Ditipu, Dipuji, dan Dibogem

Syafruddin dan Indrayani

Dengan nada tinggi, “Tanyoe dipeubangai lee awak Medan. (Kita dibodohi orang Medan),” ujar Indrayani, “Minyeuk dijampu dengan ie (minyak dicampur dengan air).” Bola matanya berkaca-kaca sembari menampar dinding bilik penyimpanan minyak pala (Myristica fragans houtt) hasil sulingan di desa Pucok Krueng, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan miliknya.

Suatu hari di pertengahan 2002, Indrayani memboyong minyak pala ke Medan meski waktu itu Aceh sedang konflik bersenjata. “Saya nekat pergi,” ceritanya.

Di kota Medan, ada tiga tempat yang biasa menampung minyak pala asal Aceh yang dibawanya. Yakni Arum Segar, Aroma, dan Karimun. Hari itu ia membawanya ke Arum Segar yang beralamat di Jalan Timor, Kota Medan.

Indrayani melihat tingkah aneh agen Medan keturunan Tionghoa saat mengemaskan minyak pala bawaannya. Si Agen itu mencampur benda asing ketika minyak pala dipaket dalam jirigen dan drum.

“Ini apa?” Tanya Indarayani kepada agen tersebut. “Kalau dikirim ke tempat lain, minyak pala ini harus dicampur dengan air 30%,” ceritanya mengikuti langgam ucapan agen Medan itu.

“Nah,” sambung Indrayani, “Mereka mencari cara agar minyak pala Aceh tidak bermutu, ditekan harga!” Ia tampak geram.

“Jadi jangan lagi kita dikerjain agen Medan. Awak nyan troe publoe yang hana murni. Tanyoe hana leubeh dari 25% meutumee hasil jih (Orang Medan kekenyangan menjual yang tak murni. Kita dapat hasil tak lebih dari 25%).” Kesah Indrayani menutup cerita singkat itu.

Sampai suatu siang di Februari 2010 itu, Indrayani yang mengenakan kaos berkerah biru tua dipadu celana jeans biru hari itu, masih mengelola pabrik penyulingan pala di desa Pucok Krueng. Pria kelahiran 1980 itu menjadi toke pala sedari 2001.

Kata Mukhlis Iman, anak buah Indrayani, penyulingan pala di desa Pucok Krueng masih sangat belia; baru beroperasi satu bulan. Sebelumnya penyulingan pala hanya ada di Tapak Tuan, tepatnya di Batu Hitam yang sudah lama beroperasi. “Saya tidak ingat lagi tahun berapa,” kata Mukhlis Iman sambil mengernyitkan keningnya. Asap kretek berpulau-pulau dan mengumpul di mukanya.

Pala yang disuling di sini merupakan produk asli Pucok Krueng. Pala yang dihasilkan warga, kata Mukhlis Iman, per hari mencapai 150 kilo gram. Dulunya tempat penyulingan pala di desa Pucok Krueng ini digunakan untuk penyulingan nilam. Waktu itu mempunyai 6 ketel. Hari itu tinggal 2 lagi. Selebihnya hanya lobang-lobang tempat ketel yang masih membekas.

Ketel merupakan media utama proses penyulingan pala. Bentuknya menyerupai tabung besar. Sedikit lebih tinggi dari drum minyak. Setiap 1 ketel dapat menampung 100 kg pala mentah.

Beberapa menit kemudian, Syafruddin mampir ke pabrik penyulingan sederhana itu. Tangannya menjinjing sebuah botol besar air mineral. Rambutnya beruban. Usianya, “50 paih, hana leubeh (50 pas, tidak lebih),” gurau Mukhlis ketika saya menanyakan usia Syafruddin.

Syafruddin menjadi seorang pengusaha nilam sedari 1997. Pada 22 Desember 2009, dia bekerjasama dengan Alex, seorang pengusaha nilam asal Prancis di Banda Aceh. Mereka mengekspor 1300 kg minyak nilam ke Prancis.

“Nilam Aceh terbaik di dunia,” cetus Syafruddin menceritakan pendapat pengusaha minyak nilam Prancis. Minyak nilam dimanfaatkan orang Paris untuk membuat parfum.

