Membangunkan ‘Beruang’ Tidur


Saya mendapat cerita dan ide bagus bagi media massa dan mahasiswa di Aceh pada Minggu (12/6/11) malam yang dingin. Dua hal ini baik untuk kemajuan dunia menulis di Aceh. Saya memerolehnya dari Zoehelmy ketika ngobrol dengannya malam itu. Ia adalah mahasiswa semester empat pada Jurusan Tafsir dan Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia putra asli Aceh kelahiran Kembang Tanjong, Sigli.

Satu argumen menarik diungkapkan Zoehelmy, “mungkin satu catatan saya mengenai greget menulis mahasiswa Aceh, tulisan-tulisan yang mengisi media-media Aceh masih didominasi oleh tulisan-tulisan dosen dan praktisi,” sembari mengakui kalau dia sering mengikuti kabar dan wacana di Aceh melalui media online di Aceh.

Berbeda sekali dengan di UIN Sunan Kalijaga. Di sana, mahasiswa dan dosen saling mengisi ruang yang disediakan media, terutama di Kedaulatan Rakyat, harian ternama di Jogja. Menurutnya, ada sekitar 30 % mahasiswa UIN Kalijaga sudah menembus media massa. Penulis dari mahasiswa umumnya berstatus aktivis.

UIN Sunan Kalijaga punya 7 fakultas. “Katakanlah,” sebut dia, “per fakultas ada 10-20 orang yang menulis. Maka lebih kurang seratusan mahasiswa di UIN Kalijaga bisa menulis untuk koran,” sambungnya. Kata dia lagi, untuk menggalakkan mahasiswa menulis, setiap komunitas atau lembaga pada setiap fakultas di UIN Kalijaga menerbitkan buletin, majalah atau media lainnya.

Saya bilang, mahasiswa di Aceh yang menulis untuk koran bisa dihitung jari. Makanya, tugas kita yang sudah mulai menulis adalah, “bisa membangunkan ‘beruang tidur’ pada diri mahasiswa-mahasiswa Aceh lainnya,” kata Zoehelmy. Ini merupakan satu kalimat paling seksi darinya yang saya petik dari diskusi malam itu: membangunkan ‘beruang tidur’.

Kemudian, Zoehelmy yang sudah dua kali menembus salah satu rubrik opini di salah satu surat kabar Aceh mengatakan kalau dia belum mampu menembus media Yogyakarta, sebab saingannya berat. Namun, yang paling berkesan baginya adalah seorang kawan seangkatannya sudah menjadi kolomnis Jogja Raya. Seminggu empat kali diminta tulisannya. Padahal sebelumnya, kawan Zoehelmy itu sudah lebih seratus kali tulisannya ditolak media.

Itu pula obrolan berkesan bagi saya, mungkin juga sebagai motivasi bagi kita, bahwa si kawan Zoehelmy itu terus menulis sampai-sampai diminta jadi kolomnis. Nyaris sama dengan JK Rowling pengarang Harry Potter, yang naskahnya ditolak puluhan penerbit sebelum diterima penerbit tak ternama lalu mendunia karyanya. Luar biasa kesabaran mereka.

Satu Perbandingan

Bila dibanding-bandingkan dengan perkembangan kepenulisan mahasiswa Aceh hari ini, sungguh kita ketinggalan rel. Jauh sekali mengekor di belakang UIN Sunan Kalijaga. Bahkan asapnya kenalpotnya pun tak terlihat dan terhisap.

Soal mahasiswa Aceh yang menulis di surat kabar, bisa dihitung jari. Khusus untuk artikel atau opini, tak sampai sepuluh. Kecuali untuk ruang fiksi yang lumayan banyak, puluhan.

Buah pikir saya, ada beberapa penyebab mahasiswa Aceh kurang berminat menulis di koran.

