Nasi Bebek

Sang paman perintah Ari belikan makan bebek, umpan bayi-bayi bebek untuk sore nanti. Tanpa basa-basi, ia segera pergi dengan sepedanya yang berbunyi vespa—dipasang balon di selangkangan sok dan jari-jari roda.

Ari masih tiga belas tahun, bocah ingusan Aceh yang belum menguasai betul bahasa resmi nasional: Bahasa Indonesia. Ia pun mengayuh sepeda. Pengacau keamanan, kata orang-orang, saat ia hampir mendekati alun-alun yang tak jauh dari rumah pamannya. Semakin kencang dikayuh, bunyi sepedanya kian riuh.

Ari menatap nanar setiap gerobak atau kedai penjual nasi. Ia berhenti depan gerobak yang di kacanya bertuliskan “Menyediakan Nasi Bebek”. Tanpa bimbang, ia membeli sebungkus.

“Waduhhh!” komentar pamannya melihat Ari bawakan nasi putih dengan masakan putih daging bebek. “That ngeut! Ini bukan makan bebek, tapi nasi bebek,” marahnya meledak. “Apa bedanya?” balas Ari, tapi hanya dalam hati. “Ah, kau makan saja ini,” kata si paman lagi.

Ari tak takut. Ia malah senang saat diminta memakannya, karena memang itu yang diinginkan. Lalu mencari tempat teduh, Ari melahap bungkusan nasi yang kiranya cukup untuk tiga perut anak seusianya.

Namun si paman heran melihat keponakannya itu menghabisi semua nasi bebek tersebut, cepat pula. “Aneuk deuek,” batinnya. “Ari belum makan sejak semalam,” katanya seperti mengetahui suara batin si paman.

“Dan Ari tidak sebodoh yang paman pikir. Tadi sengaja Ari membeli nasi bebek ini karena lapar sekali dan pengen mencobanya,” kata Ari sembari menjilat sisa kari di jemari tangannya. “Paman sih, taunya perintah doang, tak pernah memberi sesuatu buat Ari,” sambungnya. Sang paman hanya menelan ludah.

Haha. Ternyata si paman yang ngeut. Dan tak salah jika Ari menempuh jalan pintas agar bisa mengisi perutnya.

Anak-anak seusia Ari sering dijadikan “pembantu”. Suruh sana suruh sini, tapi jarang menawarkannya makan, karena mengira mereka masih punya orangtua.

Padahal bila diteliti, mereka tak selamanya sarapan (makan) setiap pagi. Selain tak ditanak, juga menunya itu-itu aja. Saban pagi ikan asin, telur dadar yang dibelah empat untuk empat orang. Itu membuat anak-anak hilang selera makan.

Terlepas dari kesanggupan mengasapi dapur keluarga, ada orangtua yang melarang anaknya agar tak banyak makan ikan. “Jangan banyak makan ikan, nanti cacingan,” demikian didoktrin semasa kecil, padahal barangkali harga ikannya yang mahal. Dan agaknya perlu diketahui kalau ikan itu mengandung protein yang baik untuk kecerdasan otak anak.

Maka kepada paman-paman, jangan hanya menjadikan kemenakan sebagai “pembantu”. Sesekali Anda-andalah yang menjadi “pembantu” orangtua si keponakan, setidaknya ajaklah ia ke gerobak bertuliskan “Menyediakan Nasi Ayam” atau ke warung bertuliskan “Ayam Bakar Wong Solo” yang arti secara harfiahnya berarti: Ayam Bakar Orang Solo. Ayam yang luar biasa![]

(CP HA 16/10/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Nasi Bebek”

  1. “Waduhhh!” komentar pamannya melihat Ari bawakan nasi putih dengan masakan putih daging bebek. “That ngeut! Ini bukan makan bebek, tapi nasi bebek,” marahnya meledak. “Apa bedanya?” balas Ari, tapi hanya dalam hati. “Ah, kau makan saja ini,” kata si paman lagi.


    mantap…….

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s