Malu Membaca

Panitia baru saja mengumumkan lima pemenang lomba menulis resensi buku tingkat mahasiswa: mulai juara harapan tiga hingga juara dua. Semuanya dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).  Ketika juara satu mau diumumkan, saya berharap, panitia menyebut nama saya yang merupakan peserta dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry.

Namun, yang dipanggil selanjutnya, lagi-lagi dari Unsyiah, untuk maju ke panggung dan mengangkat piala serta uang tunai sebagai juara pertama pada lomba yang digelar Balai Bahasa Banda Aceh di Taman Putroe Phang selama 14-15 November 2011 itu.

Dalam dua hari itu, Balai Bahasa Banda Aceh menggelar sepaket kegiatan mendukung kampanye Gemar Membaca Rajin Menulis (GEMARAME) tahun 2011 sekaligus memeriahkan Bulan Bahasa yang diperingati setiap bulan Oktober. Acara yang lumayan bagus untuk membudayakan cinta membaca dan menulis bagi generasi Aceh.

Menyimak proses dan hasil lomba tersebut, sepertinya mahasiswa Aceh selain dari Unsyiah, baik negeri maupun swasta, terutama di Banda Aceh, kurang minat membaca buku. Pada lomba menulis resensi itu terbukti, dari 40 formulir yang panitia sediakan, hanya 31 yang mendaftar. Tepiskan alasan jarak yang jauh, sebab panitia menyediakan uang transportasi bagi setiap peserta. Barangkali lomba itu memang tak cukup menjadi tolak ukur, meski pengumuman lomba pernah dimuat di beberapa media online di Aceh, bahkan di harian ini.

Maka, bila ditakar dengan sepasang mata, kiranya akademisi Aceh malu membaca buku di tempat-tempat umum. Mungkin ada minat dan kemauan untuk membaca buku, tetapi masih malu-malu menampakkan pada orang lain. Ketika seorang mahasiswa kedapatan temannya sedang membaca, maka ia akan dikata “sok rajin” atau “kutu buku”. Ditambah lingkungannya yang cuma sekitar dua persen membaca buku ketika tak belajar, maka ia pun merasa terkucil ketika memegang buku.

Padahal, jika mau dibiasakan, paksakan membaca buku di mana pun berada. Paling mudahnya, ketika sedang menunggu sesuatu, sekaligus membuang jenuh. Namun apa boleh buat, tampaknya akademisi Aceh hari ini hanya membaca ketika mendesak. Membaca karena ketika butuh saja, semisal tak ada referensi di bacaan lain untuk melengkapi bahan makalah atau papernya, kecuali buku dimaksud. Padahal membaca buku—setelah Alquran—itu bisa mendamaikan hati. Selain itu banyak hal positif diperoleh.

Saya teringat akan kunjungan ke Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, awal Oktober lalu, di sela-sela mengikuti Pertemuan Nasional AIDS IV di daerah istimewa itu. Dari sana saya melihat, mahasiswa dan dosen rajin membaca. Nyaris setiap akademisi membaca buku ke manapun pergi. Mahasiswa membaca di kantin sembari mengisi perut dan belajar kelompok di koridor masjid kampus sembari menunggu waktu salat zuhur.

Mengenai hal yang sama, saya teringat juga pada kunjungan ke Universitas Islam Riau (UIR) dan UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau pada Januari lalu. Dari sana saya mendapati hal yang sama dengan di kota gudeg. Dan saya menduga kuat, akademisi ketiga perguruan tinggi itu tak menampak-nampakkan sesuatu kepada orang lain alias “peudeuh-peudeuh” sebagaimana tulis Azwardi di kolom opini harian ini, Selasa (15/11/11).

Stop Sertifikasi Guru?

Kiranya, mahasiswa dan terpenting pengajar di Aceh, patut meniru kebiasaan mereka demi meningkatkan kualitas pendidikan Aceh. Apalagi sejak 2007, Pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan, sebagai perwujudan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen yang menetapkan kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi. Pelaksanaan sertifikasi ini diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007.

Sertifikasi Guru dalam Jabatan merupakan proses pemberian sertifikat pendidik yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru melalui pemberian tunjangan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan.

Harusnya dengan diberi tunjangan itu, para guru dan dosen dapat lebih memacu siswa dan mahasiswanya, agar setidaknya gemar membaca, sehingga berpeluang meraih kecerdasan otak. Namun belakangan ini, mutu pendidikan Aceh menurun.

Lihatlah hasil Ujian Nasional (UN) 2010 Aceh untuk tingkat SMA. Angka kelulusan siswa Aceh secara nasional berada di peringkat ke-20 dengan persentase kelulusan mencapai 85,41 persen. Turun sekitar 11 persen dari tahun 2009 yang mencapai 96,42 persen.

Dan hasil UN 2011, Aceh berada di peringkat lima dari tujuh provinsi terburuk di Indonesia yang angka kelulusan siswa tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat termasuk rendah. Dinyatakan, sebanyak 97,11 persen dari total 63.021 peserta UN 2011 tingkat SMA/MA/SMK dan SMA-LB di Aceh lulus UN.

Fakta itu cukup menunjukkan bahwa mutu pendidikan Aceh terpuruk belakangan ini. Patut diduga, hal itu terjadi selain siswa dan mahasiswa masih malu-malu membaca, para guru dan dosennya pun demikian.

Di era 60-an, seperti kata bekas Sekda Aceh, Husni Bahri TOB, pada saya awal Agustus lalu, ada beberapa guru di Aceh yang diminta mengajar ke Malaysia. Salah satunya Khairuddin Abbas, Direktur (Kepala Sekolah) SMAN Darussalam (SMA 2 Banda Aceh sekarang) saat itu.

Mantan Sekda Aceh itu dulu menempuh pendidikan di SMAN Darussalam, masuk pada 1966. Ia kagum pada kepintaran guru-gurunya, sampai-sampai beberapa guru SMAN Darussalam diminta mengajar ke Malaysia. Mereka dibayar mahal, difasilitasi dengan mewah. Saat itu, pendidikan Aceh lima jengkal lebih maju dari Malaysia, katanya, sehingga membuat negeri jiran itu belajar pada Aceh.

Tetapi kini sudah terbalik. Orang Aceh berbondong-bodong belajar ke Malaysia. Lalu membawa ilmu dari sana ke Aceh dan mengajari pelajar dan mahasiswa di negeri ini. Padahal hemat penulis, ke luar negeri itu bisa juga dijelajahi dengan membaca buku-buku bermuatan wawasan luar negeri.

“Menuntutlah ilmu walau ke negeri Cina” itu bagus. Tetapi jika ke depannya, mutu pendidikan Aceh tak juga meningkat meski guru dan dosennya telah diberi tunjangan, baiknya distop saja Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Agaknya tak baik buang-buang uang untuk program yang tak menguntungkan orang banyak. Dan kiranya perlu diketahui, akademisi mengandung arti orang-orang yang berpendidikan tinggi. Nah, jika akademisi masih malu-malu membaca, bagaimana bisa berpendidikan tinggi?[]

(Opini SI 26/11/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s