Pasangan

Di manakah letak perbedaan antara pasangan belum kawin, pasangan muda, pasangan tua, dan pasangan pemimpin? Mari lihat.

Je yang tampan baru saja menjalin hubungan dengan Is yang jelita. Ke mana saja, di mana saja, apa saja, bagaimana pun, mereka selalu terlihat berdua. Dalam berdua-duan cenderung bersunyi-sunyian, agara mereka bisa menciptakan kemesraan melebihi pasangan suami istri (pasutri).

Demi pasangan, apapun dilakukan, baik Je untuk Is maupun sebaliknya. Bahkan terkesan lebih mengutamakan perintah pasangan daripada suruhan orangtua atau orang terdekat mereka. Sesekali bacalah sms keduanya. “Ya Maa,” tulis Je untuk Is. “Ya Paa,” tulis Is untuk Je.

Di tempat terpisah dalam masa yang sama, Pak Sule baru saja mempersunting guru SD Modal Gampong, Buk Fatimah. Mereka pasangan muda. Sama-sama berusia 24.

Seminggu hingga sebulan usai kawin, ke mana-mana jalan berdua. Berdempeten bahu. Kadang romantis. Kadang malu-malu, karena sebelumnya tak pernah bertemu, alias pacaran setelah menikah.

Pasangan asisten dosen dan guru itu kemudian dikaruniai anak. Satu, dua, hingga mencapai tiga anak ketika usia ikatan pasutri mereka menginjak tiga tahun. Artinya, setahun sekali masuk persalinan dengan bidan yang sama. “Amat produktif,” kata bidan.

Nah, sejak beranak tiga, keromantisan mulai pudar. Kalau jalan berdua, saboh saho: Pak Sule di depan, Buk Fatimah di belakang, atau sebaliknya. Mereka tak lagi berdempetan bahu atau gandengan tangan. Mereka juga sibuk dengan profesi masing-masing, sehingga menitipkan si anak pada mertua atau ibu.

Dalam masa yang sama juga namun di lokasi berbeda, pasangan Abu Toy Sijoy dengan Nek Bungsu lain cerita. Meuroh-roh. Keduanya tak lagi berdua-duaan, kecuali saat tidur malam. Padahal mereka cuma tinggal berdua dalam rumah yang sepi ditinggali anak-anak, selagi tidak sedang suasana hari raya atau acara besar.

Usia mereka 60-an. Kalau makan, tak mungkin lagi tampak mesra meski saling menyuapi nasi sendok demi sendok. Abu hai droe, Nek Bungsu hai droe.

Kini keduanya sibuk dengan rutinitas masing-masing. Abu menghijaukan kebun di belakang bukit, Nek beternak di belakang rumah. Hasil dari usaha itu tetap kongsi untuk bisa makan, meski “jak le,” kata mereka; tak lagi makan bersama.  

Dan di dunia berbeda dalam masa sama, pasangan-pasangan bakal calon gubernur dan wakilnya, pasangan bakal calon bupati dan wakilnya, saling merebut hati rakyat. Mereka sebagian besar mencintai rakyat di saat berkampanye atau jelang pemilihan. Tapi kemudian dengan berbagai alasan, sebagian besar mereka memutusi hubungan cintanya pada rakyat.

Uniknya kemudian setelah terpilih, pasangan wakil rakyat itu tak berdua-duaan. Mereka juga tak bersunyi-sunyian, kecuali ketika diduga terlibat kasus korupsi. Selama menjabat, masing-masing mereka menjalankan tugasnya. Kadang kalau urusan ke luar negeri, “biar saya aja,” kata gubernur. “Hana blem,” kata wagub ketika diminta mengurusi yang lain.

Nah, dari ilustrasi di atas, perbedaan antara keempat pasangan berlainan itu terletak pada kepentingan. Semoga benar.

Pasangan belum kawin bermesra semesra-mesranya agar hubungan keduanya bersambung sampai ke pelaminan, kecuali salah satunya meninggal.

Kemudian pasangan muda, menjalin kemesraan di awalnya barangkali untuk memantik semangat berumahtangga, sehingga bersambung hingga keduanya tak lagi tidur seranjang ketika di kuburan. Atau, jangan-jangan, kemesraan dijalin di awal-awal kawin agar tak rugi ija tujoh dan maharnya.

Lalu pasangan tua, kenapa tak lagi terlihat mesra di usia tua? Karena di usia renta, mereka tak lagi punya kepentingan mengurus badan, melainkan lebih mementingkan rohani. Karena menganggap, kalau sudah tua sudah bau tanah, dekat dengan mati. Jadi memperbanyak beribadah.

Terakhir, pasangan pemimpin, mereka punya banyak sekali kepentingan. Makin tidak berdua-duan, makin banyak kepentingan, terutama kepentingan politik. Bisa-bisa mereka tak lagi mementingkan rakyat demi menggapai kepentingan mereka.

Pada akhirnya, pasangan segala pasangan masing-masing punya kepentingan segala kepentingan.[]

(CP HA 14/10/11) 

    

 

  

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s