Satu Jam Saja di Udara

Saya lelah sekali. Bukan karena tak makan pagi—kebiasaan mahasiswa, mungkin karena begadang. Begadang adalah hoby kami, karena biasanya banyak inspirasi akan bergentayangan ketika malam sunyi.

Ya, jam 2 siang pada Sabtu (11/6) yang panas, saya bisa merasakan diri yang lelah. Setelah bantu kawan-kawan sukseskan pelatihan blog dari mahasiswa Dakwah untuk mahasiswa Dakwah setengah hari, saya harus menunaikan janji pada Seulaweut FM, sebuah radio swasta di Banda Aceh. Dan saya harus tetap semangat!

Saya senang, meski sempat deg-degan. Karena jika jadi saya on air, maka itu yang pertama kali sepanjang hidup dan tak pernah saya bayangkan ketika saya belum mencoba cintai dunia menulis. Sekaligus buat latihan penuhi undangan Andy untuk ngisi acara Kick Andy di Metro TV kalau misalnya nanti saya sukses dengan sebuah pergerakan saya. Heheh.

**

Dari luar, studio Seulaweuet FM tampak sederhana. Saya dipersilakan Riza masuk dan duduk di ruang tamu. Disuguhinya air mineral. Juga form biodata untuk saya isi. Bincang-bincang sebentar dengannya.

Tepat jam 2.30, kami bangkit dan masuk ke dapur redaksi. Hanya ada dua kamar produksi. Satu ruang utama di kiri. Satu lagi di kanannya, khusus untuk talkshow dan menyiar.

Kami bersila di lantai beralaskan terpal lembut. Ruang itu berdinding oranye. Dingin. Ada hembusan AC. Dua mik telah disiapkan. Sang operator sekaligus produser, Dara, siap menemani kami dengan duduk di depan komputer dan setumpuk alat-alat produksi radio lainnya.

Sementara saya.. santai sekali, tak seperti yang saya bayangkan kalau saya akan gimana gitu… Mereka ramah. Memang seharusnya begitu.

Selamat siang pecinta Seulaweut FM. Seperti biasanya pada Sabtu siang, jumpa lagi di Galeri Remaja, bersama saya Riza. Di sini sudah hadir bintang tamu kita, yaitu Makmur Dimila. Ia penulis muda. Oya, hari ini ada opininya di Serambi Indonesia. Judulnya Pemimpin Khôh.”

Demikian kira-kira Riza membuka acara.

Santai. Tenang. Menikmati segalanya. Saya harus melayani setiap pertanyaan Riza dan pendengar dengan santai, seadanya. Sambilan menunggu telfon atau sms masuk dari pendengar, Riza tanyakan saya, Dimila itu apa sih?

Marga, jawab saya. Haha. Dia nyaris percaya. “Di Aceh, khususnya di Pidie tempat saya lahir, tak ada marga,” bantah saya segera. Tepatnya, itu nama pena saya. Lebih jelasnya, kawan-kawan bisa lihat di halaman “Kenapa Dimila?” di blog saya.

Kemudian, antara lain, Riza tanyakan saya dimana kuliah, di mana bekerja, di mana saja menulis, sejak kapan menggeluti dunia menulis, dan berapa tulisan sudah dimuat.

Soal kerja saya rahasiakan. Pokoknya ada, di sebuah media lokal. Saya geluti dunia menulis sejak cerpen pertama saya dimuat di Serambi Indonesia pada Mei 2010. Tak mudah dimuat, itu butuh proses. Lalu saya ceritakan pengalaman menulis saya sampai kemudian Riza mengatakan, “Luar biasa ternyata. Makmur Dimila baru menggeluti dunia menulis, tapi sudah sekitar 70-an karyanya dimuat media lokal.”

Bagi yang sudah pernah mencoba mengirim tulisan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun ke media, namun tak pernah dimuat, “itu bagaimana?” tanya dia. “Mungkin keberuntunganm atau dewi fortuna belum berpihak padanya.” Karena itu, kirim terus, terus pelajari karya orang lain yang sudah dimuat. Sabar. Jangan putus asa. Berusaha dan berdoa.

Ketika pariwara, ada beberapa sms masuk. Kalau saya mendengar namanya ketika diucap Riza saat kembali ke acara, semua penanya berjenis kelamin perempuan. Dan bila mendengar namanya, sepertinya masih remaja, sesuai dengan tema acara. Dari remaja untuk remaja.

Assalamulaikaum. Hai abang-abang… Saya Acha. Bagaimana cara memilih kata-kata yang indah dalam berpuisi?

Dalam berpuisi, indah atau tidaknya kata-kata tak begitu penting. Tapi keindahan makna lah yang diperlukan. Apa pesan dalam puisi terebut, meski puisi itu multi tafsir, yang penting ada pesannya. Memang, puisi yang baik kadangkala puisi yang kata-katanya indah. Tapi bagusnya, kita menulis puisi dengan menyusun setiap baitnya dengan indah dan enak dibaca.

