Midnight with Musmarwan

Aku juga punya idola. Sejak menulis di kolom cang panah Harian Aceh akhir 2010, aku kagum pada tulisan seorang pria. Selalu kuikutinya. Aku ingin sekali menjumpainya. Cita-cita itu nyaris tercapai. Sempat janjian ketemu ketika lebaran fitrah dan haji 1432 H. Namun gagal, karena suatu alasan.

Namun, mimpiku tak berujung kecewa. Jumat (16/12/11) malam, aku turun ke lantai satu di tempatku berkerja. Aku mendapati satu kepala baru di ruang tamu. Dari belakang, aku mengamatinya. Ia mengenakan jaket jeans biru. Kulit cokelat batang. Celana jeans hitam. Sepatu kulit cukup garang.

“Inilah si Makmur Dimila,” kata pria berkaca mata bulat dengan kaca warna anggur tua, padanya. Idolaku berpaling. Aku melihatnya dengan bahagia. Ia bangkit dari sofa. Tinggi besar rupanya. Dan kami salaman. Senang sekali aku malam itu. Hatiku, wah, sangat gembira.

Sebenarnya aku ingin berakting ketika menjumpai idolaku. Berteriak kek. Mondar-mandir atau mutar-mutar ruangan kek. Mengucek-ngucek mata kek, apa mimpi? Menggosok-gosok tapak tangan dan lalu mendaratkannya pada batang hidung dan mengembusnya. Ah, tidak kulakukan. Jangan lebay, aku tidak sedang main film. Hanya dalam hati, Alhamdulillah telah dipertemukan.

“O, kukira Makmur Dimila itu orangnya pendek, hitam..” kata dia. “Bodohhh,” sambung pria berkacamata tadi melanjutkan dugaan idolaku. “Iya… Rupanya masih anak muda sekali,” kata dia.

Pria berkacamata berkepala seperti biksu itu juga menanyakan pada idolaku, kira-kira begini kata dia. “Sekilas, Makmur Dimila mirip artis yang mana?” Yaya, idolaku setuju. “Hmmm… Siapa yang bawa acara itu? Alah,” katanya. Intinya, aku mirip Darius Sinathrya. Ha-ha.

Ah, apapun kata mereka, malam itu aku senang sekali, hatiku berdetak 100 kali per menit. Persis seperti dalam sebuah adegan film “Midnight in Paris”. Seorang penulis pemula AS, Gil Pender, liburan ke Paris bersama pacarnya, pertengahan 2010.

Ia ingin sekali berjumpa dengan penulis macam Ernest Hemingway dan seniman kelas Pablo Picasso. Dan suatu tengah malam, ia jumpa dengan Ernest Hemingway di sebuah bar di Kota Paris yang romantis. Sungguh bahagia. Ia ingin Hemingway membaca novelnya sebagai pendapat penulis dunia.

Pender sudah menggarap novel 400 halaman. Maukah kamu membacanya, tanya dia pada Ernest.

“Pendapat saya adalah bahwa saya membencinya,” tutur Ernest.

“Anda bahkan tidak membacanya?” tanya Pender dengan senang.

“Jika itu buruk, aku membencinya. Aku benci tulisan yang buruk. Dan jika itu baik, aku akan iri dan lebih membencinya. Jangan meminta pendapat penulis lain.”

Lalu Pender mengatakan, jika ia sulit untuk mempercaya seseorang yang mengevaluasi isi novelnya, bagaimana?.

“Penulis itu kompetitif,” kata Ernest, di bawah remang-remang bar.

“Aku tidak akan kompetitif dengan Anda.”

“Itu menyanjung, tapi bukan begitu caranya. Jika Anda seorang penulis, Anda harus menjadi penulis yang lebih baik. Tapi kau tidak akan berdebat dengan saya di sini,” kata Ernest, sembari memukul meja.

“Atau apakah Anda ingin jadi pengekor?” tanya Ernest lagi. Aku tidak ingin jadi pengekor, kata Pender. Ernest pun tak mau membaca novelnya. Tapi ia akan membawa novel Pender pada seorang kritikus sastra, Gertrude Stein. “Aku hanya percayakan padanya tulisan saya,” kata Ernest.

