Wahai Gubernur

Gubernur Aceh dianggap banci. Irwandi Yusuf dibilang pembohong. Orang nomor satu Aceh itu dituduh pembunuh. Dokter hewan itu dikata pengkhianat. Dan lainnya. Begitulah resiko menjadi pemimpin. Setelah dipilih dan duduk di kursi provinsi, lalu rakyatnya sendiri yang mengguncang-guncangkan pahanya. Istilah lain, “Wahai Gubernur Irwandi, turunlah segera!”

Sumpah-serapah itu wajar diterima seorang gubernur. Apalagi jelang masa berakhir kepemimpinan, Irwandi Yusuf semakin dicaci rakyat karena belum juga membuat (sebagian) rakyat sejahtera. Dari segala penjuru kampung di Aceh memaki-makinya.

Kiranya Irwandi Yusuf juga maklum ketika hampir setiap hari ada yang mendemo kebijakannya. Ia tak boleh marah, karena ia publik figur dan orang kepentingan rakyat. Dan lagi, ia harus menganggap situasi itu sebagai hukum karma yang sedang menimpa dirinya. Semasa mahasiswa dulu, tentu ia begitu aktif juga memrotes kebijakan pemerintah. Bersuara lantang menentang ketidakadilan. Bisa jadi hal ini akan dialami oleh para pendemo Irwandi Yusuf selama ini suatu saat nanti ketika mereka sudah berada di atas.

Dan bila dipikir-pikir sepintas, sungguh Irwandi Yusuf saat ini ibarat kepala manusia dengan rambut baru dipangkas. “Rambut lurus dicukur habis supaya tunas baru leluasa tumbuh. Jika kemudian keluarnya keriting, itu sebuah tindakan yang salah, dan patut disesali.” Begitu tulis saya di status akun Facebook pada 25 Mei 2011.

Lalu ada yang balas, “kalau tak keluar lagi?” Jawab saya, “lebih konyol. Sangat rugi. Ibarat pemimpin yang dipilih oleh rakyat dengan yakin sekali akan menyejahterakan mereka, tapi nyatanya kemudian malah menyengsarakan rakyat.”

Masyarakat Aceh dulunya sangat yakin kalau Irwandi Yusuf akan menyejahterakan rakyat. Tahun pertama memimpin, prediksi rakyat hampir mendekati kebenaran. Namun satu-dua tahun kemudian, bahkan sampai tahun terakhir masa kepemimpinannya, masyarakat malah harus menelan ludahnya sendiri. Mereka seakan-akan ibarat membeli senjatan api lalu menembak diri sendiri. Pahit sekali.

Namun begitu, tak selamanya Gubernur Aceh harus dinilai negatif. Kebijakan positif juga lahir dari buah pikirnya. Seperti program Jaminan Kesehatan Aceh meski dalam pengurusannya susah-susah gampang. Ada juga program Aceh Green untuk melindungi hutan Aceh dari illegal loging. Investor asing juga dirayunya untuk bekerjsama demi berkembang perekonomian Aceh.

Hanya saja, gebrakannya itu belum atau kurang berhasil. Atau mungkin saja dapat dibilang sukses, tapi kesuksesan itu tertutup oleh banyak tindakannya yang berbuah kritikan dan hujatan rakyat. Bukankah pada umumnya, orang-orang akan mengingat keburukan orang lain meskipun sekali saja keburukan itu dilakukan. Dan bukankah pada umumnya, orang-orang akan mengingat keburukan orang lain meskipun banyak hal baik telah dilakukannya.

Ada baiknya kita menelaah lebih dalam, apa yang dilakukan pemimpin ketika malam hari. Apakah seorang gubernur seperti Irwandi Yusuf keasyikan tidur pada malam hari karena kecapaian ke sana kemari pada siangnya atau malah sengaja tidur lebih dini? Ataukah dia hana eh malam (tak tidur malam) karena memikirkan rakyatnya. Ataukah ia salat sunat tahajud setiap malam, lalu berdoa: bagaimana lagi saya harus menyejahterakan rakyat saya ya Allah… Atau: bagaimana lagi saya harus membuat rakyat makin sengsara ya Allah.. Tapi ah, tentu seorang pemimpin akan memikirkan dan mendoakan yang baik-baik kepada rakyat dan wilayah yang dipimpinnya.

Jika seorang Gubernur Aceh sudah berusaha dan berdoa, seperti kata Rene Descartes, “ora et labora”, namun belum juga sejahtera. Kita cuma bisa menjawab, mungkin saja Gubernur Aceh belum mendapatkan momen baik yang ditunggu-tunggunya. Mungkin saja, seperti kata sebagian kecil orang, melihat kepemimpinan seseorang yang sesungguhnya adalah pada periode kedua kepemimpinannya.

Anggapan tersebut sepertinya ada tanda-tanda kebenaran. Lihatlah Presiden SBY di periode kedua kepemimpinannya, mendapat banyak kritikan belakangan ini. Padahal pada periode pertama, SBY disebut-sebut sebagai presiden terbaik Indonesia. Tapi persepsi itu pecah pada jilid dua kepemimpinannya. Pada cerita Irwandi Yusuf tadi, bisa saja ia sebaliknya: periode pertama dimaki-maki, dan pada periode kedua jika terpilih lagi, ia malah dipuji-puji karena memimpin dengan sangat baik. Dan bila itu terjadi, doanya pasti sudah terkabulkan jika ia ada berusaha dan berdoa.

Saya tidak membela dan tidak pula menghujat Gubernur Aceh. Saya berada pada jalur tengah. Ibarat wasit yang benar-benar netral: ada saatnya mengeluarkan kartu kuning dan kartu merah. Saya sebagai anak muda Aceh patut melengkingkan peluit  ketika di lapangan terjadi sesuatu dan harus dihentikan pertandingannya. Seorang wasit juga punya perasaan, maka menulis ini karena saya mengontrol perasaan saya. Juga mengontrol apa yang ada di balik fakta seputar Aceh melalui pengamatan batin dan mata.

“Tidak mempunyai kontrol atas perasaan adalah seperti berlayar di suatu kapal yang tidak berkemudi, yang akan pecah berkeping-keping ketika terbentur batu karang yang pertama.” Begitu Mahatma Gandhi pernah bertutur.[]

Penulis adalah alumnus Muharram Journalism College Banda Aceh

(Analisis HA 22/6/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

4 thoughts on “Wahai Gubernur”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s