Untuk memilih kata-kata indah, kita wajib bin harus membaca puisi orang lain. Ada baiknya membaca puisi-puisi yang dimuat di harian nasional setiap Minggu, misal Kompas. Bagus juga mengikuti di media-media lokal jika berniat mengirim puisi ke media lokal.

SMS berikutnya, ada Wilda. Dari mana Bang Makmur mendapat inspirasi?

Inspirasi bisa datang dari mana saja. “Bahkan saya sering dapat ide atau inspirasi ketika sedang di WC,” kata saya, namun dalam hati saja, sebab tak etis. Heheh.

Ya, ide itu bisa muncul spontan atau secara tiba-tiba. Ketika sudah muncul seperti itu, jangan biarkan ide menggelayut di atas kepala, tapi tangkap dia. Lalu, jika serius ingin jadi penulis, tulislah ide itu di secarik kertas. Kalau saya selalu membawa buku kecil kemanapun pergi untuk menabung ide.

Lalu ketika tak ada inspirasi, jangan menunggu kehadirannya. Tapi jemputlah dia. Kita bisa memancing atau mengail ide. Kalau saya, melihat dan mengamati apa yang sedang terjadi di masyarakat. Tentu realita sosial yang unik. Nah, dari amatan tersebut, akan muncul ide.

Atau, mengail ide bisa dengan merenung. Biasanya tengah malam, ide mudah datang. Makanya kami sering begadang. Selain mudah ide, menulis pada malam sunyi atau fajar yang dingin, bagai air mengalir. Cuma sayang tubuh, harinya lelah dan lama kelamaan mudah hilang konsentrasi, pelupa, dan tidak fokus ketika berbicara.

“Kemudian ada yang tanyakan, bagaimana cara memotivasi diri untuk menulis ketika buntu ide. Ini bagaimana Mur?” kata Riza.

Bagaimana ya? Mengutip apa yang dikatakan Andrea Hirata ketika ia temu fans di Banda Aceh beberapa bulan lalu, ketika buntu ide, kita harus melakukan riset atau mengumpulkan data-data dari lapangan, jawab saya di Selawuet FM.

Saya sambung melalui blog ini—karena tak tersedia banyak waktu di radio, misal Andrea Hirata ketika melihat wajah perempuan tua, sejuta ide bisa lahir dari raut tuanya. “Wawancari orang tersebut. Tanyakan kisah hidupnya. Dia punya suami, cucu, anak, dan lain-lain, banyak cerita kita peroleh jika mewawancarai orang-orang,” kata penulis Laskar Pelangi itu.

Atau cara memotivasi diri lainnya, seperti saya jawab di Seulaweut, ya kita harus punya target. Misal kita butuh sesuatu, katakanlah kita butuh satu laptop. Lalu berjanjilah pada keluarga atau siapa saja yang punya apresiasi tinggi terhadap kreatifitas orang lain, bahwa “jika tulisan saya dimuat, berarti Anda memberikan saya laptop,” janjikan padanya.

Atau ketika mencintai seseorang, namun yang dicinta tak mau terima, bisa coba “ditembak” melalui karya tulis. Tulislah puisi yang kira-kira ketika dibaca menyentuh perasaan. Cantumkan namanya (inisialnya) di bawah judul puisi. Lalu kirimkan ke media massa. Nah, ketika dimuat, larilah menjumpainya. Tunjukkan karya tersebut. Heheh.

Kemudian ada penanya bernama Lara Senja. Saya lupa pertanyaannya. Saya cuma ingat namanya yang indah. Lara=sedih=duka. Lara senja=kesedihan senja. Ibarat judul puisi kan. Sepertinya ini pujangga atau calonnnya. Mengingat namanya, saya teringat Pipiet Senja. Mungkin juga Anda. Maaf Lara Senja, saya lupa pertanyaanmu. Boleh tanya lagi jika baca ini atau jumpa di mana nanti.

Ada seorang lagi, namanya Ita, yang saya melupakan pertanyaannya dengan tidak sengaja. Sebab saya tak mencatat pun merekam pertanyaan mereka, tapi cuma mendengar. Boleh tanya lagi jika baca ini atau jumpa di mana nanti.

“Kemudian, di belakangnya, ada Intan di Ulka. Bang Makmur, bagaimana caranya supaya tulisan diekspos?” Riza membaca sms masuk pada hapenya.

Kalau ada karya, kirim saja ke media massa. Jangan pendam karyamu. Jangan menilai karyamu kalau belum dikirimkan. Tak akan dimuat menurutmu, bisa jadi layak muat ketika dibaca redaktur sastra di koran yang kita tuju.

