Malu Jadi Petani

Sebagian pemuda atau remaja Aceh malu menjadi petani. Mahasiswa ketika ditanya profesi orangtuanya oleh dosen saat hari pertama masuk di semester baru, malu menyebut ayah atau dan ibunya petani. Padahal biaya kuliah mereka diperoleh dari ie blang (air sawah).

Aya lahir di kampung berpenduduk mayoritas masyarakat tani. Semasa Sekolah Dasar, ia sangat suka ke sawah. Apalagi ketika padi mulai lebat, ia sering jak paroh tulo (mengusir pipit) sembari santai di jambo. Namun, begitu masuk Sekolah Menengah Atas, ia mulai tak suka lagi ke sawah.

Di usia Anak Baru Gede (ABG), Aya makin tak suka ke sawah. Tak boleh lagi kena ie blang. “Iii, jorokkk, luhop,” katanya ketika melintasi pematang saat sesekali mengantar makan siang untuk ayahnya. Aya takut kuku kakinya ceumeukam.

Ceumeukam merupakan penyakit peradangan kuku akibat pertumbuhan daging yang tak sempurna pada kuku, biasanya pada jempol. Dalam bahasa ilmiah disebut paronychia. Ia bisa berinfeksi (bernanah bahkan berdarah) setelah terkontaminasi bakteri.

Karena takut terkena paronychia, Aya dan kebanyakan remaja Aceh lainnya jadi tak suka ke sawah. Soal itu lumayan dimaklumi. Tapi keterlaluan ketika ia gengsi gede-gedean untuk mengakui ayah atau ibunya adalah seorang petani. Apalagi ia sedikit rupawan: punya kecantikan yang dicantik-cantikan, punya kegantengan yang diganteng-gantengkan.

Namun, ada penyebab lain yang membuat orang tak suka jadi petani, yaitu status sosial. Petani dianggap lebih rendah dari profesi lainnya. Ada pula yang membenci petani. Padahal kalau “manusia tanah” itu tak ada, mereka—terutama yang beli beras—bakal mati kelaparan.

Pada pucuk Oktober 2011, Je menjelajahi Brunei Darussalam. Ia tercenung setelah menelaah ceramah Imam Masjid Jame Ashar Hassanil Bolkiah, Dato Seri Setia Awg Haji Lamit bin Haji Ibrahim, saat perayaan Hari Petani dan Nelayan di sana, Senin (31/10).

“Menjadi seorang petani atau nelayan adalah pekerjaan saleh. Kalian harus bangga, sama seperti saudara kalian yang bekerja sebagai guru, dokter dan profesi lainnya,” kata Dato Seri Setia, sebagaimana diberitakan Republika Online, Selasa (1/11).

Pertanian, peternakan dan perikanan membawa peluang besar bagi komunitas Muslim untuk menciptakan peluang kerja dan investasi. Apalagi industri produk halal tengah berkembang di dunia.

“Pertanian, peternakan dan perikanan merupakan sumber daya yang harus dimanfaatkan dengan bijak. Ketiga sektor itu kini menjadi lebih dikomersialisasikan, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Dato. 

Menjadi seorang petani atau nelayan setara dengan profesi lainnya, karena kata sang imam, Allah SWT memberikan rezeki bagi hambanya yang hendak bekerja keras. Semua itu disampaikan Dato karena selama ini ada warga Brunei Darussalam yang malu jadi petani.

“Bereh, bagus,” komentar Je, setelah mengunjungi salah satu negara Asia Tenggara itu melalui dunia maya. Ha-ha. “Nah, masih malu mengaku orangtua kita petani? Masih malu menjadi patani?” kata Je pada Aya yang kuliah di Manda, ucapan sebagian orang Aceh untuk Kota Banda Aceh.[]

(CP tak lulus)

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s