Jaga Malam

“Jaga malam jelang Pemilu bukan tugas rakyat, tapi tugas pendukung dan tim sukses masing-masing calon. Biarkan rakyat tetap tak ngantuk saat mencari nafkah. Jagankan korbankan rakyat demi kuasa. Jangan bebankan keamanan Pemilu pada rakyat. Jangan bebankan jaga malam pada rakyat. Jaga malam proyek sengsara rakyat,” Brahim membaca sms pembaca di sebuah surat kabar. Katanya, “keren that kata-kata jih.”

Karena ini jelang Pemilu di Aceh, rakyat wajar berkomentar demikian ketika diminta berlakukan jaga malam di kampung-kampung demi terciptanya keamanan. Namun salahnya juga, kenapa tak dianjurkan jauh-jauh hari sebelum menjelang Pemlilu. Namun kemudian, “Bukankah lebih baik menhindari umpan daripada harus bergulat dalam perangkap,” bantah Je mengutip pernyataan John Dryden.

Beberapa orang yang meronda di pos jaga Gampong Buhak malam itu tersentak. Selain Je, Brahim dan tiga warga lainnya juga ada Apa Syat ayahnya Siti. “Hai, calon Yah Tuan kah hana meuphom yang kah peugah (mertua kamu tak paham apa yang kamu katakan),” bisik Brahim pada Je yang mencintai Siti.

Meunoe, kita jaga malam supaya kampung kita aman. Setidaknya pencuri takut masuk kampong. Istilah lainnya, “sedia payung sebelum hujan,” jelas Je kemudian, dimana malam itu merupakan malam keduanya di kampung menghabiskan masa libur kuliah, dan kebetulan, di kampungnya sedang ada kegiatan meronda yang baru dijalankan.

Sambil wot bubor (mengaduk bubur) dalam kuali di sisi pos, Si Tus yang baru lulus sma berkata, “Jika anda tak kaya, anda harus selalu tampak berguna hai Apa Syat….” Ia mengutip penuturan Thomas Bird Mosher. Maksudnya, “sudah miskin, kita jangan malas. Kita harus membantu orang lain supaya kita berguna di mata orang lain,” kata Brahim. Contohnya, “ya… bantu-bantu jaga malam dengan ikhlas, dengan niat kampong kita akan aman. Dan orang-orang akan bantu kita jika nanti kita kena musibah. Jangan sampai, orangtua kita mati, tak ada yang mau bantu gali kuburan,” kata Je pada malam yang dingin.

Boh ka. Sebenarnya, “malam tak sanggup kita jaga. Besok tetap akan pagi juga, siang juga, sore juga. Gak akan malam selalu,” kata Apa Syat, serius. “Jelaslah Apa Syat. Tapi, maksud jaga malam di sini bukanlah menjaga malam supaya tak lagi pagi, tapi menjaga suasana malam di kampong dari kekacaua. Misal tiba-tiba ada pencuri, kebakaran, tentu kita bisa bangunkan warga. Lagee hana tem..,” kata Si Tus.

Oke-oke. Apa Syat paham. “Hai, man kiban (bagaimana) dengan sms pembaca bunoe?” tanya lelaki bersusia 47 itu. “Saya setuju,” kata Je. Brahim, Si Tus, dan dua warga lain: Yus dan Syen juga mengangguk. Tapi kenapa kita jaga malam? Tanya Apa Syat lagi. “Jika anda tak kaya, anda harus selalu tampak berguna hai Apa Syat….” Jawab mereka serentak. Apa Syat tersipu dan lalu, mereka makan bubur kacang hijau.[]

(CP HA 24/6/11)

 

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s