yang dibuang.

Kita menemukan calon pemimpin yang kh’ob tak mudah. Sebab ia bermain secara sembunyi-sembunyi. Persis seperti kentut. Kentut adalah sisa pencernaan yang tak diperlukan tubuh kemudian dibuang melalui anus dan meletus di mulut anus. Jika pemilik anus itu makan enak, biasa akan mengeluarkan bau kh’ob, apalagi kalau makan durian, petai, boh itek jruek (telur asin) dan jengkol.

Kebusukan kepemimpinan seseorang akan tercium ketika ia tak bisa lagi menyembunyikan pemicu aromanya, seperti durian yang sudah matang. Kalau ditahan akan berbahaya, seperti kentut yang kebelet. Kekh’oban pemimpin yang telah dipilih akan jelas tampak ketika ia sudah beberapa tahun memimpin rakyat yang telah memilihnya. Karena itu, jangan pernah mencium kentut yang kh’ob dari anus yang sama untuk kedua kalinya.

Khieng yang ditulis kh’ieng juga bermakna busuk. Biasa digunakan untuk menyebutkan bau kotoran manusia. Kh’ieng bisa ditimbulkan selain muncul secara alami. Kotoran manusia dari hasil mengonsumsi makanan halal yang berbau kh’ieng adalah timbul secara alami. Tapi kotoran hewan dari hasil mengonsumsi makanan tak halal berbau kh’ieng adalah timbul secara terpaksa. Mungkin anus tak mau mengeluarkan angin dari makanan haram, tapi ia terpaksa membuangnya karena ia harus menyelesaikan tugas tepat pada waktunya. Meskipun kemudian baunya tak terlalu kh’ieng, tapi kandungan kotorannya cukup menyiratkan kekh’iengan.

Jelang pemilihan, seseorang calon pemimpin membutuhkan tim sukses (timses). Mereka membantu sang calon dengan merayu hati rakyat semampunya. Timses terkadang melakukan tugasnya dengan curang-bisa karena inisiatif si calon atau kemauan mereka sendiri–sehingga melahirkan pemimpin yang sengaja dikh’iengkan sebelumnya. Namun tak menutup peluang terpilihnya pemimpin yang menyebarkan bau kh’ieng di kemudian hari. Dalam kasus ini, kita berharap sebelum memilih untuk tidak tergoda oleh mereka.

Khôh yang ditulis khoih di kamus tersebut mengandung makna berbau apak. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan 1990 menyebutkan, apak adalah bau tidak sedap karena lapuk (sudah lama tersimpan) atau jarang sekali dipakai. Khoih sering diucapkan untuk bocah-bocah yang belum mandi atau benda-benda dari kayu seperti peti. Ada baiknya, khoih ini bisa diusir. Baunya mudah dihilangkan.

Pada kriteria calon pemimpin, biasanya yang sudah tua. Orang yang sudah tua mencalonkan diri agaknya bisa disebut calon pemimpin bertipe khoih. Dalam artian, jika dia sudah pernah memimpin dan kemudian lama vakum dari jabatannya, lalu ia muncul lagi ke publik di usia tua. Ini artinya dia adalah calon yang khoih. Namun khoih-nya itu bisa dihilangkan. Patut diharumkan kembali jika pengalamannya memimpin pada periode sebelumnya tergolong bagus dan memercikkan wewangian pada rakyatnya.

Terakhir adalah khie. Menurut kamus tadi, artinya tengik. Bau ini ada pada dua tempat, yaitu bau dan rasa. Dimisalkan pada makanan tengik yang lahir akibat digoreng dengan minyak kelapa yang berbau tengik. Bisa juga dijumpai pada makanan ringan yang sudah lama dalam kemasan. Dari luar kelihatan bagus. Baru setelah dibeli, dibuka kemasannya, dan digigit, tengik itu akan terasa, selain juwiet (lembek) ketika diraba.

Calon pemimpin yang khie adalah calon muda (pendatang baru) dan belum berpengalaman. Atau juga bagi yang sudah berpengalaman namun sudah ketinggalan jaman (kedaluarsa). Kriteria ini lebih sebagai peramai pesta saja. Ketika pemilihan berlangsung, jika kemudian tak dapat suara, bisa dipastikan ia sudah khie bagi yang sudah tua. Bila nantinya ia dapat suara meski berusia muda, rasa khie sepertinya akan dicecap rakyat ketika kepemimpinannya sudah berjalan. Baru kemudian rakyat berkata, “salah bloe lagoe (salah beli ternyata), rupanya ka khie (rupanya sudah tengik).”

Berdasarkan kelima bau itu, bau khoih paling bagus dipilih jika tak ada calon yang benar-benar harum. Setidaknya pemimpin itu bisa dibersihkan oleh rakyat. Dalam artian, sang pemimpin mau mendengar aspirasi rakyat lalu merealisasikannya. Pilkada sudah di ambang pintu. Semoga saja kita rakyat Aceh tidak memilih pemimpin yang mempunyai salah satu atau semua dari kelima bau tersebut.

* Makmur Dimila adalah mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry.

(Opini Serambi Indonesia 11/6/11)
Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Pemimpin Khôh”

  1. that lupah gura. tu kan menurut lo. menurut gw ngak. kalau yang khie itu bisa dipanaskan lg, atau digoreng dgn sesuatu yg menghilangkannya,cth digoreng bareng nasi teugumpal. trus kalau kue kakhie, banyak yang daur ulang dengan digoreng lagi, kayak tukang kerupuk yang ngambil sisa ke kios-kios. (MAR & SYUUU).HEHE

    1. Ya, betul Syu. Tapi sya memilih khoh, dimana proses pewangiannya kembali tak banyak makan waktu. Cukup dimandiin aja kalo untuk kambing dan anak2. Tapi kalo khie, digoreng dan didaur ulang kan banyak butuh waktu. Hehe.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s