Syafruddin mulai bekerjasama dengan pengusaha Prancis sedari 2 Mei 2009. Pada tanggal 2-3 Desember 2009 ia mengadakan rapat dengan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh, Haji Firmandes untuk mebahas ekspor komoditi nilam.

Syafruddin dan Indrayani

Nyoe lon cok sampel minyeuk pala untuk cuba tanyoe ekspor ke Prancis (Ini saya ambil sampel minyak pala guna kita coba ekspor ke Prancis),” ujar Syafruddin sambil menuangkan minyak pala ke dalam botol mineral tadi.

Di akhir bincang-bincang, mereka memohon semoga usaha mereka lebih sukses sejak 2011. Mereka berharap, pemerintah menetapkan harga standar biji dan minyak pala. “Karena selama ini petani pala banyak mengeluh tentang naik-turunnya harga biji pala,” ungkap Indrayani.

***

Maisura tengah bersimpuh di rangkang bambu. Tangan perempuan berusia 50 tahun itu cekatan menyulam kopiah meukutop. Ia mengenakan kaos putih bercorak biru dan sarung batik. Rambutnya beruban, tak menutup kepala. Berkulit hitam manis. Empat perempuan lain duduk mengelilinginya.

Di halaman rumahya yang kokoh di desa Garot Cut, Kec. Indra Jaya, Pidie, pakaian-pakain tersampir di tali jemuran yang terikat ke pilar Rumoh Aceh (rumah panggung). Pagi itu sejuk.

“Tamat SMP (Sekolah Menengah Pertama), anak-anak segera kami ajari membuat kupiah meukutob (kopiah meukutop),” kata Maisura pada pertengahan Mei 2010 itu. Ia terus menjahit.

Maisura mewarisi keahlian ibunya, Nek Syifa (almarhumah, 70 tahun tutup usia). Ia diajari sejak kecil sampai ia terampil. Kini, giliran Maisura mengajari anak-anak dan tetangganya sehingga mereka bisa merawisi keterampilan ini turun-temurun.

Di atas dua rangkang yang digelar di teras berlantai tanah nan hijau berlumut, Maisura dan “pasukannya” berkumpul sedari pagi hingga petang.

Saban hari mereka meyulam topi adat Aceh ini. Kecuali ketika mereka turun sawah. Usai pulang dari sawah atau lepas dari kegiatan lain, mereka segera berteduh di bawah randang Rumoh Aceh milik Maisura itu guna menjahit kopiah meukutop.

Maisura dan anak-anak beserta tetangganya hanya membuat kopiah dasarnya saja, yakni badan kopiah dan kupula (kepala; berada di atas dan disambung dengan badannya). Sedangkan mahkota, kain songket, dan pernak-pernik lainnya akan dipasang pihak souvenir setelah dijual pada mereka.

Membuat kopiah itu tak bisa dijahit dengan mesin, tapi harus menyulam dengan tangan. Satu kopiah akan selesai dijahit dalam satu minggu. Itupun sekitar 10 orang yang membuatnya. Guna menyiasatinya, mereka bagi tugas. Sebab bila membuat seorang diri, butuh waktu sampai sebulan.

Ureung bingkeng han jeut cop nyoe (Pemarah tidak bisa menjahit kopiah ini),” kata Sabariah menyarankan. Ia tetangga Maisura. Usianya 20 tahun. Ya, mereka sangat hati-hati dan bersabar dalam menjahitnya.

Patah kiieng bak taduek sabe (Mau patah pinggang kalau duduk melulu),” celutuk Nina, teman Sabariah. Aura gadis 19 tahun itu tetap memancarkan semangat seraya terkekeh.

Pakon yang cop kupiah nyoe ureung inong mandum? Padahai nyoe kon pakaian ureung agam? (Kenapa yang menyulam kopiah meukutop ini perempuan semua? Padahal ini kan pakaian pria?)” Tanya saya.

Menyo nyoe buet, ureung agam leubeh mangat geuduek bak bale jaga (Kalau ini kerjanya, para lelaki lebih suka duduk-duduk di pos ronda),” ujar Marliah, 35, tetangga Maisura. Sinis.

