Susahnya Isi Pulsa di Malioboro

Gerobak perahu di Jalan Malioboro
Gerobak perahu di Jalan Malioboro | Makmur Dimila

 

Ibarat mencari kutu di kepala berambut lebat, begitu kira-kira perumpamaan bagi orang yang mencari agen pulsa di sepanjang Jalan Malioboro Jogja yang padat.

Sabtu (1/10) siang yang bising, saya keluar dari hotel Inna Garuda di Jalan Malioboro Nomor 60, tempat berlangsungnya Pertemuan Nasional AIDS IV, mencari kios atau tenda yang menuliskan “di sini menyediakan pulsa”.

Keinginan ini mudah tercapai kalau berada di Aceh juga Medan, seperti diakui Zulnaidi, seorang wartawan dari media cetak di ibukota Sumatera Utara itu.

Tapi tak di Jalan Malioboro yang boleh dibilang Peunayong-nya Jogja. Takkan pernah mendapati penjual pulsa jika tak berani bertanya. Umumnya warga setempat akan menunjukkan keramahan jika didekati.

Monggo, Mas.” Dua kata ini selalu muntah dari mulut setiap penjaja di sepanjang Jalan Malioboro ketika melewati mereka, bermaksud mempersilakan.

Dua kali bertanya, saya pun menemui Armansyah di bawah pepohonan rindang, sekira 200 meter dari gerbang hotel. Armansyah, akrab disapa Arman, asal Binjai, Sumatera Utara. Ia tengah menjajakan softdrink (minuman ringan) dengan sebuah gerobak berpayung. Sekilas ia seperti penjual es krim di Aceh.

Arman mengakui kalau di Jalan Malioboro sulit mendapati agen pulsa. “Di sini memang jarang ada kios khusus menjual pulsa, apalagi yang menulis ‘di sini menyediakan pulsa’,” akunya. “Tapi,” sambung dia, “di sini rata-rata jualannya nyambil. Artinya kita menjual bareng barang-barang lain.”

Soal harga, agen-agen seperti Arman akan menjual lebih mahal dua ribu rupiah dari jumlah isian pulsanya. “Pulsa lima ribu kami jual tujuh ribu.” Tapi, kata dia, tidak berlaku di kedai khusus yang menjual pulsa. “Kalau di kios khusus pulsa, harganya lebih mahal. Misal pulsa 10 ribu, dijual Rp15 ribu,” sebut pria kelahiran 1971 itu di pusat keramaian yang sesekali berbau alkohol dan kemenyan.

Arman, satu dari pengais nafkah di sepanjang Jalan Malioboro yang selalu ramai. Amat jarang menemui peminta-peminta di sini. Semuanya punya cara tersendiri demi menghasilkan rupiah. Pastinya, ada usaha, ada imbalan, jika calon penerima jasa berkenan.[Makmur Dimila]

(Feature HA 3/10/11) 

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s