Negeri Bodrex

Suatu perihal yang membuat orang-orang sakit kepala, biasanya akan mendapat cap ‘bodrex’. Sering terdengar ‘wartawan bodrex’ dan ‘SMA bodrex’. Bisa saja lahir sebutan ‘pemimpin bodrex’ dan ‘negeri bodrex’, jika rakyatnya sakit kepala dan kondisi daerahnya merana karena kepemimpinannya. 

Iwan Piliang dalam sebuah artikelnya di Superkoran menulis, bodrex tak terlepas dari nama obat sakit kepala. Obat itu ditemukan oleh dr. Fritz Bode GmBH asal Jerman. Ia mencoba mencari alternatif bahan obat selain aspirin, pengganti obat sakit kepala.

Solusinya, dr. Bode memakai parasetamol. Di Indonesia, Bodrex mulai diproduksi pada 1968, oleh PT Tempo Scan Pacific Tbk. Sehingga jika di era 70-an orang menamakan kelompoknya dengan bodrex, jelas berasosiasi kepada Bodrex obat.

“Nah,” kata Je, “memang dari dulu,” bodrex itu bertujuan untuk menghilangkan, atau setidaknya, melampiaskan rasa sakit kepala. Ditujukan bagi oknum-oknum yang membuat orang sakit kepala. “Sebagai sebuah solusi pening, kalau tulis Iwan Piliang,” sambung Je pada siapa saja yang mau mendengarnya, di mana pun.

Maka seperti di iklan-iklan pada berbagai televisi tanah air, si bintang iklan yang kemudian beralih ke dunia politik, Dede Yusuf, tampak puyeng akibat diserbu segerombolan makhluk bodrex. Ia kemudian menenggak obat Bodrex sebagai solusinya. Sehingga, ‘ajakan menggoda’ si iklan melekat erat di benak pemirsa.

Apa yang terjadi kemudian? Sekelompok wartawan tanpa suratkabar (WTS) suka mendatangi suatu lembaga untuk pura-pura cari berita. Biasanya tanpa buat janji dengan narasumber. Usai wawancara ia meminta angpau. Atau ada juga setelah beritanya dimuat, ia akan memperlihatkannya pada narasumber, lalu meminta imbalan. “Bagi wartawan seperti ini, mereka dicap wartawan bodrex, membuat orang-orang di dinas-dinas atau lembaga-lembaga sakit kepala,” kata Je, terutama bagi wartawan.

Sekolah menengah atas non unggulan di suatu daerah. Banyak kejanggalan di dalamnya. Siswa suka membuat gurunya sakit kepala atau sebaliknya. Kurikulumnya tak jelas, dijalankan seadanya. Lulusannya juga kerap masyarakat pusing. Bagi yang demikian, mungkin, disebut SMA bodrex.

“Lalu,” kata Je, “suatu masa rakyat sebuah negeri krisis kepemimpinan. Mereka sakit kepala. Han abeh pike tepatnya.” Lalu mereka amat menginginkan adanya pemimpin yang bisa menghilangkan rasa sakit itu. Pas digelar pemilihan, mereka memilih pemimpin yang saat kampanye berjanji akan mengusir rasa sakit kepala rakyat.  

“Tapi,” Je menekankan, “eeh, begitu ia memimpin, malah rakyatnya makin sakit kepala. Kalau tadinya cuma disebut sakit kepala, maka saat pemimpin itu, bisa digolong super sakit kepala. Dasar pemimpin bodrex!”

Kebodrexan pemimpin itu lambat laun tertular hingga ke rakyat jelata. Dinas-dinas bodrex, akademisi bodrex, kampus bodrex, doktor bodrex, pejabat bodrex, teungku bodrex, semua bodrex.

Takutnya tanah kita ikutan jadi bodrex, kata Je, sehingga kalau mati dikuburlah dalam liang bodrex. “Jadilah kita negeri bodrex. Kalau begitu, saya juga bodrex, pembaca bodrex, siapa saja bodrex! Dasar bodrex!”[]    

(CP HA 20/10/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s