Selain dipicu sifat malas, kaum Adam memang sulit menjahit kopiah meukutop. Ia butuh kelembutan gerakan tangan dan kesabaran yang tinggi. Begitu kata Maisura. Padahal kalau jaman dulu, “Yang menjahit badan kopiahnya hanyalah para lelaki,” tambahnya.

Pada pertengahan 2006, putri Maisura, yaitu Mutia dan kawan-kawannya mendirikan kelompok menyulam bernama “Meutuah Jaroe” yang didanai oleh sebuah perusahaan Jerman yang bergerak di bidang pakaian tradisional. Mereka diberi upah Rp25 ribu per bulan. Seiring perusahaan itu habis masa tugasnya di Aceh pada pertengahan 2009, kelompok itupun bubar.

“Kalau ada kelompok banyak rapatnya. Lagi nyulam bentar-bentar dipanggil untuk ikut rapat,” kata Mutia, kesal.

Lain lagi dengan “Bungong Seulanga”, kelompok yang diikuti Yusra pada 2005. Ini didanai oleh Dinas Perindustrian. Kelompok ini hanya berjalan setahun. “Kami dibayar Rp 300 ribu selama hampir setahun kami bekerja,” kenang Yusra. Ia menambahkan dengan menduga, anggaran banyak digunakan oknum Dinas.

Kegiatan Maisura dan kawan-kawannya kerap dijadikan referensi oleh mahasiswa, baik dalam maupun luar negeri. Seperti awal Mei 2010, sepasang mahasiswa asal Jepang berkunjung ke tempat mereka. “Sungguh mengherankan kerajinan ini,” ujar Maisura meniru pendapat mahasiswa negeri Matahari Terbit itu.

“Di mana ibu-ibu ini kuliah? Ambil S3 atau S4 di mana ini?” ujar Mutia lagi, meniru pertanyaan mahasiswa Jepang dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata.

Saking herannya, selain dipuji, mereka ditanyakan berkali-kali cara membuat kopiah meukutop oleh mahasiswa Negeri Sakura itu. S3 singkatan dari strata tiga untuk meraih gelar doktor.

Namun latar belakang keterampilan mereka tidaklah seperti yang dipertanyakan mahasiswa asal Jepang itu. Mereka hanya tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP), kecuali Nina yang lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Kalau kami melanjutkan pendidikan lebih tinggi, siapa yang membiayai adik-adik kami sekolah?” kata Mutia. “Saya rela tidak melanjutkan kuliah agar adik-adik saya bisa terus sekolah minimal hingga tamat SMA,” sambungnya.

Mutia mengharap agar pemerintah Aceh membantu pendanaan usaha kerajinan mereka. Hingga hari itu, mereka mengeluarkan modal sendiri untuk membeli perlengkapan pembuatan kopiah meukutop, semisal kain, benang, dan lain-lain.

Rumoh Aceh berkontruksi kayu itu seakan-akan menjadi saksi bisu kalau mereka adalah pembuat dan penerus sekaligus penjaga benda budaya Aceh tersebut, di samping menumbuhkan perekonomian mereka dengan mengharap lebih lancar usaha mereka pada 2011.

***

Sambil mengepulkan asap dari mulut, Muhammad juga berharap pada pemerintah Aceh atau pihak terkait supaya memberinya bantuan modal, “Setidaknya diberi lahan kosong gratislah,” katanya. “Karena sampai 12 Desember 2010, saya masih berkarya di atas tanah orang lain,” sambungnya.

Kepulan asap rokok hampir menyamarkan kumis tebal yang melingkari bibir atas Muhammad. Celana batik dan baju salah satu partai politik berwarna biru-putih yang di dadanya terpacak foto seorang lelaki berpeci membungkus tubuhnya.

Baru saja ia merapikan puluhan pot bunga yang telah dicat dengan warna hitam, coklat, putih, dan merah serta ditelanjangi di bawah terik mentari sore di depan sebuah gubuk.

Lelaki berusia 41 tahun itu sudah sejak 1989 menjalani usaha pembuatan vas bunga dari semen. Sampai minggu kedua Desember 2010 itu ia masih cinta pada kreatifitas yang didapatnya dari hanya melihat orang lain membuat pot suatu kali saat bekerja di Banda Aceh. “Membuat pot ini tak lekang dari hidup saya,” ujar ayah tiga anak itu dalam bahasa Aceh.

