Dara Pilihan

Kecantikan tanpa kebajikan ibarat bunga tanpa bau harum. Je tengah memelajari Pepatah Perancis itu. Tapi sebelum melanjutkan penafsirannya, ia teringat pada dara-dara Aceh yang menyambung jenjang pendidikan ke ibukota provinsi: Banda Aceh.

Amatannya, nyaris semua mahasiswi berparas cantik. Sepertinya, dara rupawan di setiap kampung dalam berbagai kabupaten/kota di Aceh sengaja kuliah ke ibukota karena merasa diri “cocok” menjadi cewek kota dan menganggap diri di level dara pilihan.

Selain terpilih dari segi kecantikan, juga dari segi kecerdasan dan keuangan orangtua. Atau terpilih dari segi semangatnya menuntut ilmu ke ibukota. Mereka, jangan salah paham, dara pilihan ke ibukota. Bagi selain itu, juga dara pilihan, ya pilihan orangtuanya bagaimana mendidiknya, atau mengawininya begitu tamat SMA!

Dara-dara pilihan ke ibukota, begitu tamat SMA, dengan sedikit dorongan orangtua yang mungkin juga merasa putrinya cocok kuliah di Banda Aceh, segera mengontak-ngontak orang yang lebih dulu ke ibukota agar mencari tempat kuliah yang sesuai bagi si putri.

Biasanya minta bantu orang sekampung yang lebih dulu ke sana, atau kalau tidak, datang sendiri. “Kamu sudah besar, ini uangnya. Kamu cari tempat kuliah sesuai keinginanmu, Nak. Jangan lupa kabari ke kampung kalau sudah pas,” kata orangtua berpunya pada si anak. Bagi yang tak sanggup bantu dana, “terserahmu, Nak. Kami doa saja.”   

Si anak pun berangkat. Ia akan memilih tes masuk, kalau tak di Unsyiah, pasti IAIN Ar-Raniry yang kedua. Atau tes dua-duanya sekaligus. Kalau tak juga lulus, maka ikut tes di perguruan tinggi selain jantong hate rakyat Aceh itu. Atau memilih pulang kampung dan kuliah di kabupaten sendiri.

Begitu lewat, sebagiannya hubungi kampung minta dikirimi uang untuk biaya kosan atau sebagian lagi tinggal bersama saudara juga sebagian kecil yang tinggal di tempat kerjanya. Ketika sudah mulai kuliah, ia kontak kampung lagi, dengan tujuan sama, tapi penggunaan berbeda, yakni barangkali untuk beli seragam yang sesuai lingkungan kampusnya atau komunitasnya. Atau malah minta dibeli motor baru!

Karena dara pilihan, mereka pun “dikejar-kejar” cowok non pilihan, karena sebagian cowok kalau sudah ke Banda Aceh itu sudah dilabel perantau. Sebagian dara pilihan itu terkadang jual mahal, sehingga ia akan berteman dengan lelaki yang setidaknya selevel dengannya. Ada juga dara pilihan yang tahu diri. Ia tetap menuntut ilmu: tujuan utamanya.

Bagi dara pilihan yang tak tahan godaan laki-laki teuso (hidung belang/mata keranjang), dengan sedikit diming-iming material atau finansial, maka ia juga akan jadi inong teuso. Sehingga, “mahasiswa bertipe demikian berpotensi besar masuk koran,” kata Je pada Isan.

“Hari ini sepasang mahasiswa kampung fulan tertangkap mesum di musalla kampus. Atau dua mahasiswa berbeda kampus dimandikan massa setelah kedapatan mesum di kos. Begitu dicek, wah, ceweknya cantik, entah dengan cowoknya,” katanya lagi.

Nah, anak dara yang sudah lepas dari orangtuanya, itu berpotensi celaka bagi keluarganya, kata Je. “Orangtua di kampung banting tulang, anaknya di kota banting kutang,” kata dia tanpa malu-malu meski sedang duduk di kedai kopi berfasilitas Wi-Fi (Wireless Fidelity; jaringan tanpa kabel IEEE 802.11b).

Karena itu, sebelum melepaskan putrinya ke kota melanjutkan pendidikan, hendaknya orangtua sudah lebih dulu mengirimnya ke pesantren-pesantren untuk mendalami ilmu agama (misal) malam harinya sembari bersekolah di kampung sejak pagi hingga siang. “Meski tak menjamin, tapi setidaknya sudah berusaha membuat benteng untuk anaknya.”

Sayang sekali bila dara-dara itu, “ditop lee jangak sebelum waktunya,” dimisalkan Isan. Karena lelaki meski playboy, kemungkinan besar ketika datang waktunya kawin, ia akan menikahi perempuan murni, dara-dara yang seperti buah terselebung dedaunan.

Menyadur Pepatah Perancis tadi, maka perempuan yang ternoda sebelum waktunya, ia ibarat bunga yang tak punya lagi sumber keharuman, sehingga kehidupannya mendatang akan berkubang dalam kegelisahan.

Lebih-lebih jika terkena Human Immuneficiency Virus (HIV) yang berakibat terserang Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), yaitu berbagai macam penyakit yang merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan kematian si penderita. HIV tertular melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom, selain oleh penggunaan jarum suntik dan silet cukur secara bergantian dan melalui ibu hamil yang menyusui anaknya.

“Tentu sayang sekali bila dara pilihan kena penyakit itu, padahal orangtuanya barangkali sudah menyimpannya seorang lelaki untuk dijadikan suaminya dan segera mendapatkan cucu. Karena itu, wahai dara pilihan, kecantikan tanpa kebajikan ibarat bunga tanpa bau harum, alias tak berguna lagi. Maka hati-hati dengan kecantikan fana yang kamu miliki,” pesan Je pada Aya yang sedang terbahak-bahak bersama kawan-kawan yang selevel dengannya di kedai kopi, sambil online.[]

(CP HA 15/9/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s