Ahha, Pender senang sekali. Seumur-umur, baru kali itu bahagianya sangat membuncah. “Hatiku berdetak 100 kali per menit,” katanya. Ia keluar bar, bicara sendiri. Senang sekali telah menjumpai idolanya. Mondar-mandir, dan sebagainya. Akting yang bagus.

Lalu diceritakan pada pacarnya. Eh, Pender dianggap aneh. Kekasihnya menilainya kurang waras. Mana mungkin Ernest Hemingway muncul di tahun 2010. Bukankah sudah lama almarhum? “Itu hanya fantasi,” kata calon istrinya yang manja.

Paris adalah kota tujuan sastrawan dan seniman. Banyak inspirasi di sana, terutama tengah malam. Tapi Banda Aceh adalah gubuk derita bagi sastrawan dan seniman. “Hana yum,” kata orang Aceh. Tapi terkadang juga banyak inspirasi di sana.

Jika Pender merasakan nikmatnya tengah malam di Paris bersama Ernest Hemingway, maka saya menikmati tengah malam di Banda Aceh bersama Musmarwan Abdullah, penulis buku kumpulan cerpen Pada Tikungan Berikutnya. “Midnight with Musmarwan”, barangkali begitu judulnya jika difilmkan. Nikmatnya bukan pada Banda Aceh, tapi pada diri Musmarwan Abdullah.

Sabtu dini hari itu, aku bersamanya. Hemingway-nya aku. Ha-ha. Aku suka cerpennya, featurenya, dan kolom cang panahnya di Harian Aceh. Bicaranya santun. Wawasannya luas. Setiap bicara dengannya, ada asupan ilmu diperoleh.

Kami bicara panjang lebar di Discover Studio. Aku akan menulis mengenai cerpen saja. Kata dia, cerpen-cerpen di Aceh saat ini masih belum menciptakan cerita universalitas.

Artinya, sebuah cerpen itu harus membentuk dunianya sendiri. “Intinya, ketika orang Eskimo membaca cerita kamu tentang tradisi Aceh, ia mengerti, tanpa harus datang ke Aceh untuk meneliti tradisi itu,” kata Musmarwan.

Begini, kita biasa menulis tentang kearifan lokal adatu tradisi daerah masing-masing. Namun kita menganggap, o, tradisi dalam ceritanya akan dimengerti orang Aceh dan Indonesia, karena tradisi itu memang sudah ada.

Tapi dalam cerpen, kita membuat tradisi itu seperti ciptaan penulis meskipun tradisi itu benar-benar ada di Aceh atau daerah tertentu. Jelaskan kenapa tradisi itu ada dan mesti diikuti. Ingat, cerpen itu fiksi. Jangan takut digugat. Pembaca atau pemirsa akan larut dalam kefantasian itu ketika sedang menikmatinya.

Contoh, film Lord of The Ring. Itu sebuah fantasi yang unik dan hebat di mata dunia. Juga film Avatar, sangat fantasi. Nah, mereka menciptakan dunia sendiri. Jika film itu dibaca orang manapun, mengerti maksudnya.

Masih belum paham? Apa itu cerita yang universal? Musmarwan mencontohkan. Misal kalimat: “Aku pergi ke sekolah dengan sepeda.”

Kalau kalimat itu diceritakan pada era 40-an, berarti si tokoh “aku” orang kaya. Dan bila diceritakan tahun 2011, “aku” si miskin. Bila dibaca orang Cina, si “aku” itu biasa saja. Orang Cina biasa bersepeda. Dibaca orang Eskimo, “aku” itu orang aneh.

“Nah, itu dia. Kita harus menjelaskan, kenapa ‘aku’ itu pergi ke sekolah dengan sepeda. Jelaskan ia,” kata Musmarwan.

Demikian kira-kira. Jelasnya, temui langsung seperti usaha saya menemuinya dan Pender menemui Hemingway. Akan banyak ilmu darinya. Yakinlah, indahnya tengah malam dengan Bang Musmarwan Abdullah. Sudah setengah empat pagi. Mata sudah marah.[]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

4 thoughts on “Midnight with Musmarwan”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s