Saat merantau ke Banda Aceh pada 1989, suatu hari Muhammad melihat pegiat kreasi membuat vas bunga di sebuah toko kerajinan tangan di Simpang Bathoh, Lueng Bata.

Setiap kali pulang kerja, selalu dipandangnya ke tempat pembuatan pot itu. Lalu lelaki berperawakan sedang itu tertarik. Saat pulang kerja berikutnya, ia singgah di sana dan memperhatikan cara pembuatan pot bunga selama dua hari beruntun.

“Saya tertarik melihatnya lalu berniat untuk menggelutinya. Lagian, kerja bangunan capek sekali dan sering tak dapat gaji. Tujuan kita merantau adalah mencari masa depan sambil bekerja. Karena keterampilan itu kreatif dan mempunyai masa depan, ya saya coba,” kata Muhammad sambil mengisap kretek dan duduk di dalam gubuk berukuran sekira 2 x 1 meter itu.

“Untuk belajar membuat ini tidak perlu bawa pulpen dan buku. Apalagi saya ini pengaduk semen. Pot itu kan dibuat dari semen,” katanya meyakinkan.

Kemudian, saat tekad bulatnya untuk menambah profesi baru sudah digenggam erat, ia pulang ke kampung halamannya di Beureunuen, Pidie. Di sanalah ia menunaikan cita-citanya. Lelaki berambut ikal itu mengerahkan segala usahanya agar bisa membuat dan menjajakan pot bunga. Maka ia berjualan di Simpang Tiro, Beureunuen.

“Alhamdulillah saat itu banyak yang laku. Karyawan bank sering membelinya saat pulang kerja. Juga orang-orang Bireuen sering membawa pulang pot bunga ini ke kampung halaman mereka.” Muhammad menyungging senyum renyah.

Apalah daya kemudian hari disebabkan saat itu sedang mendidihnya konflik bersenjata di Aceh. Muhammad tak nyaman untuk mempertahankan usahanya yang baru seumur jagung.

Beruntung atau tidak, ia memilih meninggalkan kampung demi menghindar tapak sepatu PDL yang kerap menerjang punggung warga sipil. “Han ek tatheun tapak awak nyan (Tak sanggup kita tahan terjangan tapak sepatu mereka: tentara),” ketusnya garang.

Karena sebelumnya, saat mengerjakan suatu proyek dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama orang sekampungnya, Muhammad mengaku dipukuli hanya karena lelah dan beristirahat sebentar. “Ditumbok karap han jeut tapeuleueh nafah (Dibogem sampai kita hampir tak bisa menghela nafas),” kenangnya.

Selain itu, ia mengaku juga pernah dikasari TNI saat malam puasa Ramadhan sekitar tahun 1993. Itu hanya gara-gara ia kedapatan begadang. Padahal kata dia, begadang merupakan rutinitasnya sebagai seorang pengrajin pot bunga. Dan memang saat itu ia begadang sambil mencetak pot bunga sebagaimana lumrahnya. Ia pun diminta push-up dan scot jump.

Pada 1994, Muhammad pun pergi ke Batam. Setahun kemudian ia pulang. Tak lama berselang, lelaki berkulit hitam legam itu hijrah ke Takengon. Di kota dingin itu, ia kembali membuat pot bunga. Setelah 3 tahun di sana, ia mengadu nasib ke Idi, Aceh Timur.

Di Idi, Muhammad membuat dapur batu-bata dengan modal sendiri dari hasil berjualan pot. Kata dia, ia ditipu sama mitra kerjanya selama di Idi. Sehingga ia menanggung rugi dan usaha dapur batu-bata pun tutup usia.

Sulitnya mengarungi arus jeram kehidupan di Idi juga dirasakan selama ia melaut di sana. Menjadi nelayan–sebagai kerja cadangan–Muhammad merasa ditipu pemilik boat yang kurang membayar upahannya. Walau demikian, ia sempat juga menikahi seorang perempuan Idi pada 1999.

Namun tak tahan kerasnya hidup di Aceh Timur, Muhammad hengkang dan memilih pulang ke kampung halamannya awal 2000. Suasana mencekam masih menyelimuti tanah kelahirannya. Tak mau lama-lama di kampung, ia pun hijrah lagi ke Banda Aceh pada 2001. Tak berapa lama setelahnya, ia balik lagi ke Beureunuen.

