Aceh Malas

Kiban (bagaimana)? tanya Je pada Ari. “Lagee bhan meugule-gule, lagee rante meugisa-gisa,” sahutnya dengan wajah lesu, yang bila diindonesiakan bermakna: seperti roda berputar, seperti rantai bergulir.

Berkata demikian, rupanya Ari sedang menderita kanker (kantong kering). Sederhananya, tak ada uang. Ari sedang merindukan uang. Bukan untuk kawin, sehingga akan dikata “hana peng hana inong (tak ada uang tak ada istri). Tapi untuk bayar uang kuliah. Bayar SPP yang mulai naik. Ia pun minta bantu pada Je, yang ke sekian kali.

Sebenarnya Je tak mau bantu. Sejak setahun lalu ia selalu mendesak Ari cari kerjaan sampingan. Mulanya Ari tak mau. Tapi karena selalu didorong-dorong, ia tak tahan dan cari pekerjaan. Ari bekerja di doorsmeer, tetapi hanya dua minggu bertahan, karena tiada waktu untuk jalan-jalan atau main-main. Lalu kerja di warnet, cuma betah sebulan, karena tak tahan begadang sebab ia kena tugas malam sampai dinihari. Kemudian sebagai pelayan di restoran, hanya tiga bulan, karena tak ada kesempatan untuk jalan-jalan dan belajar serta gajinya tak sesuai: banyak bekerja daripada gaji. Setelah itu, Ari meraup rupiah di kios isi ulang pulsa, cuma sebulan, karena cemburu melihat pemuda-pemuda lain isi pulsa buat pacar dan jalan-jalan sama pasangan setiap malam. Sudah itu, sampai hari ini ia tak lagi bekerja. Beu-o! Malas!

Karena itu, kini Je mau bantu Ari. Bukan menyerahkan uang, tapi membawanya temui seseorang. Lalu di sana, “apakah kamu sudah siap menjaja roti ke kampung-kampung?” tanya seseorang itu pada Ari, kemudian. “Han long. Aceh lagi panas. Gak mau aku,” kata Ari.

Je cuma bisa geleng-geleng kepala. Heran, kenapa Ari begitu malas? Menulis pun tak mau dan tak bisa. Kalau bisa, Je akan menawarinya menulis buku. Lalu, “apa karena ayahnya dulu seorang pemalas?” gumam Je. Lihatlah di perkampungan, begitu banyak lampoh soh (lahan kosong). Tapi tak ada warga yang mengisinya, termasuk ayah Ari. Daripada berkebun misalnya, sebagian orang lebih suka wet-wet gaki bermalas-malasan di kedai kopi.

Lalu Je terpaksa meminjami lagi uang kepada Ari. Padahal utang sebelumnya tidak entah lupa atau belum dilunasi. “Sesama saudara kita saling berbagi, selagi bisa. Mungkin saja Ari belum mendapat petunjuk,” kata Je pada Si Him esoknya. “Peu petunjuk, sembahyang tan (tiada),” cibir Si Him yang sudah bekerja di fotocopy. “Nyan pih nyo chit. Ya juga.” sambung Je, dan tak lama kemudian berseru, “Hom lah.”

Jangan pasrah. “Bagaimana caranya kita ini bisa membantu orang Aceh malas lainnya?” tanya Brahim. “Serahkan kepada Pemerintah yang lebih layak. Dan bertawakkallah kepada Allah,” jawab Je, mantap. “Hom lah,” juga kata Si Him, yang kemungkinan ketika dibaca Pemerintah juga berkata, “Hom lah.”[]

(CP HA 27/6/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s