Bapak Rumah Tangga

Krisis ekonomi telah membalikkan suatu kebiasaan di Aceh. Banyak suami-suami menjadi Bapak Rumah Tangga (BRT), apalagi suami-suami takut istri.

Dari 4,5 juta penduduk Aceh (data BPS 2010), sepertinya, satu dari sepuluh suami menjadi BRT. Seperti Pak Sule. Istrinya seorang guru. Maka begitu Buk Fatimah berangkat ke sekolah jam delapan pagi, Pak Sule “ditugaskan” menjaga anak-anak.  

Buk Fatimah pulang jam satu siang. Ia pun meminta suaminya melanjutkan jaga dua anak mereka, sembari menunggu makan siang siap saji, setengah jam kemudian. Sudah itu, keduanya makan. Si istri merasa kecapaian. Kemudian tidur. Pak Sule kembali diminta menjaga anak-anak.

Kebiasaan itu terus berlanjut hingga genap tiga tahun usia pernikahan mereka, tepatnya ketika Buk Fatimah sedang menghamili calon anak ketiga.

Tak mau dijadikan “baby sitter”, Pak Sule pun berpikir mencari pekerjaan. Ia mengikuti tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), bermodal ijazah S1 (sarjana) dari Fakultas Keguruan sebuah perguruan tinggi di Aceh.

Itu derita Pak Sule. Lihatlah di Inggris. Krisis ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih membawa akibat lain di negeri Britania Raya itu: meningkatnya jumlah pria menganggur dan tak lagi menjadi pencari nafkah utama. Survei terbaru menyebutkan, satu dari tujuh suami di Inggris kini menjadi BRT. Lebih parah.

Kini, terdapat sekitar 1,4 juta pria yang menjadi penanggungjawab urusan domestik–mulai memasak hingga pengasuhan anak. Angka ini meningkat dua kali lipat dari dekade lalu.

Seperti diberitakan Republika Online 25 Oktober 2011, di antara mereka, 43 persen mengaku beruntung mempunyai kesempatan untuk tetap tinggal di rumah dan menonton anak-anaknya tumbuh. Namun 46 persen menyatakan, mereka menjadi BRT karena terpaksa dan ingin kembali bekerja sebagai pencari nafkah utama.

Penelitian juga menyebut, ada perubahan pola pengasuhan anak di Inggris dari semula 100 persen ditangani istri menjadi ditangani suami. Satu dari lima BRT merasakan hal ini sebagai ‘mengurangi nilai kelelakiannya’.

Namun, satu dari delapan pria menyatakan merawat anak adalah pekerjaan berat, lebih berat dari mengelola pekerjaan formal mereka sebelumnya.

Maka begitu Pak Sule lulus tes CPNS di kali kedua, segera mengajukan diri jadi guru honorer di sekolah tempat Buk Fatimah mengajar. Biar bisa barengan, dalam hal apapun. Lalu, anak-anak? Pasangan suami istri (pasutri) muda itu menitipkannya ke playgroup. Lebih bagus, dibanding ke orangtua (nenek si anak) mereka.[]

(CP HA 31/10/11)

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s