Gubernur, Bencana!

Suatu sore pada suatu periode kepemerintahan Aceh, belasan satpam siaga di lantai dua kantor gubernur. Seperti agak bosan menunggu, para pengawal melebur. Membuat kelompok-kelompok kecil. Bincang-bincang. Kesiagaan pun memudar.

Ada seorang lelaki tua di lantai dua itu. Ia duduk sendiri. Terasing dari para pengawal. Tiba-tiba, sang gubernur muncul dari ruangannya. Beberapa pengawal melihatnya dan lekas memberitahukan kawannya. Semua pengawal itu kemudian lari kucar-kacir untuk menyambut gubernur.

Eh, si lelaki tua itu jadi panik. Ia heran melihat para pengawal berlarian seperti orang-orang menyelamatkan diri dari terpaan bencana alam. Lelaki tua itupun bangkit dari duduknya dan mulai berlari-lari kecil di lantai dua. Sementara para pengawal sudah menemani gubernur di bawah sana yang turun melalui tangga utara kantor.

Lelaki tua itu menanyakan pada seorang pegawai tersisa di lantai dua. “Gempa ya?” Dijawab, “Iya, Pak,” setengah yakin. Alamak! Lelaki tua menggila. Ia mulai berlari kencang di ruangan itu mencari tangga sembari meneriakkan, “gempa, gempa, gempa!”

Saking paniknya, lelaki tua itu tak tahu lagi tangga yang tadi dinaikinya. Tak tega melihatnya, seorang warga tersisa di lantai dua itu mendekati lelaki tua. “Ho ho, tangganya di sana, tapi ini tidak sedang gempa.”

Malah lelaki tua, “gempa ya.. gempa ya..,” makin panik. Mungkin di telinga lelaki tua itu yang terdengar hanya: “…ini sedang gempa.” Sehingga membuat ia kian panik.

Nah, gitu ceritanya, kata teman kantor Je. Si warga tersisa dalam cerita itu, tak lain, temannya si teman kantor Je. Cerita yang unik. Hanya gara-gara “raja” pulang, seorang lelaki tua mengira itu bencana.

“Ini kisah nyata,” kata Je pada temannya. “Tapi tak saya sebutkan nama gubernurnya,” sambung dia. Ia cuma mengatakan, kisah itu terjadi beberapa hari setelah gempa mengguncang salah satu daerah di Aceh, sehingga (barangkali) membuat lelaki tua tadi trauma mendalam.

Namun tak terjangkau media, karena kejadian itu datang ibarat bencana alam, datang tak terduga. Beruntung bagi wartawan (andai) ada di sana ketika kejadian itu.

Yang perlu dibahas dari cerita itu: gubernur, bencana! Petang itu gubernur pulang. Tentu ke manapun, ia dikawal. Saking “menrajakan” gubernur, para pengawal tak boleh sedikitpun terlambat atau lalai dalam mengawalnya.

Kalau telat menyambut sedetik saja, mereka harus lari. Sampai-sampai rakyat (lelaki tua) panik dan mengiranya bencana. “Raja pulang, bencana bagi rakyat,” simpul Je.[]

(CP HA 16/1/12)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s