Ma-ma Du-du

Bangai long siblah u, bangai kah ma-ma du-du. Cantek kah siblah u, cantek long ma-ma du-du. Orang Aceh sering menlontarkan kalimat-kalimat ini ketika terjadi pertengkaran atau perselisihan pendapat. Paling sering, dipraktikkan anak-anak sekolah dasar.

Bila diindonesiakan, ma berarti ibu dan du berarti ayah. Maka kalimat pertama, dalam bahasa mudahnya bermakna: Kebodohan saya hanya seukuran sebelah buah kelapa, sedang kebodohanmu dari ibu hingga ayah. Kalimat kedua: kecantikanmu hanya sebelah kelapa, sedang kecantikanku dari ibu hingga ayah.

Ma-ma du-du, sederhananya bermakna sempurna atau penuh. Kata paling sederhana, sesuatu begitu itu “emang dari sananya.” Penafsiran lain: bodohnya si A hanya di bidang tertentu, tapi bodohnya si B dalam semua bidang; miskinnya si Y hanya dirinya saja, tapi miskinnya si Z sudah dari orangtuanya. 

Makna  lain, ma-ma du-du dalam suatu hal itu tidak setengah, tak jua sebagian saja. Misal, gantengnya lelaki India cuma hidung mancung dan hitam manis saja. Tapi gantengnya Nabi Yusuf—meski tak pernah kita lihat tapi sudah difirmankan—terdapat di semua anggota tubuh dan jiwa.

“Kaya kah siblah u, kaya long ma-ma du-du,” kata teman Ari padanya suatu kali. “Maklum, Yah kah pejabat!” timpal Ari, sembari menduga ayah kawannya itu pejabat negara yang suka diberitakan koran diduga korupsi.

“Puteh kah siblah u, puteh long ma-ma du-du,” kata teman Isan suatu hari dengan logat Aceh yang terbata-terbata. “Maklum, Yah ke bule. Emak ke selalu naik mobil. Apalagi ke, setiap hari diantar-jemput dengan mobil. Sedang aku hanya bersepeda, dan bahagia,” sahut Isan dengan bangga.  

Maka bila dicocok-cocokkan, orang yang melontarkan ungkapan “siblah u ma-ma du-du”, ia bersifat angkuh atau sombong. Keangkuhan itu tak bertahan lama. Ia akan runtuh suatu saat. Kesombongan dapat menjatuhkan si majikan, seperti senjata makan tuan.

Hari ini Ari boleh bangga menjadi pemuda pertama yang punya dua mobil sport di kampungnya, di mana ia menyombongkan diri dengan tak mau memboncengi orang lain, kecuali pacarnya. Tapi suatu saat, harta itu akan melayang. Bisa-bisa ia celaka di jalan, bahkan hartanya melayang sekaligus dengan nyawanya.

Ini hari Je boleh bangga dengan kegantengan dan kekayaannya. Suatu saat, semua itu lenyap jika tak dipergunakan pada kebaikan. Akan ada musibah yang membuat ia ingat Tuhan—ingat Tuhan ketika menderita, setidaknya.

Kali ini oknum-oknum di Aceh boleh bangga dengan jadi ditundanya Pilkada, misal. Tapi bangganya itu hanya tinggal siblah u saja suatu saat. Ini zaman, oknum-oknum di Aceh boleh lega dengan tidak jadi ditundanya Pilkada, tapi kelegaan itu akan tinggal siblah u saja suatu hari.

Maka, kebaikan itu harus ma-ma du-du. Sedang hal tak baik siblah u saja. Jangan angkuh jangan sombong. Beranimu hanya siblah u, berani orang lain ma-ma du-du. Ini berlaku jika mau memahami kalimat: di atas langit ada langit.[]

(CP HA 16/11/11)

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s