Jatuh Cinta pada Gam Cantoi

Rambut kribo. Hidung setengah segitiga. Dagu runcing. Perut buncit. Badan kurus tinggi. Selalu mengenakan sarung kotak-kotak sepaha dan sepatu bergigi. Paling khas, ada sehelai rambut bergelombang di kapala bagian depannya. Yang demikian, adalah Gam Cantoi. Tokoh karikatur harian Serambi Indonesia karya M.SAMPE eDWARD.S.

Agaknya tak ada orang selain saya yang mampu menirunya. Eh, salah ya apa yang saya bilang? Tidak! Saya pernah dan nyaris sama seperti yang M.SAMPE bikin. Itu saya lakukan sewaktu duduk di bangku MTsN Delima dan MAN 1 Sigli. Ada teman saya dari kedua sekolah tersebut yang baca catatan ini, mungkin akan bersaksi. Hehe.

Begini ceritanya. Dulu, sewaktu saya sekolah di MTsN Delima, setiap pulang sekolah saya membaca koran di kedai kampung. Cuma ada Serambi Indonesia saat itu. Yang pertama saya cari adalah Gam Cantoi, rubrik karikatur di harian tersebut. Selain gambarnya yang lucu, makna dari cerita yang disampaikan dalam karikatur itu juga sangat lucu. Kocak abis! Terkadang memang multitafsir cerita yang disampaikan melaui Gam Cantoi sebagai tokoh utama, didampingi istri, dan anak-anaknya. Pesannya mengandung filosofi.

Nah, karena saking sukanya, saya mencoba meniru dengan menggambarkannya di buku tulis atau buku gambar. Mulanya memang tak mirip, ia susah ditiru. Tapi lama kelamaan, saya bisa. Dan ketika kelas tiga MTsN, ada mata pelajaran Kesenian di bawah asuhan Pak Sayed (orang Ilot). Ketika diminta membuat gambar tiga dimensi, saya memuat tokoh Gam Cantoi dalam gambar saya. Saya lukiskan Gam Cantoi sedang duduk di warung kopi dan berbicara dengan Bill Clinton (mantan Presiden AS) yang berkunjung ke Aceh. Karikatur tersebut telah dimuat, saya mencoba menggambar ulang saja.

Kemudian, saya mendapat apresiasi dari Pak Sayed. Karena tertarik, ia mau menempelkan karya saya itu di dinding ruangan. Silakan, kata saya. Saya senang sekali. Karikatur terus dipajang, mungkin sebagai kenang-kenangan. Terakhir mendengar kabar kalau Gam Cantoi masih terpajang di ruangan kelas saya dulu pada awal 2009, melalui sepupu saya yang juga sekolah di MTsN Delima.

Saya makin jatuh cinta. Karena itu, saya menyambung hobi itu sampai ke jenjang SLTA, yaitu saat belajar di MAN 1 Sigli. Setelah vakum dari membuat Gam Cantoi selama dua tahun—selepas tamat MTsN sampai mau naik kelas 3 MAN—saya kembali “berulah”. Bahkan kali ini lebih gila.

Saat itu saya penasaran sama sang pencipta Gam Cantoi. Idenya tak buntu-buntu. Hampir setiap hari menghasilkan karikatur yang pesannya membuat pembaca dan penikmat geleng-geleng kepala bertanda kagum. Karena itu, saya mempelajari cara ia dapatkan ide. Dan, saya memperolehnya sedikit.

Nah, mulailah saya beraksi. Di sela-sela belajar, saya menggambarkan Gam Cantoi tanpa melihat contohnya lagi di Koran. Saya sudah hafal rupa Gam Cantoi dan keluarganya, hanya sesekali saya harus merujuk pada yang asli.

Ketika ada kejanggalan di seputaran MAN 1 Sigli, saya meruahkan suara hati dalam karikatur Gam Cantoi. Tokoh pendampingnya adalah target cerita saya. Misal ada guru yang dibenci siswa karena kebijakannya, lalu saya jadikan guru tersebut sebagai lawan Gam Cantoi. Lalu kami tempelkan di mading. Saya tulis di sudut atas gambar: Oleh M.SAMPE LEWARD atau BEK SAMPE LEWARD. Mohon maaf Bang M.SAMPE. Saya cuma bermaksud, bahwa JANGAN SAMPAI MELEWATI karikatur olahan saya di mading untuk dibaca dan dilihat.

Kapaih kah (Sudah bagus) Mur, calon penggantoe (calon pengganti) M.SAMPE. Wa uroe teuk ka takalon nan jih bak (Tak lama lagi kita liaht namanya di) Gam Cantoi Serambi,” komentar Tuanku Muksalmina, kawan sebangku yang berasal dari Lamlo, Sakti. Namun sampai hari ini kami (teman-teman MAN) tak bisa melacak kabarnya.

Uniknya, ada beberapa siswa yang tak peduli lagi pada Gam Cantoi yang saya tempeli di mading. Eit, bukan karena jelek. Tapi mereka mengira kalau itu adalah Gam Cantoi asli yang sudah dimuat lalu difotokopi untuk ditempel di mading. Perkiraan mereka salah besar. Padahal itu saya yang bikin!

Mereka (selain dari kelas saya) baru yakin kalau saya yang membuatnya jelang ujian akhir. Seperti biasa, diadakan lomba menghias ruangan dan taman sebelum ujian akhir. Ini kesempatannya, saya pikir. Kawan-kawan seperti Tuanku, Mukhsin, Afdal, Amar, Muna, Munjiah, Rea, Misna, dan lain-lain mendukung saya. Maka saya gambarlah Gam Cantoi di dinding kelas.

Saya melukis Gam Cantoi pada dinding yang putih itu dengan posisinya sedang duduk. Buku-buku menumpuk di atas meja. Ia sedang membaca buku, seraya sebelah tangannya mengacungi jempol. Ukuran gambarnya menghabiskan  seperempat dari satu sisi dinding bagian belakang, atau berhadapan dengan meja guru. Kami pun meraih salah satu dari tiga urutan juara yang disediakan. Dan, terakhir saya mendengar kabar kalau Gam Cantoi masih terpajang di dinding tersebut pada pertengahan 2010, melalui sepupu dan adik leting saya di MTsN yang melanjutkan ke MAN 1 Sigli. Entah dengan hari ini. Biarlah itu menjadi kenangan. (Bersambung ke Frank Lampard . . .)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

5 thoughts on “Jatuh Cinta pada Gam Cantoi”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s