Belajar Damai pada Aji Mahasiswa

Jam lima sore wajib berada di pondok! Helmy mematuhi itu, meski sesekali harus terpaksa melanggarnya karena suatu hal mendesak, semisal telat pulang dari kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.

Setengah jam kemudian ketika senja tengah memayungi bumi, usai mandi dan merapikan diri, santri asal Aceh itu bersama santri lainnya salat Magrib berjamaah di masjid dalam pekarangan pondok itu. Sesekali tak berjamaah, dengan alasan seperti di atas.

Kemudian membaca beberapa ayat Al-Quran sebentar. Sudah itu keluar dan naik ke lantai tiga, lantai terakhir di Kompleks Abu Bakar yang merupakan asrama santriwan.

Di dalamnya, sambil menunggu dimulainya kajian, Helmy biasanya: mempersiapkan kajian untuk malam ini, mengerjakan tugas kuliah, membaca buku atau surat kabar, dan makan malam. Pastinya tak ada kegiatan formal dalam kurun itu.

Tapi bagi santri rajin yang mengambil tahfidh, kata dia, begitu Magrib berlalu hingga Isya menjelang, mereka menghafal ayat-ayat Al-Quran untuk disetor pada Ustaz tahfidhnya masing-masing.

Helmy sendiri? “Tidak, karena saya bukan siswa yang rajin,” ia mengaku pada senja Senin (11/10) itu, dengan mengimbuhi tawa kecil.   

Baru jam delapan, Helmy juga seluruh santri, memasuki ruang kajian. Ruangan itu tampak seperti di sekolah dasar, bangku panjang berderet-deret, sejajar. Hanya saja mereka duduk bersila di lantai dengan kitab-kitab atau Al-Quran di atas bangku kayu itu. Sang ustaz di depan mereka.

Photo | almuhsin-krapyak.com

Hal sama ditunaikan santriwati di asrama terpisah, Al-Mar’atus Shalihah namanya. Asrama itu satu lantai saja.

Dan, secara serentak di beberapa ruang, para pelajar dan mahasiswa itu belajar memperdalam ilmu agama, mengisi luang di sela-sela menggali ilmu pengetahuan di perantauan.

Paling cepat jam sembilan, kajian selesai. Setelah itu, terserah santri mau ke mana. “Tapi jam setengah sebelas pagar pesantren sudah digembok,” kata Helmy. Itu berlaku bagi santri yang butuh keluar malam. Bila pulang, lalu si santri mendapati gerbang pondok sudah tergembok, maka ia akan menghubungi temannya selain dari pesantren (jika ada), minta menginap.

Bagi yang tak keluar malam, para santri memanfaatkan sisa-sisa malam untuk melalaikan diri dengan laptop atau memperkaya diri akan ilmu dengan membaca buku-buku juga kitab-kitab. Banyak juga yang merampungkan tugas kuliah atau sekolah.

Kira-kira malam sudah tua, Helmy tidur, di kamar. “Di sini tak mau disebut bilik,” kata dia. Para santri disediakan kamar, dihuni empat sampai lima orang. Ada kamar mandi di dalamnnya. Dan lumrah dalam hidup, kamar santriwan tampak kurang rapi.

Dalam lelap, mereka melepas jenuh, menghimpun energi. “Bangun bangun! Salat subuh,” begitu muazzin mengetes suaranya hendak mengumandangkan azan, seorang piket membanguni mereka sembari menggedor pintu.

Tak diwajibkan untuk berjamaah, tapi bagi yang sadar bahwa ada masjid di samping tempat tidur, ya, mereka bangkit dari ranjang. Lalu menuju masjid, salat berjamaah.

Selanjutnya mereka menyambung tidur, sebagian berolahraga, mencuci pakaian, atau memasak, dan sebagainya. Pagi tiba, mereka berangkat kuliah atau dan sekolah.

Ilustrasi di atas, adalah, kegiatan keseharian yang dilakukan seratusan santri Pesantren Aji Mahasiswa Al-Muhsin.

Kyai Haji Muhadi Zainuddin Lc MAg asal Yogyakarta memimpin pesantren itu. Berdiri pada 2001, pesantren itu dikhususkan bagi pelajar sekolah menengah atas dan mahasiswa.Umumnya pendatang.

Daerah Istimewa Yogyakarta punya lima kabupaten: Kota Yogya, Sleman, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Bantul. Bila berkeinginan melihat-lihat kedamaian atau mengambil teladan dari pesantren itu, kunjungilah ia di Desa Krapyak Wetan Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul.

