Angpau

Enaknya menjadi anak-anak, terutama ketika lebaran tiba: celengan bakal penuh; cita-cita membeli sesuatu bakal tercapai; ke rumah siapapun mengharap angpau alias salam tempel. Itu pula yang membuat Je dan Ari muda ingin kembali ke masa kanak-kanak.

Hingga hari ini, Idul Adha 1432 Hijriah ketujuh, Je tak mendapat rupiah sepeserpun. Tiada angpau, tiada daging kerbau. Kecuali pikiran yang kacau. Malah ia dilirik-lirik para bocah dan ibu-ibu rumah tangga.

Kini giliran Je yang harusnya tangan di atas, memberi angpau kepada keponakan, anak-anak tetangga, dan barangsiapa yang berhak lainnya. Maklum, sejak setengah tahun lalu, Je sudah ketahuan orang kampung kalau ia sudah bekerja sambil kuliah. Dan tak perlu diumumkan di meunasah, warga sudah tahu kalau Je anak si pulan sudah bergaji. Bolehlah.

Sudah dua lebaran dilalui Je demikian. Ia pun maunya sudah jadi pengantin baru jika mengingat dirinya tak mendapat angpau karena sudah berstatus pekerja. Bagi pengantin baru di Aceh, selama hari raya, mempelai pria akan berkunjung ke rumah saudara mempelai wanita. Begitu juga sebaliknya.

Nah, di akhir dari bertamu, saat hendak pamit, kedua pengantin baru akan dipeureugam (disalamtempelkan) oleh tuan rumah. Bayangkan ada berapa rumah yang dikunjungi selama lebaran. Hitung-hitung, lumayan juga dapatnya. Ha-ha. Asyik kan? “Hanya sesaat,” batin Je. Ia pun melupakan kawin muda, tetapi tuntutlah ilmu lebih dulu.

Lain lagi dengan pikiran Ari. Ia juga mengalami hal yang sama dengan Je dalam dua lebaran terakhir. Ketika mengingat tak mendapat angpau, Ari maunya jatuh sakit ketika hari raya. Lalu meminta barangsiapa orang terdekatnya agar mengumumkan pada siapa saja bahwa ia lagi terbaring sakit di rumah orangtuanya di kampung.

Ari sudah bekerja, sudah gajian. Lebaran haji ini ia berencana tak mudik, mengingat banyaknya kemenakan dia di kampung. Ada 20 lebih. Maka setidaknya ia harus menyediakan angpau Rp100 ribu untuk masing-masing lima ribu. Itupun mendapat cibiran, jumlahnya sangat kecil, kata keponakannya nanti.

Namun Ari pulang kampung juga, pas setelah mendapat setengah dari gajinya karena tempat ia bekerja sedang krisis moneter. Nah, ketika pulang, ia mendoakan agar mengalami kecelakaan supaya banyak yang menjenguk nantinya lalu mendapat uang. Tapi Tuhan tak mengabulkannya. Barangkali, Ari sudah saatnya belajar menjadi dermawan, meski hanya untuk sekawanan anak-anak saudara kandungnya.

Dan beberapa hari di kampung, tiga hari raya, tak seorangpun tamu menyalaminya kali kedua, di mana biasanya, jabat tangan kedua saat pamit pulang itu akan dipeureugam. Ari merasa sedih, padahal itu tak perlu. “Justru kamu harus banyak-banyak peureugam (memberi),” anjur Je, meski ia tak melakukannya, alias yue-yue gop manteng.

Karena itu, Je dan Ari teringat masa kecil mereka. Ketika lebaran, mendatangi setiap rumah, terutama rumah orang kaya. Selain banyak kue lebaran di mana kacang-kacangan bisa masukin kantong baju untuk dibawa pulang, juga berharap banyak diberi uang. Namun pada kenyataannya, mereka lebih banyak merepet begitu keluar rumah orang kaya. “Orang kaya pelit, masa angpaunya segini?” gugat mereka dalam bahasa Aceh yang kental.

Ah, itu masa lalu Je, Ari, dan anak-anak Aceh lainnya. Kini, barangsiapa, mari berderma. Sesekali tangan di atas, bukan selalu tangan di bawah. Dengan filosofi lain, ibarat sekaleng yang penuh dengan kue lebaran: kita harus mengosongkannya sedikit-sedikit agar bisa memuat yang baru.[]

(CP HA 12/11/11)

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s