Sarkem, Teleju, dan Peunayong

Belum sempurna melancong ke Daerah Istimewa Yogyakarta bila belum memasuki Pasar Kembang. Populernya disingkat Sarkem. Banyak “oleh-oleh” di sana.

Sarkem terletak di Jalan Pasar Kembang, Kota Yogya, dekat stasiun Tugu: pemberhentian kereta api. Biasanya para lelaki hidung belang memarkir kendaraan di stasiun yang mulai beroperasi 2 Mei 1887 itu, sebelum memasuki lokalisasi terbesar di Kota Yogya.

Sarkem juga legal. Pemerintah setempat mengutip pajak dari lokalisasi itu, sehingga pekerja seks dan tamu (lelaki hidung belang) bebas menunaikan nafsu berahinya.

Para pekerja di Sarkem disebut-sebut sebagai “oleh-oleh” bagi wisatawan lokal. Pengunjung Sarkem dikenal dengan Wisatawan Domeseks. Maka belum sempurna melancong ke Kota Yogya bila belum memasuki Pasar Kembang.

Barangkali, karena adanya lokalisasi itu, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi provinsi paling tinggi jumlah kumulatif orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dibanding daerah lainnya di Indonesia, seperti dikatakan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Agung Laksono, Senin (3/10), saat membuka Pertemuan Nasional AIDS IV di hotel Inna Garuda, Kota Yogya. Ia juga menyebutkan, penyebaran virus itu di kota gudeg itu lebih banyak melalui hubungan heteroseksual.

Minat wisatawan ke Sarkem memang tinggi. Julia Perez (Jupe) tak ketinggalan. Minggu (2/10) malam, pelantun Belah Duren itu ke Sarkem, untuk menghibur pengunjung lain. Ia hendak mendangdut di Balai, semacam diskotik yang merupakan tujuan utama penikmat di lokalisasi Sarkem.

Mendengar ada Jupe di Sarkem, malam itu, saya dan tiga dari sepuluh wartawan penerima beasiswa penuh mengikuti Pernas AIDS IV: Eveert Z Joumilena dari tabloid Jubi, Papua, Syamsul Alam dari harian Ujungpandang Ekspres, Makassar, dan Zulnaidi dari harian Analisa Medan, juga ke sana, sekaligus melihat langsung. Haya sekira 15 menit jalan kaki dari Hotel Inna Garuda.

Dengar-dengar dari yang sudah pernah ke sana, Sarkem itu berupa gang yang membelah rumah-rumah kecil tempat pekerja menjajakan “oleh-oleh”. Di pangkal gang, kebanyakan pekerja berusia tua. Makin ke ujung atau ke dalam, makin muda dan cantik-cantik.

Kami masuk. Macam sarang tikus aja. Dari luar kelihatan seperti satu rumah, tanpa kehidupan. Tapi di dalamnya berjejer rumah-rumah semipermanen. Di setiap teras rumah, ada sekitar empat pekerja siap “tempur”. Sesekali bau alkohol menusuk hidung.

Di pangkal gang tadi, ada satu pos khusus yang dihuni beberap mami—perempuan yang mengatur pekerja dalam melayani tamu. Juga sebagai tempat transaksi. Ah, kami lewati saja.

Dan seperti kata orang yang sudah pernah ke sana, memang, pekerja berusia tua menanti di pangkal gang yang remang-remang. Satu-dua muncul yang cantik. Beberapa lelaki juga tengah bersama mereka, entah karena ada Jupe.

Saat kami sudah mencapai pertengahan gang, eh, tiba-tiba suasananya menegangkan. Gaduh. “Mohon kasih jalan, tamu mau lewat,” kata seorang pria sambil menahan tamu yang sedang masuk agar mundur sekejap.

Dari depan kami, Jupe tengah dipapah beberapa pria berpakain bertuliskan Sutra. Jupe yang merupakan ikon kondom merek Sutra tampak lelah. Ia mengenakan baju dan rok mini putih. Berambut bulu jagung muda.

Lalu, Jupe dibawa ke penginapan di hotel Inna Garuda. Syamsul ikut rombongan Jupe yang kemudian menumpangi bus. Zulnaidi dan Eveerth memilih bertahan sebentar sebelum kembali ke hotel sejam kemudian.

