Solek

Di dalam kamar, Aya berkemas-kemas. Ia bercermin. Melumuri mukanya dengan bedak, hingga tampak mukanya saja yang putih. Sebentar lagi ia keluar, hendak ke pasar. Ia ingin menunjukkan pada lelaki kalau ia cantik (selama bedak masih menempel di wajahnya).

Sementara itu, Po Ramlah emaknya, sedang bersih-bersih di halaman rumah. Karena esok hari akan datang saudara jauh, dari Medan, nanti enggak enak dilihat tamu kalau kotor. Bersih-bersih itu merupakan yang pertama setelah khanduri moled tiga bulan lalu.

Lain lagi dengan Apa Syat ayahnya. Ia sedang bergotong royong di halaman meunasah, juga di tepi-tepi kali dan jalan raya, bersama penduduk lainnya. Maklum saja, Gampong Buhak akan mengikuti lomba kebersihan dan keindahan kampung jelang tujuh belasan. Mereka ingin merebut juara, caranya membuat Gampong Buhak sebersih dan seindah mungkin.

“Itulah tiga contoh tindakan sosial,” kata Je. Ia mengetahuinya usai mendengar kuliah dari Pak Bus sang pemerhati sosial. Kata Pak Bus, tindakan sosial adalah tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. Contohnya, seperti yang Je uraikan di atas. “Hana mangat kalon lee jamee menyo kuto (Tak nyaman dilihat tamu kalau kotor),” katanya. Lihatlah sesudah even (peringatan/perayaaan/acara) berlangsung, semuanya kembali ke habitat: kotor lagi.

Ada yang paling sering terjadi di masyarakat, “kaum ibu ketika di rumah,” kata Pak Bus. Ya, biasanya seorang istri yang sudah lama berhubungan dengan suaminya dimana mereka sudah bercucu, sering sang istri tak lagi merias diri ketika berbaur dengan suami. Berlaku juga pada perempuan yang baru kawin.

Misal usai masak-masak, bersih-bersih, ia layani suami. Maka suami pun  bersin-bersin. Bisa jadi istrinya bau bawang, bau ketiak, karena belum mandi. Tapi lihatlah ibu-ibu kalau keluar rumah. Katakanlah mau hadiri arisan, pesta atau samadiah, mereka memoles diri secantik mungkin. Dikenakannya pakaian terbagus dan terbaru. Bahkan, sengaja beli pakaian baru hanya untuk hadiri pesta. “Penyebabnya?” Tanya Ari. Mungkin, “ga enak dilihat sama tetangga.” Atau, “memang dia doang apa yang mampu beli baju sebagus itu,” jawab Je, meniru alas an sebagian ibu-ibu.

“Kini kita bahas kebiasaan remaja putri Aceh,” sebut Je.  Perhatikan perempuan pada jilbab bagian depannya. Ia tak jarang menyisir rambut di bagian dahi yang terbalut jilbab, dengan tangannya sambil matanya berusaha melihat pangkal rambut. Atau ketika di ruang belajar, seorang siswi akan mencuri momen tepat untuk bisa lhoh droe (bercermin) pada sepotong kaca cermin yang sengaja dibawa. Mungkin juga mereka bawa wewangian ke sekolah.

“Lalu,” sambung Ari sambil menyeruput teh hangat di kantin kampus, “apa yang harus dilakukan?” Apa ya? “Ya, mereka harus sadar diri. Mereka harus berpenampilan sewajar saja. Memuaskan kepada siapa yang patut dipuaskan. Namun, jangan juga jadi perempuan lagee pliek (berantakan).”  Hahaha. Beberapa mahasiswi di kantin menatap mereka dengan sinis dan marah.[]

(CP HA 20/6/11)

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

1 thought on “Solek”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s