Baru pada 27 November 2010, Muhammad kembali ke Banda Aceh dengan membawa istri dan ketiga anaknya. Mereka menetap di Desa Santan, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.

Sejak menetap di Ingin Jaya, Muhammad benar-benar ingin jaya hidupnya, dengan cara bekerja keras dalam menjalani usaha pembuatan vas bunga. Tak heran, jika ia bekerja sejak jam 2 dini hari sampai 7 pagi. Lalu sang istri dengan senang hati menggantinya kemudian. Sementara Muhammad mengantar anaknya ke Sekolah Dasar tak jauh dari ia tinggal.

Sebelum mengantar buah hatinya, Muhammad memuat barang dulu ke becak mesinnya untuk dijajakan. Setelah itu ia mengantar anaknya dengan becak sebelum mengelilingi kampung segala kampung untuk menjajakan buah tangannya.

Lalu, biasanya jam 10 pagi ia kembali lagi ke tempat pembuatan pot yang menumpangi tanah orang lain di pinggir jalan dan tepi sawah Desa Santan. Di sana, ia melepaskan lelah di sebuah gubuk reyot.

“Demi asoe kanot, lam ujeuen lon meukat (Demi mengasapi dapur keluarga, hujan pun mau saya jualan),” ujarnya seraya mengibas-ngibas kaki. “Target saya, dalam sebulan mulai 2011, harus selesai 15 biji pot. Saya harus mengejar target,” tambahnya mantap.

Dan sekali lagi Muhammad berharap pada Pemerintah Aceh maupun pihak terkait, supaya memberinya bantuan modal untuk beli tanah kosong, guna menyongsong pertumbuhan perekonomian rakyat Aceh ke depan.[Makmur Dimila]

(Feature HA 11/11/11)

Catatan: Feature ini telah dimuat tabloid Bungong edisi 47/Mei/2011 dengan judul “Ekonomi Janji”

haB �&ml��Xh�Tg lain membuat pot suatu kali saat bekerja di Banda Aceh. “Membuat pot ini tak lekang dari hidup saya,” ujar ayah tiga anak itu dalam bahasa Aceh.

Saat merantau ke Banda Aceh pada 1989, suatu hari Muhammad melihat pegiat kreasi membuat vas bunga di sebuah toko kerajinan tangan di Simpang Bathoh, Lueng Bata.

Setiap kali pulang kerja, selalu dipandangnya ke tempat pembuatan pot itu. Lalu lelaki berperawakan sedang itu tertarik. Saat pulang kerja berikutnya, ia singgah di sana dan memperhatikan cara pembuatan pot bunga selama dua hari beruntun.

“Saya tertarik melihatnya lalu berniat untuk menggelutinya. Lagian, kerja bangunan capek sekali dan sering tak dapat gaji. Tujuan kita merantau adalah mencari masa depan sambil bekerja. Karena keterampilan itu kreatif dan mempunyai masa depan, ya saya coba,” kata Muhammad sambil mengisap kretek dan duduk di dalam gubuk berukuran sekira 2 x 1 meter itu.

“Untuk belajar membuat ini tidak perlu bawa pulpen dan buku. Apalagi saya ini pengaduk semen. Pot itu kan dibuat dari semen,” katanya meyakinkan.

Kemudian, saat tekad bulatnya untuk menambah profesi baru sudah digenggam erat, ia pulang ke kampung halamannya di Beureunuen, Pidie. Di sanalah ia menunaikan cita-citanya. Lelaki berambut ikal itu mengerahkan segala usahanya agar bisa membuat dan menjajakan pot bunga. Maka ia berjualan di Simpang Tiro, Beureunuen.

“Alhamdulillah saat itu banyak yang laku. Karyawan bank sering membelinya saat pulang kerja. Juga orang-orang Bireuen sering membawa pulang pot bunga ini ke kampung halaman mereka.” Muhammad menyungging senyum renyah.

Apalah daya kemudian hari disebabkan saat itu sedang mendidihnya konflik bersenjata di Aceh. Muhammad tak nyaman untuk mempertahankan usahanya yang baru seumur jagung.

