Bupati Sandal Jepit

Barangkali penyair akan menulis dalam sajaknya, Sepasang sandal jepit ibarat sepasang kekasih. Keduanya tak bisa dipisahkan. Tatkala satu hilang, satu lagi tak berfungsi. Tapi bukan itu tujuan Sami menukar sandalnya dengan sandal orang.

Senja itu, Sami sedang di halaman surau kampung sementara jamaah tengah menunaikan salat magrib. Dia memilih-milih beberapa sandal dari dua puluhan pasang tersedia. Ia tak melirik yang bagus. Hanya memungut sandal jepit tua, jika sesuai seleranya—tebal—maka akan ditukar dengan sandal tempurung kelapanya. Kalau tidak, ia damparkan pada asalnya. Boleh jadi, Sami tak berniat mencuri, tapi menukar.

Jamaah magrib sudah duduk tahyat akhir. Sami tahu kalau itu rukun salat terakhir, tapi ia tak terlihat kalut atau was-was. Namun demikian, ia kudu tangkas. Begitu salam pertama, lekas ia kutip sepasang sandal jepit tua dengan warna putih di atas dan merah di bawah. Lalu ditaruhnya sepasang sandal tempurung kelapa—tempurung kelapa kukuran dibelah dua lalu masing-masing bagian tengahnya dilubangi sebagai penghubung tali rafia. Sudah itu, ia rapikan kembali susunan sandal yang tadinya berserakan. Ia hilangkan jejak. Segera ia pergi dengan wajah sumringah. Tak dipikirnya reaksi jamaah nanti.

Esok pagi, pulang sekolah, Sami mengambil sandal jepit yang ditaruhnya di bawah vas bunga kertas; itu dilakukan malamnya agar orangtuanya tak tahu kalau ia telah menukar sandal atau mungkin sekali menuduhnya mencuri. Lalu Sami keluar rumah tanpa sepengetahuan ibunya yang sedang masak di dapur dengan menggunakan kayu bakar yang oleh ibunya mendapatkan bahan bakar itu sama seperti Sami memeroleh sandal jepit tua, yaitu ibunya pergi ke kebun orang yang sepi dengan membawa dua kelapa tua, bila ada kayu bakar diambilnya sementara kelapa tua tadi ditaruh di tempat kayu bakar itu.

Sami diam-diam bergegas ke rumah temannya, Napi, sekira dua lorong dari rumahnya. Di sana, Napi yang hitam legam sudah menunggu di balai kecil dalam pekarangan rumah dan di bawah pokok jambu merah. Sami tiba. Mereka berpelukan layaknya dua sahabat lama baru bertemu lagi barangkali setelah 10 tahun berpisah, padahal mereka baru saja jumpa di sekolah paginya.

Napi menyuguhi Sami jambu merah. Ada-ada saja ah, Sami juga mengeluarkan tomat kembang delapan kesukaan Napi dari sakunya, tomat itu diambil Sami dari kulkas saat ibunya sedang di toilet. Mereka mengunyahnya dan tertawa. Lalu?

Segera mereka lemparkan masing-masing sepasang sandal jepit tua ke lantai balai dari rajutan bambu kecil yang dibelah-dibelah dan diraut, barangkali gaya mereka ibarat lelaki dewasa melemparkan kartu remi ke meja judi! Seterusnya mereka keluarkan dua pisau lipat dan dua lipstik—Napi mengambil lipstik ibunya yang sampai siang belum pulang dari kantor.

Mereka mengambilnya masing-masing satu. Mereka hendak melubangi sandal jepit itu seukuran kelereng. Yang tercepat, dua pisau lipat dan dua lipstik itu boleh dimiliki seumur hidup. Mereka bersaing, barangkali seperti di film Police Story, Jackie Chan berlomba bongkar pasang pistol dengan perampok bertopeng, dimana yang tercepat bisa menembak dua teman lawan.

Sami yang kurus dan Napi yang gemuk itu melubanginya dengan cermat dan berusaha tidak tersayat jemari karena keduanya takut melihat darah. Mereka menyudahinya sepuluh menit. Temponya imbang. Mereka sama kuat. Mungkin juga demikian jikalau dewasa nanti mereka bersaing mencalonkan diri sebagai bupati dan memeroleh suara yang sama.

