Arti Gantungan

Sebuah gantungan punya maksud tak terduga dari penggunanya. Sampai-sampai ada yang memanfaatkannya sebagai ajang menampakkan diri pada orang lain kalau ia sudah berkunjung ke mana-mana.

Je mengamati, hampir semua orang Aceh suka menggantungkan benda-benda unik di resleting tas, kunci kendaraan, dan telepon genggam. Ada juga yang lebay: memasang gantungan di helm dan knalpot sepeda motor.

Gantungan itu diperoleh melalui: sengaja membeli, oleh-oleh orang, menghadiri pesta perkawinan, dan dapat di jalan (sudah pernah dipakai).

Seperti Isan masa kecil. Ia selalu mengekori ibunya ke pesta perkawinan. Jika dilarang ikut, ia merengek. Bukan melihat “raja-ratu sehari” di pelaminan, melainkan hanya untuk memperoleh gantungan yang diberikan tuan rumah ketika tamu menyerahkan kado.

Ada juga orang yang sok sudah pernah keluar negeri melalui gantungan, seperti Ari. Hampir di setiap resleting tas ranselnya, gantungan berbau luar negeri menggayut. Ada gantungan menara Eifel, ingin membuktikan bahwa ia sudah pernah ke Paris, Perancis. Menara kembar (twin tower), menunjukkan kalau ia sudah ke Malaysia. Tembok besar China, ia sudah pernah ke sana. Lancang Kuning, menunjukkan ia sudah ke Riau. Borobudur, ia pernah ke Jawa Timur, dan lain-lain. Padahal, itu semua hanya pemberian orang. Hanyalah oleh-oleh.

Aneh lagi kawan Ari. Si kawan memasang gantungan di helm. Gantungan berupa boneka monyet. Ia melorot dari kepala hingga kaca helm. Ketika mengendara, monyet itu berjingkrak-jingkrak, seakan-akan kera hidup seperti setiap hari memunculkan diri di pinggir jalan nasional Saree-Seulawah menunggu lemparan pisang dari pengguna jalan .

Gila pula yang dilakukan Brahim. Ia memasang gantungan dot bayi di knalpot sepeda motornya. Tak jelas tujuannya. “Tampil beda, Coy,” katanya.

Bagi pasangan kekasih, biasanya menggunakan gantungan yang berbentuk hati. Gantungan itu berupa hati terbelah dua. Satu sisi yang ada mata anak panahnya untuk cowok jika ia yang “menembak”. Satu lagi yang pangkal anak panahnya untuk cewek, jika ia yang menerima. Bisa sebaliknya.

Artinya, mereka sehati. Tak boleh jauh-jauh. Harus selalu dekat. Tapi mereka akan jauh juga ketika malam. Nah, dibelahlah hati tadi, terbagi dua. Ketika kangen, masing-masing mereka saling melampiaskannya pada gantungan itu.

Sebagian orang, sesuatu barang disemat gantungan bertujuan sebagai penarik perhatian jika suatu saat hilang. “Agar mudah dilirik mata,” kata Aya, yang memasang gantungan sepatu balita yang berbunyi ketika ditekan di tapaknya. Tak lain, ketika jatuh lalu hilang, mudah dideteksi: jika terinjak akan melahirkan bunyi.

Di balik hal-hal sepele itu, mayoritas orang menjadikan gantungan sebagai kenang-kenangan. Baik mengenang pemberian orang lain maupun bersifat pribadi. “Sesuatu banget,” kalau kata penyanyi Syahrini. Satu contoh saja, pemberian gantungan itu menandai diterima cinta.

Lalu, bagaimana dengan pejabat-pejabat negara yang sangat sering keluar daerah dan negeri. Pasti banyak bawa oleh-oleh berupa gantungan dari tempat yang dikunjungi, jika sempat membeli. Tak dipakai dirinya, tentu ia serahkan ke orang terdekatnya.[]

(CP HA 20/11/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s