Rapai Tunang dan ‘Bubrang’ untuk Calon Bupati

Ratusan pasang mata menatap selusin pria menaiki panggung berukuran sekira 9 x 5 meter. Umumnya berusia tua. Lalu bersimpuh di alas panggung dengan membenamkan gendang rapai di depan lutut. Pun begitu dengan pemimpin tim (syeh) yang duduk di tengah-tengah mereka, sehingga membentuk formasi setengah persegi dan tampak rapi. Mereka adalah kru Sanggar Rapai Tuha Lamreueng yang hendak menampilkan rapai top daboh.

Sebelum mereka beraksi pada pembukaan acara rapai tunang (lomba rapai) di lapangan sepakbola Desa Lamreueng, Kecamatan Krueng Barona Jaya Aceh Besar itu, Apa Kaoy sang pembawa acara berjanji akan mempersembahkan hiem kepada hadirin pada Jumat (3/6) malam itu. “Siapa yang bisa menjawab akan saya berikan ayam betina,” kata pria gondrong bernama asli M Yusuf Bombang itu, sembari mengatakan dia tak akan berbohong.  “Layaknya pemimpin yang (seharusnya) tak boleh menipu rakyat,” sambungnya.

Sejurus kemudian, pasukan Sanggar Rapai Tuha mengawalinya dengan melantunkan lafaz Assalamualaikum. Lalu mereka menabuh gendang rapai. Serentak. Syeh mengiringinya dengan melantunkan syair-syair pujian.

Perhatian penonton tertuju pada lelaki berkaos biru dan bertubuh kecil tatkala ia naik pentas beberapa menit kemudian. Mulanya ia menyalami satu per satu para penabuh rapai. Lalu ia mengambil gerinda yang sudah disediakan panitia. Sudah itu, usai berjoget perlahan mengikuti irama syair sebentar, dia mengebor gigi dan mata kirinya. Tak cukup puas dengan mesin bor beton, ia kemudian menusuk paha dan lengan dengan sebilah rencong. Masih tak mempan juga, lalu ia memukul lengannya dengan rantai besi. Sinar blitz kamera wartawan pun menyambar panggung, bagai ditetak petir.

Sebentar kemudian, seorang pria lain naik pentas. Ia menggantikan lelaki tadi. Kini giliran pria bertubuh ceking dan mengenakan kemeja putih lengan panjang itu beraksi. Ia menampilkan atraksi hampir sama dengan yang ditunjukkan pria pertama tadi.  “Andai saja benar-benar terluka, tapi semoga tidak,” desis seorang penonton. Namun pada akhirnya, kedua  lelaki itu tak sampai lupa pada triknya, sehingga berimbas pada hilang kekebalan.

Kolaborasi tim Sanggar Rapai Tuha itu cukup memukau ratusan penonton, sekaligus melengkapi pembukaan festival rapai se-Banda Aceh dan Aceh Besar dalam rangka HUT Sanggar Rapai Tuha Lamreueng.

“Tujuh kontestan dari Aceh Besar dan Banda Aceh mengambil bagian pada lomba rapai pertama di Lamreueng ini,” kata Isyafuddin ketua panitia, Jumat (3/6) malam. Malam pertama tampil tiga, sisanya pada Sabtu (4/6) malam. Mereka bersaing untuk memperebutkan hadiah berupa kambing, yakni kameng gasi (kambing kebiri), kameng landok (kambing jantan yang tak dikebiri), dan kameng dara (kambing betina).

Penonton sudah menunggu dari tadi, Apa Kaoy pun kembali berdiri di bibir panggung. Ia siap memukau penonton dengan guyonan ringannya. Dilibatkannya emosional pembaca dengan mengatakan bahwa siapa bisa menjawab hiem darinya akan mendapatkan hadiah seekor ayam betina. “Kita juga akan menantang Pak Harmaini Harun (calon bupati Aceh Besar) dan Buk Dewi Mutia (istri Wagub Aceh) jika beliau hadir malam ini,” janji Apa Kaoy yang memakai topi rajut.

Hiem pertama dari lelaki berkulit hitam itu tak bisa dijawab penonton. Lalu diberikan hiem khusus buat Harmaini Harun. Salah satu calon bupati Aceh Besar itu duduk di barisan tamu undangan: di bawah teratak, di muka panggung. Apa Kaoy menantang sang calon naik panggung. Lelaki yang kelihatan tua dan berpeci hitam itu menerima tantangannya.

Harmaini minta mengulangi pertanyaan tatkala berada di panggung. “Na sipeu-peu peuneujeut Tuhan/ Babah jih na punggong jih tan/ Eumpeun jikuran ubit ngon raya. Nah, apakah jawabannya?” tanya Apa Kaoy, yang dalam bahasa Indonesianya kira-kira, “Ada sesuatu ciptaan Tuhan/ Mulutnya ada anusnya tiada/ Mangsa diterkam kecil maupun besar.”

“Bubrang,” sahut Harmaini dengan menyungging senyum. Bubrang atau berang-berang adalah sejenis musang pemakan ikan, baik kecil maupun besar dan tak memliki anus. Apa Kaoy mulanya pura-pura tak dengar jawaban sang calon bupati dengan mempertanyakan, “Bu blang?” Baru pada ucapan ketiga, Apa Kaoy mengakui kebenaran jawaban Harmaini. Maka diberinya hadiah berupa seekor ayam betina yang sudah dikeranjangkan. Terlepas dari niat tebar pesona, sang calon bupati kemudian menyerahkan langsung hadiah tersebut kepada ketua pemuda Desa Lamreueng.

Dengan bercanda, “rakyat jangan salah memilih pemimpin nanti. Jangan pilih yang seperti bubrang. Besar-kecil dilahapnya,” begitu kira-kira tutur Apa Kaoy dalam bahasa Aceh. Tawa sang calon bupati dan segenap penonton pecah malam itu. Lalu Harmaini turun, Apa Kaoy melanjutkan tugasnya sampai tuntas, meskipun istri Muhammad Nazar tak bisa hadir malam itu.

Masyarakat Lamreueng sebagai roda, Sanggar Rapai Tuha sebagai sopir, telah menggerakkan hegemoni budaya Aceh. Mereka termasuk orang-orang yang sadar akan adat dan budaya daerah sendiri. Mereka telah berusaha menghidupkan kembali rapai tunang meski pesertanya bisa dibilang amat berkurang.

“Diadakan pentas seni ini supaya kita bisa mengingatkan kultural-kultural yang kita punya. Tidak sama hal ini dengan negara maju lain. Saya mewakili Pemerintah Daerah yang harus bertanggung jawab atas budaya-budaya yang ada di Nanggoe Aceh Darussalam,” kata Wagub Aceh Muhammad Nazar kepada wartawan pada Sabtu (4/6) malam yang dingin.[Makmur Dimila]

(Feature HA 13/6/11)

 

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s