Selesai. Dirapikan balai. Disumpal sampah ke salah satu lubang  galian ayahnya supaya air tak tergenang di pekarangan ketika hujan mengguyur. Di antara berbagai pakaian, bagi keduanya yang terpenting adalah sepasang sandal jepit tua berlubang di bagian tengahnya. Misal mereka harus telanjang bulat pun tak soal, yang penting sandal jepit itu.

Mereka pergi ke utara kampung. Menuju lahan kosong yang sering dipakai bocah laki kampung untuk main bola kaki atau lompat rantai karet bagi bocah perempuan. Dan, mereka tak bawa apa-apa ke lapangan kosong itu. Mereka menyusuri jalan kampung seraya menyepak-nyepak batu kecil layaknya pemain bola di lapangan hijau. Ah, mereka bagai calon bupati atau wakil bupati yang membawa berkas dukungan ke kantor Komisi Independen Pemilihan saja.

Sami tiba, tentu juga Napi.

Dua kelompok terdiri dari belasan bocah kampung tengah bermain kelereng dengan berbagai macam model permainannya. Mereka menatap sinis Sami dan Napi yang berlagak anak bodoh dan sok menonton.  Mereka tak mengajak keduanya bertanding; rahasia umum di kampung itu kalau Sami dan Napi tak bisa main kelereng, tapi setiap keduanya hadir ke lokasi permainan selalu ada kelereng yang hilang. Mereka pun kembali bermain.

Sami mendekati kelompok pertama yang main bidik tumpukan kelereng. Sedang Napi ke kelompok satu lagi yang bermain tembak kelereng dalam dua garis lurus. Mereka sepertinya hendak melaksanakan misi mereka: mengutip kelereng kesasar dengan lubang di sandal jepit.

Sesaat kemudian beberapa bocah di kelompok pertama kebingungan. Satu kelereng bidikan menghilang. Mereka mencarinya ke semak-semak dan ke sela-sela batang talas yang menumpuk di payau kering samping pokok kelapa. Sami melihat kelereng dimaksud di balik sehelai rumput, segera ia menginjaknya. Diulek-uleknya rumputan itu dengan pelan sekali. Cuma tiga gesekan sandal. Dia berjalan-jalan pura-pura mencari lagi kemudian, sampai mereka berhenti mencari dan lanjutkan permainan.

Napi tak ketinggalan. Ia melakukan sama dengan Sami. Malahan dua lubang di sepasang sandalnya sudah terisi. Ia tinggal menunggu Sami yang berhasrat menculik satu kelereng lagi. Dan sudah setengah jam keduanya belum dicurigai meski tiga kelereng belum didapatkan. Sebenarnya mereka bukan tak mencurigai, tapi sebelumnya selalu mencurigai, hanya saja tak ada juga kelereng pada Napi dan Sami. Tepatnya, mereka belum tahu kalau sandal jepit yang dipakai Napi dan Sami punya lubang pemangsa kelereng.

Sampai hari itu, hampir seratusan kelereng sudah Sami dan Napi peroleh dari sandal jepit itu. Namun bocah-bocah di kampung tak tahu ke mana kelereng mereka menghilang dan siapa pelakunya.  Juga orangtua mereka penasaran, kenapa hilang selalu sehingga harus merogoh kocek belikan anak-anak mereka kelereng baru justru pada kios yang memasok kelereng dari Sami dan Napi.

Semua orang kampung itu tak tahu perihal itu sampai hari ini, atau 40 tahun kemudian, dimana Napi dan Sami mencalonkan diri sebagai bupati dan wakil bupati melalui jalur perseorangan. Bahkan, keduanya kini malah memeroleh dukungan terbanyak dari kampung mereka, dari teman-teman tipuan mereka masa kecil.[]

Penulis adalah mahasiswa prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry kelahiran Desember 1990.

(Cerpen HA 24/7/11)

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

4 thoughts on “Bupati Sandal Jepit”

    1. Terimakasih atas penilaian dan juga telah menuliskan syair “sepasang sandal jepit” yang sya kutip untuk cerpen ini.
      Seharusnya, saya cantumkan nama pengarang. Namun karena puisi itu belum dimuat di manapun kecuali FB, maka tak sya tulis karya Dedi Supendra. Hehe. Mantap.
      Lanjutkan.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s