Pertama, mahasiswa tak berminat menulis. Alasan ini muncul karena tak ada motivator bagi mereka. Kalaupun ketika diusuguhi motivasi dan wawasan menulis melalui seminar-seminar, workshop, pelatihan, hanya sebatas itu saja semangat mereka muncul. Beberapa hari atau minggu usai acara, semangat itu raib.

Kedua, kurang perhatian dari petinggi kampus. Ada pihak kampus terkadang tak mau peduli soal mahasiswa bisa menulis atau tidak. Kalau mau menjadi penulis, “cari sendiri di luar,” mungkin begitu kira-kira jawab pihak kampus ketika ada segelintir mahasiswa yang menyarankan bikin pelatihan menulis.

Ketiga, tak ada media kampus. Seyogyanya, sebuah perguruan tinggi itu harus ada minimal satu lembaga kampus. Media itu bagus sebagai tempat mahasiswa belajar menulis. Ketika ada mahasiswa yang mulai menulis, tapi tak ada media kampus dan tak pernah dimuat kalau mengirimnya ke media massa, maka hendak dibawa kemana karya itu? Herannya lagi, ketika mahasiswa hendak minta bantuan terbitkan media kampus, ada sebagian pihak kampus yang tak mau bantu, lebih-lebih ketika minta bantuan dana.

Keempat, mahasiswa menulis tak diapresiasi. Seharusnya mahasiswa yang tak/belum bisa menulis cemburu pada yang sudah bisa menulis, sehingga mereka turut menulis. Tapi akan berbeda respon mereka yang belum bisa menulis ketika melihat mahasiswa yang sudah bisa menulis tak dapat apresiasi dari kampus. Tak ada penghargaan bagi mereka yang sudah menulis di media, sehingga menurunkan minat menulis mahasiswa lain.

Kelima, dosen sendiri tak menulis. Ini yang paling aneh. Bagaimana mahasiswa—kecuali yang punya kemauan tinggi—bisa menulis kalau dosen atau pengajar mereka sendiri tak pernah menulis. Akan ironi lagi ketika mahasiswa di fakultas yang fokusnya pada penyiaran, tapi dosen sendiri tak mau mencoba menulis, kecuali bersyiar melalui mimbar-mimbar.

Kelima ‘penyakit’ di atas dapat diusir bukan ke dukun bukan pula dengan meukaoy (bernazar), tapi semua pihak di perguruan tinggi sama-sama menjunjung tinggi dunia kepenulisan. Yang pasti, lima penyakit itu jangan didekati. Bagi yang sudah diidap, segera menyembuhi, jangan sampai menular dan tumbuh subur sampai mati.

Solusi lain, harus adanya dukungan pihak media massa. Setidaknya ada satu media di Aceh yang menyediakan kolom khusus bagi mahasiswa Aceh. Okezone.com sudah melakukan hal ini, mereka menyediakan kolom Suara Mahasiswa dimana pihak redaksi menentukan topiknya setiap seminggu sekali. Lalu mahasiswa se-Indonesia bebas mengirimkan karya ke kolom itu, namun tetap selektif.

Dengan demkian, membangunkan ‘beruang tidur’ pada diri mahasiswa kemungkinan besar akan dan harus berhasil. Sehingga mahasiswa Aceh berlomba-lomba menjadi mahasiswa yang mengisi kolom-kolom opini di berbagai media, apalagi dicantumkan foto penulisnya, tentu mahasiswa semakin tergoda untuk terus menulis. Mahasiswa pun akan lapar dan haus menulis serta ganas dalam berkarya. Semoga![]

Penulis adalah mahasiswa prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry angkatan 2009

(Artikel HA 26/6/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Membangunkan ‘Beruang’ Tidur”

    1. Terimakasih telah menyukainya. Salam kenal. Begitulah. Dan wajar menurutku, karan mahasiswa adalah tengah menjalani masa-masa pubertas. Kalau ia suka dan berniat mencoba menulis, ia tak banyak waktu untuk itu. Apalagi jika mahasiswa itu anak orang berada.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s