Lotre Gubernur

PENDAFTARAN bakal calon gubernur dan wakil gubernur pascaputusan sela Mahkamah Konstitusi telah ditutup pada 10 November 2011. Ditambah yang mendaftar sebelum turunnya putusan sela, maka sudah mencuat empat bakal calon gubernur dan wakil gubernur Aceh periode 2012-2017. Keempat pasangan itu, Muhammad Nazar-Nova Iriansyah, Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan, Ahmad Tajuddin (Abi Lampisang)-Suriansyah, dan Darni Daud-Ahmad Fauzi.

Jumlah itu kontras dengan prediksi sebagian masyarakat Aceh kalau pemilihan orang nomor satu Aceh akan banyak yang mencalonkan diri. Barangkali seperti pelanggan yang mengharapkan uang tunai sepuluh ribu dalam makanan ringan dimana pada kemasannya bertuliskan “raih hadiah langsung uang tunai mulai seribu sampai sepuluh ribu rupiah”, namun ketika dibuka malah mendapat tiga ribu saja.

Di balik kemasan politik itu, ada hal menarik lainnya dalam bursa kandidat gubernur Aceh kali ini. Ada ilustrasi seperti anak-anak membeli lotre berhadiahkan macam-macam mainan di dalamnya.

Kisah pembeli lotre

Anak-anak sangat menggemari lotre, sebagaimana Karun yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Suatu hari ia merengek pada ibunya, minta duit untuk beli lotre. Ia cemburu pada rekannya yang sudah duluan beli lotre. Sang ibu senang memberikannya dengan harapan si anak makin mencintainya.

Karun kemudian menuju kios tempat kawannya membeli lotre di sudut kampung. Karun sebagaimana rekannya, mengharapkan dengan beli lotre dapat nomor tertentu yang berhadiah besar.

Kebanyakan pembeli lotre menginginkan dirinyalah yang harus dapat nomor satu, karena disediakan hadiah cuma-cuma berupa (misal) jam dinding, mobil-mobilan, handuk, atau pistol mainan. Pembeli lotre seperti kecewa berat ketika hanya mendapatkan nomor terbelakang, misal meraih nomor 36 sampai 100 yang hadiahnya sama: sehelai kartu gambar atau sebuah gasing.

Karun tiba. Anak-anak lain sudah lebih dulu membelinya. Ia mendapati hanya dua raut muka: murung dan ceria. Lalu ia membeli lima kupon lotre dengan uang lima ribu rupiah dan berharap akan berwajah ceria. Tapi Karun kecewa kemudian, ia gagal meraih cita-cita itu. Ia hanya dapat nomor terbelakang.

Bukan pembeli lotre sejati namanya kalau mudah menyerah. Gagal sekali, Karun mencoba lagi. Dari kios penjual lotre, ia pulang ke rumah. Lalu meminta uang lagi pada ibunya. Namun tak diberikan. Karun merewel dengan gulir-gulir diri di lantai rumah. Ia sangat menginginkan hadiah utama. Ia menangis sampai sang ibu memberinya uang lagi. Sekasar apa pun seorang ibu, luluh juga hatinya. 

Mendapat kesempatan kedua, Karun lari ke kios penjual lotre seraya melompat-lompat dengan gembiranya. Di sana ia beli lagi. Lima ribu rupiah untuk lima kupon. Ia sempat senang ketika membuka kupon terakhir yang mulai tampak angka satu. Ia girang dan melompat-lompat. Padahal dia belum tuntas membuka gulungan kupon itu. Begitu melanjutkannya, ia tertunduk lesu. Angka 91 ternyata.

Usaha pertama dan kedua gagal. Karun mencoba kali ketiga. Ia seperti memegang anggapan sebagian orang, bahwa percobaan ketiga bakal sukses. Namun Karun tak lagi punya uang. Ia hendak pulang minta lagi pada ibunya. Tapi enggan dilakukan. Ia berinisiatif mengutang saja. Ya, dia kemudian mengutang. Beli lima lagi. Dan, ia kembali mendapat nomor kurang beruntung. Dia pulang ke rumah dengan wajah murung. Ke depannya, ia cuma punya dua pilihan: mencoba lagi atau berhenti saja.

Kandidat gubernur

Dulu, sebelum dibuka pengambilan formulir pendaftaran bakal calon gubernur, ada beberapa kandidat muncul selain keempat pasangan di atas. Ada Tarmizi A Karim, Otto Syamsuddin Ishak, Udin Pelor, Yusra Habib Abdul Gani, dan lain-lain. Selama itu, sepertinya posisi mereka sama dengan Karun si anak pembeli lotre.

Mereka diduga kuat sangat menginginkan hadiah utama, yaitu kursi nomor satu di Aceh. Ketika menang lotre, malahan bukan hanya memeroleh kursi, tapi juga akan mendapatkan mobil dan rumah mewah. Barangkali karena amat memimpikan hadiah utama itu, semua kandidat berlomba-lomba membeli “lotre”.

Dalam hal ini, rakyat adalah penjual lotre, timses kandidat adalah ibu si Karun, angka adalah hati rakyat. Lalu mereka berlomba-lomba membeli lotre. Dimintanya timses bantu mereka mencari dana dan dukungan lain. Sebagian kandidat mencetak spanduk, kalender, dan kaos bergambar kepala mereka dengan janji-janjinya lalu membagi-bagikan kepada rakyat secara cuma-cuma. Rela menghabiskan banyak uang demi mendapatkan angka satu.

Sementara bagi yang kurang mampu di segi finansial, cukup meramaikan saja, dengan membeli barangkali satu atau dua lembar kupon saja. Kemudian mereka dapatkan kartu gambar yang barangkali bisa dipakai untuk melepas jenuh kemudian hari.

Selama bersaing, satu per satu kandidat gugur pada pendaftaran atau tak jadi maju. Yang gugur itu sama nasibnya seperti Karun. Sudah mencoba berkali-kali namun belum beruntung juga. Padahal sudah banyak menggelontorkan dana. Namun pada akhirnya, sampai hari penutupan pengambilan formulir, hanya ada beberapa nama yang bertahan.

Dan kini sudah memasuki “grandfinal” yang akan digelar pada 16 Februari 2012. Hanya ada empat calon gubernur: Irwandi Yusuf, Muhammad Nazar, Abi Lampisang, dan Darni M Daud. Mereka juga patut diduga sangat menginginkan hadiah utama, yaitu kursi nomor satu di Aceh.

Berharap saja ketika di antara mereka mendapatkan hadiah utama, semoga memperlakukan hadiah itu dengan sangat baik. Misal hadiah utama itu berupa sehelai handuk, barangkali yang pertama dilakukan adalah mengelap tubunya. Setelah itu mengelap tubuh timses yang telah membantunya.

Baru kemudian ketika banyak benih penyakit kulit menempel di bulu-bulu handuk, dilemparkanlah buat rakyat yang telah menanti-nanti giliran menikmati handuk tersebut. Pun begitu, kita berharap yang terpilih nanti pemimpin yang mau mengeringkan tubuh rakyatnya terlebih dahulu, baru diri dan timsesnya.[]

Penulis adalah mahasiswa prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry

(Opini Serambi Indonesia 12/11/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s