Belajar Berumah Tangga

Bocah Pucok Krueng, Pasie Raja, Aceh Selatan, beratraksi di lantai. Foto direkam Wahyu Rezeki, kawan dari IAIN Ar-Raniry saat kami baksos di sana pada 2010.

Cara orang Aceh mendidik anaknya menjadi ayah atau ibu yang baik memang hebat. Sejak kecil, orangtua sudah memperkenalkan kita tahap-tahap membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Fenomena itu seperti sebuah tradisi yang terabaikan di balik kesibukan atau kemalasan kita sendiri.

Saya pernah membenci anak-anak, baik bawah lima tahun (balita) maupun bawah tujuh tahun (batuta). Mereka, sejak lahir sudah membuat kita sakit kepala. Untung saya tak punya adik, sehingga tak sempat (barangkali) memaki-makinya dalam hati ketika ia menangis saat kita lagi enak tidur malam.

Namun, sejak memasuki sekolah menengah atas, saya mulai merasakan itu, terganggu anak-anak. Sejak itu kakak kedua saya melahirkan. Tentu buah hatinya adalah keponakan pertama saya. Tak lama, sekira setahun kemudian, kakak pertama saya juga melahirkan anak pertama. Setahun kemudian, kakak ketiga saya juga melahirkan anak pertama. Dan setahun kemudian, abang pertama saya dan kakak kedua melahirkan (lagi). Kira-kira sudah lima kemenakan saya “kantongi”.

Satu sisi, bangga. Segi lain, ya itu dia, ketika menangis, ributnya minta ampun. Kalau bukan mamanya yang meredamkannya, tak mau. Nangisnya makin menjadi-jadi—wajar, tangan seorang ibu umpama dot bagi anaknya, belum lagi kena asi.

Itu baru masih bayi. Ketika sudah beranjak satu hingga dua tahun, perilakunya berubah. Mulai dari merengek-rengek, minta ini minta itu, beli ini beli itu, minta ke sana ke mari, hingga buang hajat sembarangan. Apalagi saya masih remaja saat itu, tentu tak mau tiba-tiba jeans yang begitu bagusnya disiram pipis keponakan, hingga berbau pesing. Saya mendongkol, dan, itu baru dari anaknya.

Dari sang ibu, saudara kandungnya terutama adik adalah pihak kedua setelah orangtuanya untuk membantu dia. Ketika orangtua (ibu kita) tak sempat, maka sang ibu akan menyerahkan pada kita. Apalagi kalau sang ibu wanita karier, ah, kadang-kadang membuat kita kesal juga kalau ia tak menepati janji.

Janji itu misalnya, si ibu (saudara kandung) minta kita jagain anaknya: “hanya satu jam kok, tak lebih, mau belanja sebentar.” Tapi nyatanya, paling cepat ia pulang dua jam setelah itu. Anaknya sudah merah menangis sesenggukan (dok dimoe), baru sang induk pulang.

Lalu, sampai di rumah, belum bisa berbuat apa-apa, harus meredamkan dulu bunyi “chainsaw” itu. Baru kemudian, memasak untuk suami dan anaknya juga orangtuanya jika orangtua sudah uzur.

Maka kepada suami yang punya istri perempuan karier, bagusnya mencari seorang baby sitter jika mampu dan nyaman dengan orang sekitar. Artinya, memakai jasa pembantu jangan sampai menjadi buah bibir sekampung. Kalau tak mampu dan tak pantas berdasarkan lingkungan sekitar, sasarannya kembali berpulang pada orangtua dan saudara kandungnya atau tetangganya. Itu perlu, wajar, logis, dan lumrah. Apalagi jika mereka itu orang baik-baik, setidaknya bisa menularkan kebaikan itu pada anaknya. Inilah yang saya katakan tadi tradisi.

Namun, perlu ditekankan, bagaimana menit-menit “menjaga keponakan atau anak tetangga” itu menjadi pelajaran berharga bagi saudara kandung si ibu atau ayah dan bagi tetangga mereka. Bahkan sangat baik bagi mereka yang belum “ting-ting”. Bisa untuk menjadi media pembalajaran sebelum berumah tangga sungguhan.

Selama ini tradisi itu seperti terabaikan. Kadang memang sengaja menghindarinya dengan berbagai alasan, terutama para paman-paman muda alias apacut, cut lem, acek, acut, apa, atau cek. Dan bagi para tante-tante alias miwa, bunda, micek, atau micut, tradisi itu sangat penting dilakoni. Lebih-lebih jika sudah mendekati masa-masa naik pelaminan.

Bagi mereka atau kita yang belum kawin, semakin banyak punya keponakan sesungguhnya makin banyak peluang belajar pada orang yang telah kawin, tentang apa saja namun masih terkait.

Kita bisa lebih banyak mengetahui jenis-jenis rumah tangga. Misal paling sedikit, ada sembilan kemenakan dari sembilan saudara kandung. Dengan menjaganya sekaligus memelajarinya, secara tersirat kita sudah mengetahui sembilan karakter anak dan rumah tangga.

Sisi lain, dari situ kita juga bisa memetik berbagai pelajaran menarik lainnya. Mulai dari makna tangisan anak-anak berdasarkan tingkatan usia, kemauannya, kebiasaannya, pakaian disuka, makanan diselera, salawat, cerita, atau lagu-lagu yang menarik (bagi sebagian orang) untuk pengantar tidur, tahapan komunikasi, tahapan pergerakan tubuh, susu yang cocok, hingga bahaya tanpa memberikan asi dan sering ditinggal ibu dan ayahnya.

Nah, karena ingin belajar berumah tangga (bukan berarti saya mau kawin tapi hanya persiapan saja jika nanti sempat), sekarang saya tak lagi membenci anak-anak. Setiap kebawelan mereka malah saya anggap sebagai pelajaran, terutama memahami betapa hebatnya Tuhan menciptakan manusia. Dari tangisan anak-anak saja, manusia akan berpikir untuk menciptakan produk-produk baru agar mereka tak menangis lagi. Dan itu kreatif.

Bukan tak mungkin, hanya karena sering-sering memegang anak saudara kandung, kita bisa menciptakan mainan yang membuat anak-anak terdiam seketika ketika menggunakannya. Bukan mustahil, kita bisa mengusulkan pemerintah agar meniadakan program Keluarga Berencana atau KB yang hanya membatasi dua anak—bagi yang setuju. Bukankah semakin banyak anak, semakin sakinah, mawaddah, dan warahmahkah kita?

Apalagi bagi mahasiswa, strata apa saja, dari banyak menjaga anak saudara kandungnya, ia bisa mengambil objek kajian untuk karya ilmiahnya, terutama soal psikologi anak dan orangtua. Kemudian, kenapa anak sulung seperti diwajibkan mengasuh adik-adiknya bahkan ia harus menjadi ayah kedua jika ayahnya sudah meninggal.

Saya kira, sangat banyak permasalahan pada anak-anak dan akan menarik jika membahasnya. Kalau kita menulis dunia anak-anak dengan orangtuanya, niscaya takkan cukup seribu pena atau puluhan liter tinta. Begitulah, sungguh Tuhan telah memberikan pelajaran yang baik bagi orang-orang belum kawin untuk belajar berumah tangga sejak kecil dari orang-orang yang telah mendahuluinya.[]

Penulis adalah paman tujuh keponakan.

(Opini HA 27/1/12)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s