Sabang; Putri Cantik yang Tak Terurus (1)

Dua tekong santai di ayunan sembari menunggu penumpangnya snorkeling. Harian Aceh | Makmur Dimila

Pesona Sabang melebihi Pantai Kuta Bali. Mungkin tak kalah dari Pantai Phuket di Thailand. Barangkali beda tipis dengan Pantai Langkawi di Malaysia. Tapi di mata Ruslan, Sabang hanyalah hutan!

“Wajar dikatakannya demikian, sebab dia warga Sabang,” bantah Zulham, Rabu (30/11), di atas geladak Kapal Motor Penumpang BRR. “Tak percaya, coba lihat nanti. Apa benar seperti saya katakan,” warga Paya Keuneukai, Kecamatan Sukajaya itu, meyakinkan Zulham, ketika kapal hampir menyentuh bibir pelabuhan.

Zulham mencanangkan jelajah Pulau Weh sejak beberapa tahun terakhir. Mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi di Banda Aceh itu sudah berusia 21. Ia merasa ironi jika dirinya yang kelahiran Aceh dan tinggal di Banda Aceh sejak tiga tahun lalu tak pernah ke Sabang di seusia demikian.

Orang luar Aceh, berbondong-bondong, terutama untuk menunaikan niat melihat Tugu Kilo Meter Nol Indonesia dan snorkeling (selam permukaan) untuk melihat ikan-ikan hias dan biota laut lainnya di Pulau Rubiah dan Pantai Gapang. “Masa kita ketinggalan?” gugatnya pada Ruslan yang siang itu pulang dari menjenguk keluarganya di Aceh Besar.

Sekira jam 5 sore, Zulham sudah “sah” ke Sabang. Ia tengah berada di ujung Indonesia, di Tugu Kilo Meter Nol Indonesia dengan hamparan Selat Malaka di depannya. Sekira 22 km dari Kota Sabang.

Berdasarkan posisi geografis dalam Ellipsoid WGS 84, Tugu Kilo Meter Nol terletak di lintang: 050 54’ 21.42” LU, bujur: 950 13’ 00.50” BT, dan tinggi: 43,6 meter (MSL).

Selain dedaunan dan reranting kayu berserakan, Zulham mendapati sekawanan monyet liar di sekitaran tugu, seperti menunggu uluran tangan pengunjung menyerahkan bersisir-sisir pisang, namun ia bertangan kosong. Monyet itu sempat menjatuhkan helmnya dari setang motor.

Di tugu itu, ia juga berjumpa Ondel, sapaan Adryan Ahmid, 22. Ondel Kabid Humas Jambi Mega Pro Club (JMPC). Ia bersama Conny Aepreantoni, 17, dari Automatic Mio Club Aceh Tamiang, berangkat dari Jambi pada 14 November 2011 dengan Mega Pro milik Ondel, khusus ke Sabang.

Keduanya menghabiskan empat hari di perjalanan, menempuh jalur darat, sebelum singgah di kediaman orangtua di Aceh Tamiang pada 18 November. Baru Senin 29 November, mereka melaju ke Banda Aceh, hingga tiba di Sabang dua hari kemudian. Keduanya berpendapat, Sabang punya potensi besar untuk disulap jadi pariwasata dunia. “Tapi, pengelolaannya kurang,” kata Conny yang sudah tiga kali ke Sabang.

Kamis siang, Zulham ke Pantai Iboih, sekira 18 km dari perkotaan. Tiba di sana, disambut panorama eksotik nan alami, ia langsung menyewa dua item: masker selam (kacamata) dan snorkel untuk menyelam permukaan. Menyewa speedboat satu trep, dengan bayaran Rp150 ribu. Tak lebih lima menit, tiba di Pulau Rubiah.

“Sayang, tak bisa memotret ikan hias di bawah laut,” katanya dua jam kemudian, pada Jamaluddin, resepsionis Fina Bungalow. “Padahal ada disewakan casing (kondom) antiair untuk kamera di sini. Rp40 ribu sehari, bergaransi pula. Kalau bocor, kamera rusak, diganti,” kata Jamaluddin.

Zulham kecewa berat tak bisa memotret ikan hias di karang-karang Pulau Rubiah. Sebelumnya ikan-ikan itu hanya dilihatnya di layar kaca. Kini sudah di depan mata, tapi tak sempat mengabadikannya.

Harusnya tadi tanya-tanya dulu pada guide (pemandu), Jamal—sapaan resepsionis itu, menyarankannya. Setelah peroleh informasi, baru menikmati objek wisata. Zulham pun tampak kesal pada dirinya. Ia tak menduga ada penyewaan casing kamera. Maunya nyelam ulang. Tapi bekal duit terbatas. Langit pun sudah gelap.

Jamal mengusulkan Zulham agar malam Jumat menginap di Pantai Iboih. “Setiap malam Jumat, ada dalail khairat di sini,” katanya. Para pria Dusun Teupin Layeue, Gampong Iboih, Kecamatan Sukakarya, tua muda, mengadakan dalail khairat di sebuah masjid dalam kawasan Taman Laut itu, mulai jam 9 malam. Turis-turis asing menghormatinya.

“Di sini masih menjaga adat Aceh,” kata Jamal. Bahkan di hari Jumat, para guide tak melayani dan usaha lainnya di objek wisata Taman Laut semisal money changer (tukar mata uang), sewa perlengkapan, souvenir, dan restoran, ditutup. Baru setelah Jumatan aktif lagi. “Sesuai kesepakatan,” kata Jamal.Bersambung

(Telah dimuat FOKUS HA 16/12/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

1 thought on “Sabang; Putri Cantik yang Tak Terurus (1)”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s