Juri Muda lagi Tampan

Gemuruh angin kencang yang melanda kota Banda Aceh tak mengalahkan nada dering hape saya ketika dihubungi Riza Rahmi. Membaca nama ketua umum Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh ini, saya menduga kalau ia akan menawarkan saya sebuah job yang menggembirakan hati.

Kata dara yang menurut saya terlihat begitu cantik ketika mengenakan baju dan kerudung hijau daun itu, “Makmur, mau jadi juri?” Hah! Saya tak pernah jadi juri apalagi menyalami juri karena menang lomba. Tapi hari ini saya ditawarkan menjadi juri. Ia tak bercanda.

Saya kepikiran, juri untuk lomba apa? Juri lomba nyanyi? Lomba makan cabe rawit? Lomba bercinta atau lainnya?

“Untuk juri lomba menulis karya ilmiah populer di Unsyiah Fair,” katanya. Sebenarnya panitia meminta Riza mewakili FLP, tapi dara yang disapa Bunda Riza oleh rakyat FLP itu lagi ada acara penting. Ia tak bisa penuhi permintaan itu. “Jadi, saya mengutus Makmur, gimana?” tanya Riza pada Rabu (15/6) siang yang riuh itu, riuh oleh angin kencang yang menampar-nampar atap rumah warga.

Kemudian ia menjelaskan lebih rinci, seperti seorang ibu mengajari anak perempuannya cara menanak nasi yang enak, sehingga siap berumah tangga.

Kalau saya terima tawarannya, maka pada Rabu (15/6) sore saya harus ke Unsyiah. Nanti saya akan menemani dua juri lainnya: dosen FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia serta dari FKIP MIPA.

Di sana, saya yang mahasiswa semester 4 di IAIN Ar-Raniry akan menyejajarkan bahu dengan kedua dosen itu untuk briefing sebelum acara penilaian pada Jumat (17/6) pagi, 2 hari kemudian.

Lalu pada pagi itu saya duduk bertiga di depan peserta—mahasiswa—lomba. Kami menyimak setiap presentasi peserta tentang apa yang ditulisnya, sesuai peraturan lomba. Setelah menyeleksi dengan baik, saya yang mungkin sekali bakal membuat iri peserta karena melihat saya sebagai seorang juri yang terlalu belia dan tampan bagi mereka, hehe, kami memilih-milih pemenangnya. Tak lama kemudian, saya diberi sertifikat sebagai juri lomba penulisan, yang pertama! Lalu, saya pun ternobat sebagai juri muda, lagi tampan. (Jampok).

Ah, begitulah saya membayangkan jika saya menerima tawaran Riza, mungkin sebuah khayalan tingkat rendah saya.

“Kenapa harus Makmur, Kak?” tanya saya menyelidik alasannya. “Karena Makmur sering nulis artikel di Koran,” sahutnya, mantap. O, begitu. Saya senang sekali mendengarnya. Saya ingin: menyejajarkan bahu dengan juri lainnya yang jauh lebih tua dan tentu menjadi juri lomba menulis yang pertama dalam hidup saya. Bukan mencari nama atau ketenaran, tetapi untuk menyelami samudra kejurian dan menambah pundi-pundi pengalaman.

“Tapi, Bunda, nanti sore Makmur ada ujian final di kampus. Demikian juga pada Jumat, paginya saya ada midterm tes. Saya harus rajin kuliah jelang ujian akhir,” saya beri alasan dengan lemah lembut. “Bisa jadi saya dapat nilai bagus ketika sering masuk kuliah jelang final,” sambung saya dalam hati.

Saya tak mendengar nada kecewa dari Riza. Dia perempuan pemaklum. Kemudian saya sarankan untuk dilimpahkan ke bang Yuli Rahmad, yang di mata saya lebih pantas dalam situasi saya seperti ini. Hehe.

Terimakasih Bunda dan FLP Aceh telah mempercayai saya, seorang anggota yang bergabung pada Agustus 2010, namun malas atau kurang aktif berorganisasi. Saya akan mencobanya di lain kesempatan.

Namun, kemasan cerita di atas tak membuat saya gagal jadi juri muda lagi tampan.

Beberapa hari sebelumnya, Nurkhalis minta saya untuk juri lomba menulis. Nurkhalis, alumni Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry dan menuliskan diri sebagai pemerhati sosial pada status penulis di opininya yang dimuat Serambi Indonesia. Ia bekerja di sebuah LSM bidang pemberdayaan perempuan di Banda Aceh. Kebetulan, LSM tersebut mengadakan lomba menulis bagi karyawannya sendiri dalam rangka memperingati HUT LSM itu. Bisa dikata, Nurkhalis mandornya lomba.

Saya menerima tawarannya. “Juri kecil-kecilan aja,” katanya pada Senin (13/6).  Saya menyanggupinya. Kecuali peserta tak banyak, deadline (tenggat waktu)nya pun tergolong lama.

Dan, pada sekeping Rabu (15/6) malam yang baru saja diguyur rinai hujan, Nurkhalis temui saya di sebuah warung kopi yang agak lengang. Diantarnya (begitu memuliakan) naskah lomba pada saya. Ada belasan judulnya. Terdiri dari puisi, cerpen, dan opini/artikel.

Maka sejak malam itu, sah atau tidak, saya sudah menjadi seorang juri lomba menulis. Juri yang muda lagi tampan. Hehe. Ada yang mau bantu temani saya menilainya?[]

 

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

8 thoughts on “Juri Muda lagi Tampan”

  1. Hahhaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
    Ada 79 huruf “o” di komentar bung Zol, sehingga han let layar komentar jih.
    Dan itu bermakna, kadar ketidakjampokan saya adalah 79 %…… Hah hah hah

  2. Menyesal karena suatu waktu tak mengatakan, “Mur, aku dipercaya jadi juri lomba menulis di sebuah kampung. Aku masih muda dan sangat rupawan, bukan?” hahahhahaha

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s