Sedang saya, saat itu, antara memilih ke hotel atau melanjutkan melihat-lihat “oleh-oleh” Jogja yang satu ini. Tapi sebelum memutuskan, saya teringat cerita Ibnu Syahri Ramadhan ketika saya dan mahasiswa Unsyiah asal Aceh Tamiang itu mengikuti pelatihan jurnalistik di Pekanbaru pada pertengahan 2010.

Kala itu, kami dan belasan wartawan kampus se-Sumatera lain praktik liputan lapangan ke lokalisasi di Teleju, Tenayan Raya, Riau. Tempat itu populer dengan sebutan Teleju. Masing-masing dari kami masuk ke satu rumah yang mirip bilik.

Hari itu, mendadak, hujan deras mengguyur kawasan Teleju yang terisolasi, dimana kami tengah bincang-bincang dengan lebih dari satu pekerja. Tapi tak apa-apa.

Pulang dari Teleju, Ibnu berkata: “Awak takut sekali saat petir tadi. Andai saja petir menyambar awak dan mati di bilik pekerja seks, tak hanya orangtua yang malu, tapi juga Aceh.”

Nah, malam itu, aku teringat amat akan kata-kata Ibnu: tak hanya orangtua yang malu, tapi juga Aceh. “Andai saya mati di sini, di Sarkem, lokalisasi terbesar di Jogja. Atau katakanlah, kita tak ‘utuh’ lagi sepulang dari Sarkem, maka berpotensi memalukan orangtua dan terinfeksi HIV,” saya membantin.

Akhirnya saya pun memutuskan kembali ke hotel. Tak melanjutkan melihat “oleh-oleh” Sarkem.

Aceh memang belum punya lokalisasi resmi semacam itu. Sebagian berpendapat tak perlu, karena Aceh negeri sedang menerapkan Syariat Islam. Tapi ada juga sebagian kecil yang menyatakan, “bagusnya di Aceh dibuka satu lokalisasi resmi, lalu pemerintah mengambil pajak darinya. Dan bagi yang ingin berhubungan atau pacaran silakan ke sana, jangan di jalan-jalan,” kata Mahyal, di Banda Aceh, beberapa waktu lalu.

Mahyal merujuk pada kehidupan malam di Peunayong, Banda Aceh. Malam di Peunayong dan sekitarnya, terutama malam Minggu, “Masya Allah,” kata beberapa orang, apalagi di atas jam 12 malam, banyak remaja atau pemuda yang bersunyi-sunyian, berdua-duaan. Tak jarang kedapatan sedang bermesum, seperti di toilet umum, dalam mobil, dan di kos.

Barangkali seperti dikata Mahyal, Aceh perlu membuka satu lokalisasi. Sepertinya opini Mahyal tak salah. Pada Selasa (4/10) pagi yang sejuk di Kota Yogya, seorang peserta Pernas AIDS IV berujar, “saya lebih suka malah dibukanya lokalisasi resmi seperti Sarkem dimana pemerintah mengutip pajak darinya.”

“Dan,” perempuan dari salah satu forum komunitas itu menekankan, “siapapun yang masuk ke lokalisasi itu, baik menggunakan jasa pekerja maupun tidak, dikutip pajak dan diwajibkan periksa kesehatan setiap kali keluar dari sana, maka HIV mudah dideteksi.”

Artinya, semakin mudah dan cepat mengetahui atau mendeteksi seseorang terinfeksi HIV, maka semakin maju proses penanggulangan HIV dan AIDS. Demikian kata Syaiful W Harahap, pemerhati (berita) HIV/AIDS dari LSM InfoKespro, Sabtu (1/10), di Inna Garuda yang merupakan hotel bintang empat.

(Feature HA 5/10/11)  

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

4 thoughts on “Sarkem, Teleju, dan Peunayong”

  1. Aku pernah ke Sarkem. Masuk-masuk gang niatnya mau nyari penginapan murah. Dapet sih penginapan murah. Tapi waktu subuh horor banget. Terdengar lenguhan nafsu dari kamar sebelah.

      1. Kalau gak salah sih 60rb apa ya.. waktu itu 2011. Awalnya sih biasa aja krn penginapannya gak ada penampakan aneh2. Ehh.. ternyata bikin trauma. Enggak lagi deh. Haha

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s