Mengikuti Jejak Iwan Fals

Kabut mulai raib dari langit pagi Kota Yogyakarta. Saat itu pula, Yoyo, 37, mengantar anaknya, Andika, 10, ke SD Tumijo Kecamatan Jetes. Ia tak mau menelantarkan masa depan anak semata wayangnya.

Yoyo penyanyi jalanan, tapi belum sudi membawa serta anaknya untuk mendendangkan satu-dua lagu ketika malam tiba.

Yoyo tak memfoya-foyakan waktu. Begitu pulang dari mengantar anaknya sekira jam 7 lebih tiga puluh menit, ia segera ke kediamannya di Kampung Jokoyudan Kecamatan Jetes Yogyakarta, guna menjalin kerukunan berumahtangga dengan bininya, Mia, 25, warga setempat, selain membaca buku demi menambah wawasannya.

Mia berusia 17 tahun ketika Yoyo mempersuntingnya. Itu pula yang membuat ia amat mencintai istrinya.

Sebelum siang menjelang, Yoyo memikirkan nafkah keluarganya. Sebagai musisi jalanan, atau ia menyebut diri “seniman jalanan”, Yoyo menghadapi tantangan hidup dengan santai, sehingga ia bisa mengasapi dapur keluarganya dari bernyanyi.

Suatu malam di pucuk September 2011, Yoyo duduk di bangku panjang hijau-kuning di satu sisi Jalan Malioboro, Jogja—sebutan akrab untuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia menggendong gitar, coba menghibur pengunjung di satu lesehan.

Lesehan itu menjaja gudeg, menjalar di sepanjang Jalan Malioboro. Merambat di tepi jalan raya, di samping lajur pejalan kaki atau pesepeda.

Unit Pelayanan Teknis (UPT) Jogja menginstruksikan, lesehan itu mulai dibuka setelah Magrib, tutup paling telat jam 3 pagi. Aturan itu juga berlaku bagi warga yang mencari nafkah di Jalan Malioboro, seperti Yoyo. Mereka mematuhinya.

Malam itu Yoyo berambut gondrong cenderung rapi dan bersih. Ia mengenakan celana jeans, kaos dengan sedikit motif batik dan tas selempang batik. “Penampilan seniman di sini harus sopan dan santai, karena kita layani orang makan,” katanya.

Tangannya cekatan memetik senar gitar sembari mulutnya komat-kamit membawakan lagu-lagu kenangan. Ia biasa membawakan lagu Koes Ploes, Pamres, dan lagu luwes lain yang awet sepanjang jaman.

Ia menyanyi pada satu lesehan. Sebagian pengunjung lesehan cuek, sebagian lagi menyenanginya. “Kalo nanggap, ya kita senang,” katanya. Nanggap dimaksudkan Yoyo: diterima atau disenangi pendengar. Kalo tidak, ia relakan saja.

Kalau nanggap, pengunjung akan memintanya lanjutkan nyanyi, hingga ia diberi sumbangan apa adanya kemudian. “Pandapatan kita relatif,” sebutnya. Kadang satu lesehan hanya memeroleh uang pecahan saja. Tak jarang, seorang pendengar memberinya hingga 50 ribu rupiah.

Lalu ia, begitu pula musisi jalanan lainnya, akan meninggalkan lesehan itu dan menyambangi lesehan lainnya. Bisa saja ia akan kembali ke lesehan sama untuk pengunjung berbeda. 

Yoyo menikmati profesinya. Ia menyanyi sendiri (solo), tanpa grup. “Sementara masih senang sendiri. Susah bikin grup. Sebab grup itu harus menyatu,” akunya pada Harian Aceh. Tapi ia juga menilai menyanyi dengan grup juga mengasikkan.     

Ia menyukai menyanyi sejak duduk di bangku SMP di Gunung Kidul. Pada 1998, ia mulai menguji diri sebagai musisi jalanan di Jakarta. Pada 2000, ia pulang ke Jogja, dan melanjutkan kebiasaannya itu di Jalan Malioboro, guna menafkahi keluarga selain menyalurkan hobinya. 

Menurutnya, musisi jalanan di Jalan Malioboro kebanyakan dari Surabaya, sedikit pribumi, karena orang Jogja juga suka merantau ke Jakarta. Musisi jalanan itu ada juga yang berasal dari Pekalongan, Bantul, Solo, dan sekitarnya. Umumnya berusia 20-an hingga 30-an.  

Beberapa warga Jogja menceritakan, musisi semisal Iwan Fals, Doel Sumbang, Ebiet G Ade, sebelum terkenal, mereka “menjual” suara untuk pengunjung lesehan di Jalan Malioboro. Yoyo mengakui itu.

“Ada di antara mereka, membiayai kuliahnya di Jogja dengan menjadi musisi jalanan di sini,” katanya. Kata “J” diucapnya dengan tekanan tinggi dan mendalam, khas penuturan Jawa. Meski tak mengakui ingin mengikuti jejak Iwan Fals misalnya, tapi mereka telah mencoba apa yang dilakukan musisi terkenal itu.

Yoyo pun menilai penawar jasa di Jalan Malioboro kreatif. “Orang sini (Jogja) kreatif,” tapi, “lain daerah lain pendapat ya,” sambungnya, diiringi tawa renyah.

Beragam penawar jasa mendatangi lesehan-lesehan di Jalan Maliboro. Kecuali musisi jalanan, ada pelukis siluet atau sketsa, jasa pijat, si cacat pembaca puisi, sedikit peminta-minta. Mereka tampak gigih dan ikhlas.[Makmur Dimila] 

(Feature HA 2/10/11)    

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s