Helmy, demikian Zoehelmy Husein disapa, adalah pemuda kelahiran Kembang Tanjong, Pidie, yang menghabiskan masa remajanya di Langsa. Ia tinggal di pesantren itu sejak pertengahan 2009, sejak ia menempuh kuliah di jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ia kuliah di UIN itu melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSP). Ia mengambil program ini saat menempuh pendidikan di Madrasah Ulumul Quran, Yayasan Bustanul Ulum Langsa, sederajat dengan SMA.

Aji Mahasiswa memiliki kurikulum. Seperti tercantum dalam situsnya: almuhsin-krapyak.com, ada empat kajian.

Pertama, Dirasah Islamiyyah. Dari sini, santri bisa mempelajari ilmu kalam, tasawuf, filsafat, ushuluddin, ushul fiqh.

Kedua, belajar berbahasa Arab dan Inggris. Untuk Bahasa Arab, santri akan mempelajari nahwu, sharaf, muhadatsah, sima’ah, insya’, mufradats, al hiwar al muashir. Sedang Bahasa Inggris, santri akan mempelajari grammar, conversation, listening, writing, vocabulary, global issues discussion.

Ketiga, metodologi. Santri mempelajari ilmu logika, filsafat ilmu, epistemologi, statistik sosial, penelitian kualitatif, kuantitatif dan partisipatoris. Metodologi ini dipelajari secara berkala.

Keempat, pengembangan kepemimpinan berkualitas. Di sini, santri mempelajari geografi, geopolitik, geoekonomi, demografi sosial, analisis sosial, gerakan sosial, strategic planning, integrated financial planning, community leadership, megacommunity leadership. Pula secara berkala.

Aji Mahasiswa juga moderat. Metode pembelajaran dilakukan dengan menggabungkan pola pesantren dan perguruan tinggi.

Selain ngaji harian, pembelajaran untuk beberapa topik dilakukan dengan model workshop, pelatihan, penulisan, riset, live in, dan outbond. Semua pola berbasis pendidikan orang dewasa dan partisipatoris.

Karenanya, ruang kreatifitas dan dialektika gagasan kritis merupakan bagian dari proses. Dijalankan dengan suasana menyenangkan, tidak menekankan hafalan.

Disebutkan, pendidikan di Pesantren Aji Mahasiswa Al Muhsin dapat ditempuh secara utuh selama 4 tahun dengan sistem multy-entry dan mempertimbangkan kapasitas input yang ada (melalui placement test).

Pesantren itu juga punya visi dan misi. Ia bertujuan mencetak santri yang berkarakter ulul albab, yakni pribadi dengan jiwa penuh optimisme dalam mengatasi persoalan kehidupan yang ada sebagai bentuk pancaran (manifestasi) keimanan dan ketaqwaan, memiliki kepekaan sosial, kekuatan analisis kritis dan kreatif terhadap kenyataan sosial, bertindak transformatif, dan memiliki kapasitas kepemimpinan kuat termasuk komunikasi sosial.

Pesantren Aji Mahasiswa mempunyai paradigma pendidikan yang bertumpu pada lima pilar pendidikan, yakni berilmu, beramal, berdakwah, bersabar, dan bertawakkal.

Masih dalam situs tadi, Aji Mahasiswa mengembangkan metode berfikir dialektis yang memadukan antara tiga kesadaran: sejarah (al wa’yu al tarikhi), teoritis (al wa’yu al nadlari) dan praksis (al wa’yu al ‘amali).

Tiga kesadaran itu membuat keilmuan-keilmuan Islam tidak hanya berkutat pada sejarah dan menukik pada persoalan teoritis, tetapi juga menuju pada realitas empiris. Pemikiran itu menolak absolutisme yang mengatasnamakan teks dan di lain sisi juga menolak kebebasan yang mengatasnamakan hermeneutika, dalam rangka menuju ushul fiqh yang komprehensif.

Tak ingin menelurkan santri-santri “hambar”, Aji Mahasiswa memiliki komitmen mempromosikan nilai-nilai Islam pesantren seperti keadilan, amanah, jujur, tanggungjawab, kepedulian, pengabdian, dan keterbukaan.

Ketika mengunjungi Aji Mahasiswa pada penghujung September lalu, saya bilang pada Helmy. “Di tempat kita (Aceh) belum ada pesantren khusus mahasiswa seperti ini. Setujukah kamu bila pemerintah Aceh segera menggagasnya?” Dengan sungguh-sungguh, “sangat setuju!” sahutnya.makmur dimila

 (Feature HA 14/10/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Belajar Damai pada Aji Mahasiswa”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s