Kalaupun tak dimuat setelah mengirimnya, kita bisa memuatnya di Facebook, lalu men-tag banyak orang untuk membacanya. Atau memposting di blog, lalu dibaca dunia. Apalagi ini jamannya cyber city. Ada banyak wifi gratis. Atau kalau memang mau didaur ulang karya yang tak dimuat, lebih bagus. Kita harus berkenalan dengan penulis, lalu konsultasikan padanya kenapa karya itu tak dimuat. Yang penting usaha. Semangat! J

“Wow, jangan-jangan ini teman dekat Makmur. SMS berikutnya, ada mahasiswa jurusan Jurnalistik Fak. Dakwah IAIN Ar-Raniry,” sebut Riza. Ia tak menuliskan namanya. Ditanyakannya tiga hal: motivasi saya menjadi penulis, sampai kapan saya akan menulis, dan kiat-kiat jadi penulis sukses?

Jangan-jangan ini teman sebangku kuliah saya. Ayo.. ngaku, siapa?

Pertama, ya, motivasi saya menulis adalah untuk melawan lupa. Berkarya. Sesuai motto blog saya, “tak berkarya bak tak hidup”. Karena ketika kita mati, yang bisa diingat dari kita hanyalah karya kita, selain amal baik. Takkan kita dengar nama Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniry kalau mereka tak menulis dulunya.

Selain itu, menulis adalah merupakan salah satu cara minyiarkan islam. Berdakwah lewat tulisan. Menulis untuk membawa kebaikan. Popularitas itu akan datang sendiri jika kita tetap eksis menulis demi kebaikan.

Sampai kapan saya menulis? Haha. Selama hayat dikandung badang, selama Yang Maha Kuasa masih memberikan kekuasaan kepada saya, memberikan kesehatan akal pikiran kepada saya, saya akan terus menulis.

“Apa kiat-kiat menjadi penulis sukses?” Bagaimana saya jawab? Ya, kita harus tetap menulis. Karena konsep menulis cuma tiga, seperti dikatakan banyak penulis lainnya, yaitu menulis, menulis, dan menulis. Untuk sukses, ya menulis terus, dengan banyak membaca, mengikuti penulis-penulis sukses lain bagaiman caranya mereka bisa sukses. Dan saya belumlah sukses, “saya masih pemula,” jelas saya, dengan sesekali melihat operator Dara yang manis dan Riza yang tampan.

“Mungkin ini menjadi sms terakhir yang kita baca, sebab waktu sudah habis. Ini ada sms dari Zoya,” kata Riza. Dia menanyakan, “apa harapan Makmur ke depan jika sudah menjadi cerpenis terkenal?”

Apa?! Sebelumnya, aminnnnnn! Maka jika saya sudah terkenal, dengan tidak memperkenalkan diri, tapi terkenal karena tulisan, maka saya harus mengabdi pada Aceh. Sebab saya orang Aceh, harus berterimakasih pada orang Aceh. Bukankah apa yang kita (penulis Aceh) tulis berdasarkan apa yang dialami masyarakat Aceh?

Saya jika sudah mahir, berniat untuk mengajari orang lain yang benar-benar fokus ingin menulis. Orang-orang yang ingin menjadikan menulis sebagai jalan hidupnya. Bukan menulis hanya sekadar obsesi. Menulis ketika suka saja. Dan, berharap, semoga saya tak sombong, meski banyak orang mengatakan saya sombong. Maaf, jika saya benar sombong. Maaf juga, jika saya tak sombong.

Tak terasa, waktu berbagi di Galeri Ramaja bersama Seulaweuet FM sudah habis. Dari jam 2.30 sampai jam 3.30. Cuma satu jam saja, padahal saya ingin lebih. Namun saya merasa senang sudah berbagi, walau hanya sedikit.

Ada banyak hal lain dari talkshow tersebut yang tak saya tulis di catatan ini. Saya lupa. Maaf, heheh.

Terimakasih kepada Seulaweuet 91 FM. Spesial kepada penyiar, Riza yang tampan dan operator sekaligus produser yang manis, Dara. Tak mau saya sebutkan nama lengkapnya, hehe. Terimakasih pula kepada penanya dan pendengar. Sampai jumpa lagi di lain waktu.

“Ada yang minta nomor hape Makmur Dimila nih,” kata Riza dengan menunjukkan smsnya. Fans mungkin. Atau…. Entahlah. Terimakasih juga telah mau meminta nomor hape saya.[]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

10 thoughts on “Satu Jam Saja di Udara”

  1. Hihi…
    jadi malu…
    Keren2..
    tp, da terjadi fitnah nie terhadap sang host,.
    😀

    Tp yg jelas,.. 91FM mngucapkan syukran dah mau memenuhi Undangannya..
    InsyaALLAH, lain X akan di undang gi,..

    Trus lah menulis,.

    1. Bener dari mana’a..
      pipet??
      menara mesjid raya??

      tp bgus lah…pling nggak saya bangga…hoho

  2. Haha.
    Pokoknya seperti yg saya katakan. sy jujur. menurut sy anda ganteng, bisa tidak menurut orang lain.
    Sama juga seperti : tulisan anda menurut saya bagus, tapi tidak menurut orang lain. 🙂

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s