Sabang; Putri Cantik yang Tak Terurus (3)

Para turis lokal pulang dari Pulau Rubiah menggunakan boat kaca. Penumpang bisa melihat langsung ikan-ikan hias dari sebuah kaca di dek boat ini. Butuh Rp300 ribu menumpanginya satu trip. Harian Aceh | Makmur Dimila

Ratusan Situs Sejarah Belum Terdata

Selepas snorkeling, Zulham berniat melihat situs sejarah berupa benteng peninggalan Jepang di perbukitan dalam kawasan Pantai Rubiah. Dari pantai yang berhadapan dengan Pulau Seulakoe, ia memasuki hutan. Menaiki tangga berlumut. Anak tangga demi anak tangga. Hingga ia mencapai pucuk tangga semen itu.

Namun, di perhentiannya sebentar, ia hanya mendapati semak-semak yang terkesan angker. Tak ada tanda-tanda adanya benteng. Ia pun turun. Menemui tekong yang sedang menunggu tumpangannya dari menyelam.  

Sang tekong, Lukman, mengatakan, jalur yang ditempuh Zulham sudah benar. Di bukit kecil itu memang ada benteng peninggalan Jepang. Hanya saja, jejaknya sudah ditutupi semak belukar, sehingga sulit diakses para turis jika tak dipandu.

Nah, sekilas ada benarnya kata Fauzi Umar; Sabang ibarat putri cantik yang tak terurus. Salah satu buktinya adalah kurangnya pengelolaan situs-situs sejarah. Harian-aceh.com pada Senin (12/12/11) memberitakan, ratusan situs sejarah di Sabang belum terdata.

Kepala Bidang (kabid) Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sabang, Jamin Seda, mengatakan, hngga kini pihaknya baru mendata 600 lebih situs sejarah di Pulau Weh. Dan hanya 250 situs yang mulai diindetifikasi. Sebagian besarnya peninggalan Belanda dan Jepang.

Situs-situs sejarah di Sabang mencakup tiga bagian, sebut Seda. Situs religi seperti makam keramat 44, situs sejarah seperti bangunan peninggalan Kolonial Belanda, benteng-benteng peninggalan Jepang, dan situs purbakala seperti bekas-bekas peninggalan prasejarah.

Disbudpar Sabang saat ini belum memiliki data yang mencakup seluruh situs di Sabang. Terhadap situs peninggalan Belanda dan Jepang, pihaknya baru melakukan program pembuatan prasasti sebanyak 7 titik pada 2010 dan 10 titik pada 2011, dari 300 lebih situs peninggalan sejarah yang harus dilakukan penamaan atau diberikan prasasti.

Dana menjadi kendala utama Disbudpar Sabang. “Alokasi dana untuk pendataan dan pembuatan tanda situs-situs sangat minim, bahkan pada tahun 2012 tidak ada satupun alokasi dana yang disetujui untuk program tersebut,” aku Seda.

Disbudpar pada 2011 hanya memperoleh kucuran dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Kota (APBK) Sabang senilai Rp3 miliar untuk berbagai program yang telah disiapkan. “Namun khusus program kebudayaan dan situs sejarah hanya memperoleh bagian di bawah Rp200 juta, sehingga tidak cukup menjalankan program tersebut,” katanya.

Pemerintah Aceh Kurang Peduli

Pengumpamaan Fauzi Umar barangkali semakin mendukung bila menyimak keterangan Walikota Sabang, Munawar Liza Zainal, kepada atjehpost.com, beberapa waktu lalu.

Walikota menegaskan, selama ini Pemerintah Provinsi Aceh kurang peduli terhadap pembangunan pariwisata di Kota Sabang. Bahkan sejauh ini provinsi sedikit sekali mengalokasikan dana untuk wisata di Sabang.

Munawar Liza menyampaikan keluhan saat Tim Panitia Khusus Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) yang terdiri empat Anggota Pansus Otsus, Muhibussabri, Safwan Yusuf, Akhyar, dan Gufron Zainal Abidin melakukan kunjungan kerja ke Sabang, Senin (5/12/11), di Aula Sekretariat Kota Sabang.Bersambung

(FOKUS HA 17/12/11)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

1 thought on “Sabang; Putri Cantik yang Tak Terurus (3)”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s