Uji Baca Koran

Para lelaki muda, tua, terutama orang kantoran, seperti tak semangat hidup jika belum membaca koran ketika pagi baru lepas dari pangkalnya. Sampai-sampai, mereka melupakan Quran, sehingga tak bisa membacanya lagi dengan fasih ketika dites suatu saat.

Tetua-tetua Aceh semisal Abu Pakeh, Abu Toy Sijoy, begitu subuh berlalu, mereka sudah mendatangi warung-warung di kampung. Terkadang duluan mereka dari pemilik kedai. Sekitar sejam duduk sambil menikmati kupi boh manok (kopi campur telur kampung) dan sepotong payeh (pulut), agen koran lokal mampir.

Biasanya, ketika koran tiba, para pelanggan (itu-itu aja), sudah belasan. Lalu, mereka rebutan koran. Nah, untung jika Abu Toy Sijoy tak mendapat duluan. Sebab kakek usia 70-an itu membaca satu berita bisa setengah jam!

Dengarlah, ia membacanya nyaring dan mengejanya per huruf. Hitung saja, ada berapa berita dalam satu halaman koran, dan harus menunggunya berapa jam?

Setelah membaca suratkabar, para lelaki itu tampak bergairah. Mereka pulang ke rumah, lalu berangkat lagi. Semisal ke sawah, kebun, kerja bangunan, kantor, masuk dinas di lembaga-lembaga, mengajar, atau menyambung tidur karena tak ada kerjaan.

Para ibu-ibu rumah tangga, kayaknya jarang baca koran, kecuali ada berita mengenai kampung mereka. Selebihnya, mendengar dari suami, jika Yah si Gam mau meyambung informasi. Maka dari itu, Ma si Nyak agaknya ketinggalan informasi.

Namun kini atau ke depan, para ibu rumah tangga tak perlu mendengar berita dari suami, tapi cukup membacanya melalui telepon genggam berfitur internet jika para suami mau membelinya.

Kiranya semua golongan usia, kecuali di bawah sepuluh tahun, gemar membaca koran. Mengetahui kejadian-kejadian di luar kediamannya itu perlu untuk menambah informasi dan wawasan, juga pendidikan dan hiburan, jika suratkabar yang dibacanya itu benar-benar menerapkan fungsi jurnalistik tersebut.

Namun sayangnya, budaya membaca koran patut diduga sudah menyingkirkan budaya membaca Quran. Sebagai contoh faktanya, kata Je pada Abu Toy Sijoy ketika ia pulang kampung kemarin, ada salah satu bakal calon wakil gubernur Aceh periode 2012-2017 yang tingkat membaca Qurannya seperti bocah baru mengenal kalamullah itu.

Maka jika misalnya tiba-tiba, dibikin acara Uji Baca Quran versus Uji Baca Koran, “yakin dan percaya,” kata Je, “pasti lebih banyak orang yang tersenyum bangga setelah uji baca koran dan lebih banyak orang yang tersipu diiringi keringatan setelah uji baca Quran,” tegasnya pada Abu Toy Sijoy yang belakangan ini katanya sudah lebih sering baca Quran, karena sudah tua, mau mati![] 

(CP HA 27/10/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s