Pagi dengan Kopi Berserbuk Uang Tunai

Sudah jam 7 di Sabtu (8/7/11) pagi yang sejuk. Saat itu saya terjaga kedua kalinya setelah membuka mata sekali pada jam 6. Mengucek-ngucek mata lalu dari rumah panggung turun ke bawah. Menuju kamar mandi di rumah beton sampingnya dan mencuci muka. Lalu saya buka lemari kaca, tak ada kopi kampung pun kopi kota. (Kopi kota, sebutan saya untuk kopi instan dalam sachet).

Ah, saya naik lagi ke rumah berkonstruksikan kayu. Orang Aceh menyebut rumah seperti itu Rumoh Aceh, dekorasinya persis seperti yang terdapat di Kompleks Makam Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Namun tempat kami ini di Gampong Peurada.

Saya harus mengisi perut pagi ini. Sebab semalam juga tak makan. Tentu paginya harus disumpal perut setidaknya dengan segelas kopi hangat.

Maka saya meraih kunci motor. Kemudian turun. Memanasi Bunga (nama samaran sepeda motor saya). Sembari menunggu sampai dua menit mesin menyala dan membuat tubuh Bunga berguncang-guncang, saya membaca surat kabar lokal—seperti sebuah kewajiban bagi saya juga masyarakat Aceh lainnya kalau pagi itu harus baca koran dulu sebelum beraktivitas, kalau tidak, tak semangat kerja, kasihan Al-Quran.

Kemudian saya naik lagi. Melucuti celana pendek—tak etis bercelana pendek ke kota; kasihan anak gadis orang nanti menatap buah paha saya, hahaha. Saya pakai celana jeans biru donker, lengkap dengan sweater. Dan saya biarkan saja wajah alami alias belum mandi.

Saya menyalakan Bunga yang merah meriah itu. Dia tampak semangat meski belum menyeduh kopi pagi. Tapi tak dengan saya, Bunga. Saya ini manusia. Kamu cuma serpihan besi-besi tua yang dirancang sedemikian rupa. Oli, kopimu saban pagi. Bensin, nasimu setiap perutmu kosong. Dan asap, kentutmu setiap saat.  Brumm. Cihuyyyy..

Setelah melintasi jalan Peurada Utama dengan menyimak beragam aura wajah pagi yang lalu-lalang di jalan kota berdebu, saya parkirkan Bunga depan sebuah supermarket: tempat biasa penghuni Rumoh Aceh berbelanja.

Abang kasir menyenyumi dan begitupan saya; sebuah tanda kami akrab. Menuju rak berjejeran bubuk kemasan. Saya mau memilih kopi barang 5 sachet. Satu kemasan berlambang kapal menarik perhatian saya.

Kemasan itu dominan warna coklat dengan kuning kecoklatan setengah ke bawah. Juga sepetak warna kuning di bagian paling bawah. Di warna kuning itulah tertulis, “Temukan uang tunai hingga Rp 100.000 di dalam kemasan jika Anda beruntung”. Ditulis lagi di sisinya, “Siap-siap terkejut dapat uang tunai langsung”.

Ahha, saya harus mengambilnya, barangkali beruntung. Lagipun saya sedang krisis moneter meski bulan muda. Ada tiga kemasan bertuliskan demikian. Saya tak ambil ketiga-tiganya. Tapi saya raba-raba dulu kemasannya, saya tekan-tekan, memeriksa apa ada benda seperti lipatan uang barangkali di dalamnya. Ah, buat apa? Rezeki takkan ke mana, sebagaimana jodoh. Kemudian saya ambil satu saja beserta 4 sachet kopi selain bertuliskan uang tunai.

Di jalan, saya memaksa Bunga berlari sekencangnya. Jika biasanya dari supermarket itu 3 menit sampai ke Rumoh Aceh, maka bagaimana caranya tak lebih dari 3 detik. Sebab saya tak mau ketinggalan aksi pemain bola Amerika Latin dalam Copa Amerika 2011 di sebuah stasiun tivi swasta. Kebutlah. Tapi pada akhirnya tetap 3 menit.

Di rumah, saya benar-benar terkejut saat menuangkan serbuk kopi dalam gelas. Bungkusan kertas putih seukuran jempol orang dewasa menggayut di ujung sobekan sachet. Makin senang, ah, ketika saya mulai melihat ada angka-angka di dalam bungkusan itu. Samar-samar. Bertulis rupiah juga. Saya menduga, itu pasti uang 100.000. Saya yakin. Sehingga nantinya, selain dapat kopi juga dapat uang tunai sembari nonton bola.

Pelan-pelan mengambilnya sementara saya tuangkan air panas dari dispenser dalam cangkir. Saya berpikir, membuka bungkusan itu saja di atas sambil nonton bola. Senang. Haha, memang benar kata petuah kalau pagi itu mudah rezeki. Semakin cepat bangun tidur semakin banyak peluang dapat rezeki. Kata petuah itu, kalau tak bersegera bangun, rezekinya keburu dikais-kais ayam. Tapi bukan itu maksud petuah berbunyi kira-kira “bedoh eh watee raseuki ka dikireueh lee manok”. Ada yang lebih bermanfaat. Saya jelaskan lain kali.

Di atas, depan tivi dengan pertandingan sudah mulai ternyata, saya siap membuka bungkusan itu. Saya yakin isinya seratus ribu. Cukuplah untuk ngopi atau jajan  tak sampai seminggu.

Perlahan saya lucuti bungkusan putih itu. Mulanya tampak satu, dua, tiga nol besar. Lalu saya buka hingga lipatan terakhir; keenam. Bakbudik! Alamak! Satu sisinya ada gambar Pangeran Antasari, satu lagi berlukiskan enam perempuan sedang menunjukkan Tarian Adat Dayak. Tentu kawan tahu nominalnya berapa? Haha, 2000 ribu rupiah. Cuma tiga nol besar.

Dugaan saya 100 ribu. Tapi bergeser hingga 98 persen. Ah, malah kian tak bersemangat. Benar-benar terkejut. Saya dapatkan uang tunai langsung Rp 2000,- di pagi yang mulai panas oleh siraman sinar mentari di ufuk Timur. Hmmm.. Namun bila dipikir-pikir dengan sudut pandang positif, saya beruntung ya cepat bangun pagi hari itu?[]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s