Beruntung atau tidak, ia memilih meninggalkan kampung demi menghindar tapak sepatu PDL yang kerap menerjang punggung warga sipil. “Han ek tatheun tapak awak nyan (Tak sanggup kita tahan terjangan tapak sepatu mereka: tentara),” ketusnya garang.

Karena sebelumnya, saat mengerjakan suatu proyek dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama orang sekampungnya, Muhammad mengaku dipukuli hanya karena lelah dan beristirahat sebentar. “Ditumbok karap han jeut tapeuleueh nafah (Dibogem sampai kita hampir tak bisa menghela nafas),” kenangnya.

Selain itu, ia mengaku juga pernah dikasari TNI saat malam puasa Ramadhan sekitar tahun 1993. Itu hanya gara-gara ia kedapatan begadang. Padahal kata dia, begadang merupakan rutinitasnya sebagai seorang pengrajin pot bunga. Dan memang saat itu ia begadang sambil mencetak pot bunga sebagaimana lumrahnya. Ia pun diminta push-up dan scot jump.

Pada 1994, Muhammad pun pergi ke Batam. Setahun kemudian ia pulang. Tak lama berselang, lelaki berkulit hitam legam itu hijrah ke Takengon. Di kota dingin itu, ia kembali membuat pot bunga. Setelah 3 tahun di sana, ia mengadu nasib ke Idi, Aceh Timur.

Di Idi, Muhammad membuat dapur batu-bata dengan modal sendiri dari hasil berjualan pot. Kata dia, ia ditipu sama mitra kerjanya selama di Idi. Sehingga ia menanggung rugi dan usaha dapur batu-bata pun tutup usia.

Sulitnya mengarungi arus jeram kehidupan di Idi juga dirasakan selama ia melaut di sana. Menjadi nelayan–sebagai kerja cadangan–Muhammad merasa ditipu pemilik boat yang kurang membayar upahannya. Walau demikian, ia sempat juga menikahi seorang perempuan Idi pada 1999.

Namun tak tahan kerasnya hidup di Aceh Timur, Muhammad hengkang dan memilih pulang ke kampung halamannya awal 2000. Suasana mencekam masih menyelimuti tanah kelahirannya. Tak mau lama-lama di kampung, ia pun hijrah lagi ke Banda Aceh pada 2001. Tak berapa lama setelahnya, ia balik lagi ke Beureunuen.

Baru pada 27 November 2010, Muhammad kembali ke Banda Aceh dengan membawa istri dan ketiga anaknya. Mereka menetap di Desa Santan, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.

Sejak menetap di Ingin Jaya, Muhammad benar-benar ingin jaya hidupnya, dengan cara bekerja keras dalam menjalani usaha pembuatan vas bunga. Tak heran, jika ia bekerja sejak jam 2 dini hari sampai 7 pagi. Lalu sang istri dengan senang hati menggantinya kemudian. Sementara Muhammad mengantar anaknya ke Sekolah Dasar tak jauh dari ia tinggal.

Sebelum mengantar buah hatinya, Muhammad memuat barang dulu ke becak mesinnya untuk dijajakan. Setelah itu ia mengantar anaknya dengan becak sebelum mengelilingi kampung segala kampung untuk menjajakan buah tangannya.

Lalu, biasanya jam 10 pagi ia kembali lagi ke tempat pembuatan pot yang menumpangi tanah orang lain di pinggir jalan dan tepi sawah Desa Santan. Di sana, ia melepaskan lelah di sebuah gubuk reyot.

“Demi asoe kanot, lam ujeuen lon meukat (Demi mengasapi dapur keluarga, hujan pun mau saya jualan),” ujarnya seraya mengibas-ngibas kaki. “Target saya, dalam sebulan mulai 2011, harus selesai 15 biji pot. Saya harus mengejar target,” tambahnya mantap.

Dan sekali lagi Muhammad berharap pada Pemerintah Aceh maupun pihak terkait, supaya memberinya bantuan modal untuk beli tanah kosong, guna menyongsong pertumbuhan perekonomian rakyat Aceh ke depan.[Makmur Dimila]

Catatan: Feature ini telah dimuat tabloid Bungong edisi 47/Mei/2011 dengan judul “Ekonomi Janji”

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s