Pamit

Setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Sepasang sandal jepit saja suatu saat akan berpisah, ketika salah satunya putus tali penjepit. Batang pisang saja akan berpisah dengan tandan buahnya kala tiba masanya.

Advertisements

Kami punya cerita tentang produksi kue. Beberapa tahun lalu, sebuah pabrik kue berdiri di negeri ini. Ada dua pihak dalam menjalankan usaha penganan tersebut. Pertama, kami yang menghasilkan kue. Satu lagi, pihak yang mendanai pabrik itu.

Usaha itu mulus. Kami memproduksi berbagai kue. Tradisional ada peukarah, seupet, bhoi, kueh bret, aneuk jaroe, cheurlop, dodoi, wajeb, seumprit, boh lu, hingga apam sesekali. Modern, seperti bolu black forest, kue tar, good time, kue nastar, cantik manis, cinamon cookis, batik nescafe, resimbal, cornflaks dan lain dari itu yang namanya kebarat-baratan.

Produk kami laris manis. Bahkan sangat ditunggu-tunggu. Hingga kami menjadi saingan baru di dunia produksi kue. Kami melenggang manis. Tapi memasuki tahun kelima, mulai menurun, bahkan drop drastis di dapur kami. Bukan tak sanggup mencetak kue hingga masuk ke oven atau belanga dan pemanggang, tapi usaha kami tak diiringi dengan kesejahteraan.

Beberapa kali mencari solusi, tak manjur. Akhirnya kami memutuskan pamit dari pabrik kue itu. Berpisah. Mencari angin segar. Kami pergi untuk kembali, kembali melanjutkan hidup yang lebih baik. Barangkali kami akan membangun pabrik sendiri.

Mohon maaf jika terlalu dini. Tapi barangkali ini saatnya kita berpisah, saatnya pelanggan berhenti membeli kue dari hasil olahan tangan kami. Kami pamit hanya sebagai sebuah inovasi. Barangkali bisa mencoba kue baru suatu hari nanti. Sayonara sementara ini. Good bye.

Setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Sepasang sandal jepit saja suatu saat akan berpisah, ketika salah satunya putus tali penjepit. Batang pisang saja akan berpisah dengan tandan buahnya kala tiba masanya.

Dan kami menghentikan langkah bukan untuk mundur selamanya, tapi memungut semangat baru sejenak dan menghimpun strategi baru. Suatu hari nanti, barangkali kita akan jumpa lagi di pabrik berbeda. Maka setiap perpisahan itu akan ada pertemuan.

Seorang istri ditinggal suami (meninggal) barangkali tak lama kemudian akan datang perjaka lain menikahinya, dan, melahirkan anak lagi. Anak itulah “produk” baru yang membuat Anda senang atau benci menikmatinya.

Sekali lagi, kami pergi untuk kembali, kembali melanjutkan hidup. Karena kata seorang kawan kami, walau bagaimanapun hari ini terjadi, hidup harus dilanjutkan, kecuali menemui ajal.

Nah, bila pernah membenci kue produksi kami, barangkali rasanya tak enak atau terlalu enak, atau “gimanaaa gitu”, mohon maaf sangat, jaroe ateueh jeumala. Lalu andai rindu, ingat-ingat saja, “o, mereka itu… yang membuat kue begana-begini kan.” Begitu umpama. Akhir kata, terimakasih dan sampai jumpa di pabrik baru, barangkali.[]

(CP HA 4/2/12)

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

8 thoughts on “Pamit”

  1. yang namanya usaha pasti ada naik turunnya. mgkin ini lg sat turunnya saja untuk pabrik kue anda. smoga bisa kembali bangkit. kami akan merindukan racikan kuenya. apalagi kalau ada inovasi dan modifikasi yg barunya. kami tunggu…

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s