Hujan yang Adil

Ketika hujan mengguyur bumi, hanya dua reaksi manusia. Satu pihak menginginkannya agar tak turun. Satu lagi sebaliknya. Hitungan-hitungan, orang bisa kaya dan bangkrut karena hujan.

Seperti sebuah hukum alam, setiap bulan Masehi berakhiran “ber” di daerah tropis, biasanya musim penghujan. Mulai September hingga Desember. Dan pada pucuk Oktober 2011, negeri kelahiran Je yang banjir kasus korupsi sedang musim penghujan.

Sebagian orang, memanfaatkan momen demikian guna memeroleh rupiah melimpah. Je, tiba-tiba saja, membuka usaha doorsmeer. Ia pun selalu menginginkan agar hujan turun, setidaknya dua kali dalam seminggu. Tarifnya pun dinaikkan. Dari Rp10 ribu per roda dua, jadi Rp12 ribu.

Keinginan Je bertolak belakang dengan Abu Pakeh. Lelaki tua itu sudah membuka usaha jualan es kelapa muda dan air tebu sebelum memasuki bulan berakhiran “ber”, sejak Agustus, bertepatan dengan Ramadhan 1432 H. Maka setiap malam Abu Pakeh memanjatkan doa agar jangan sering-sering turun hujan.

Abu Toy Sijoy sangat marah jika sempat mendengar doa Abu Pakeh. Pasalnya lelaki super tua itu sangat membutuhkan air untuk kelancaran menggarap berhektare-hektare sawah. Warga Kecamatan Beutoi sedang memulai bercocok tanam. Sebagai keujruen blang (warga setempat menyebutnya Menteri Pertanian), Abu Toy Sijoy tentu tak mau mendengar ocehan warga. Maka para petani amat merindukan hujan.

Suatu siang, Je melihat si empunya mobil sport yang sedang dicuci karyawannya di doorsmeernya. Je memerhatikan, si pemilik mobil awalnya senang seperti membayangkan sesuatu yang akan terjadi ke depannya dengan hasil menggembirakan.

Namun, hanya beberapa menit usai Jazz Hondanya mengilap seperti baru, pas ketika si pemilik menutup pintu mobil hendak melaju, “brum!” hujan turun. “Pukee wang! Dasar hujan!” kata pria dengan pakaian kantoran itu. Je hanya mengulum senyum bersama anak buahnya. Lalu, mobil itu balik lagi, dan cuci lagi. “Boleh, tambah ongkos,” kata Je.

Di hari yang sama, malamnya, hujan turun lagi ketika Je tengah bekerja di kantornya. Jam 10 atau begitu kelar tugas, hujan turun begitu deras, seperti bebatuan jatuh di atap. “Ah, kenapa tidak nanti jam 11 aja hujannya,” keluhnya, sebab ia harus segera pulang sepuluh menit kemudian.

Pada detik yang sama, tetangga Aya, sangat bersyukur. “Alhamdulillah,” kata tetangga Aya sembari melihat rumahnya yang tak jadi hangus dilalap api. Padahal semenit lalu, bagian luar satu kamar rumah si tetangga baru saja dijilat lidah api, gara-gara arus pendek. Karena hujan, hanya terkelupas cat dan daun jendela saja yang terbakar.

Di lain tempat, Ari sedang jalan kaki bersama kekasihnya di Taman Sari, Banda Aceh. Tiba-tiba hujan turun. Lihatlah, bedak kekasihnya meluntur, sehingga tampaklah wajah originalnya: hitam! Sementara Ari, satu-satunya baju bersih tersisa, kuyup, sehingga ia terlihat sangat kurus. Kerangka badannya timbul, menembusi kaos oblongnya. Mereka merepet.

Dalam tempo serupa, Po Ramlah senyum-senyum saja. Warga dari manapun mampir ke kedainya di Gampong Buhak, Pidie. Gorengannya diserbu. Ia terpaksa “meminjam” jasa tetangganya untuk malam itu saja. Bada, molen, tempe, tahu isi, boh keupila, bakwan, ludes dalam sekejap. Maunya hujan tiap malam, batin Po Ramlah.

“O, tak boleh,” sanggah Isan pada Pak Sule yang menginginkan agar hujan turun selalu supaya para calon kepala daerah kehujanan saat berkampanye nanti. Sedang Isan, sangat menginginkan agar tak turun hujan, selama November aja, karena kompleks perumahan milik ayahnya sedang dalam tahap pengecatan. Maka jika cepat selesai, ia banyak duit, karena kemungkinan sudah banyak yang membeli/menyewanya.

Pada saat bersamaan, negeri yang melanda kekeringan seperti Somalia, sangat mengharapkan hujan. Saat itu pula, lahan tandus dan makhluk haus di entah dimana, sangat merindukan hujan.

Pada hakikatnya, bukan salah hujan kalau ia turun atau tidak. Tapi manusialah yang harus sadar, bahwa ia telah menuduh hujan yang tak baik-baik. Padahal hujan itu adil. Ia rahmat bagi sekalian alam. Yang manusia butuhkan adalah, “bagaimanapun, nikmat hujan akan terasa sebelum, sedang, dan setelah ia turun.”[]    

(CP HA 26/10/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

3 thoughts on “Hujan yang Adil”

  1. “Pukee wang! Dasar hujan!” kata pria dengan pakaian kantoran itu. Je hanya mengulum senyum bersama anak buahnya. Lalu, mobil itu balik lagi, dan cuci lagi. “Boleh, tambah ongkos,” kata Je

    ****
    endingnya,, mantap…

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s