‘Menyekolahkan’ Plagiarisme

ARTIKEL “Plagiat, Pelacuran Intelektual” yang ditulis Arkin di rubrik Opini Harian Serambi Indonesia (Sabtu, 18 Februari 2012), menarik sekali. Pada awalnya, usaha Arkin mengajak pembaca agar tak mengampuni para plagiator cukup elegan. Tapi, lima hari kemudian, ia merilis “Permohonan Maaf” di Harian yang sama (Kamis, 23 Februari 2012) atas dugaan plagiat terhadap dirinya. Ia mengaku kurang paham etika mengutip karya orang lain untuk menguatkan argumen di dalam artikelnya itu.

Dalam tempo dua bulan pertama selama 2012, setidaknya telah terjadi tiga kasus plagiat dan dugaan plagiat yang mencuat di media massa, sampai-sampai marak diperdebatkan di jejaring sosial. Dan patut diduga, masih banyak kasus plagiarisme di Aceh yang terpendam, terutama di kalangan akademisi. Dari itu, kiranya perlu dijelaskan lagi apa itu plagiarisme, agar menjadi pengingat ketika kita hendak mengutip tulisan atau gagasan orang lain.

Adi Surya, Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumedang periode 2007-2009, dalam blog pergerakan mahasiswa itu yang diposting 6 Maret 2010, menulis, menurut Adimihardja (2005), plagiarisme adalah pencurian dan penggunaan gagasan atau tulisan orang lain (tanpa cara-cara yang sah) dan diakui sebagai miliknya sendiri. Plagiarisme juga berarti: sengaja menyalin pemikiran atau kerja orang lain tanpa cara-cara yang sah.

Tindakan plagiarisme

Secara garis besar, tindakan plagiarisme antara lain menurut Rosyidi (2007), menyalin tulisan orang lain mentah-mentah tanpa menjelaskan tulisan tersebut diambil dari tulisan lain dan atau tanpa menyebutkan sumbernya dan mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan keterangan yang cukup tentang sumber gagasan tersebut.

Sudigdo Sastroasmoro membahas lebih detail mengenai plagiarisme dalam makalahnya berjudul Beberapa Catatan tentang Plagiarisme yang diterbitkan Majalah Kedokteran Indonesia, Volume 56 Nomor 1 Januari 2006 dan Volume 57 Nomor 8 Agustus 2007, seperti dipublis di laman indonesia.digitaljournals.org.

Sudigdo mengulas, plagiarisme merupakan salah satu pelanggaran terhadap etika akademis atau scientific misconduct yang paling sering terjadi. Ia mengutip Gordon CH dkk (2003) yang menyebutkan, secara ringkas, plagiarisme ialah tindakan menyerahkan (submitting) atau menyajikan (presenting) ide atau kata/kalimat orang lain tanpa menyebut sumbernya.

Merujuk pengertian plagiarisme menurut Universitas Hong Kong, Sudigdo menyatakan, publikasi bukan merupakan prasyarat untuk plagiarisme. Meskipun belum dipublikasi, bila suatu hasil karya telah diserahkan (ke dosen, penguji tesis, redaksi jurnal, dan sebagainya) atau disajikan (dalam pertemuan ilmiah atau nonilmiah), maka hal tersebut sudah termasuk dalam kategori plagiarisme.

Dengan mengutip beberapa literatur, Sudigdo mengklasifikasikan plagiarisme dalam empat jenis. Pertama, plagiarisme berdasarkan aspek yang dicuri, terdiri dari: plagiarisme ide; plagiarisme isi (data penelitian); plagiarisme kata, kalimat, paragraf; dan plagiarisme total.

Kedua, plagiarisme berdasarkan sengaja atau tidaknya, terdiri dari: plagiarisme disengaja dan plagiarisme tidak disengaja. Ketiga, plagiarisme berdasarkan proporsi atau persentasi kata, kalimat, paragraf yang dibajak, terdiri dari: plagiarisme ringan (30 persen); plagiarisme sedang (30-70 persen); dan plagiarisme berat atau total (70 persen).

Keempat, plagiarisme berdasarkan pada pola, terdiri dari: plagiarisme kata demi kata (word for word plagiarizing); plagiarisme mosaik (disisip-sisipkan); dan dikenal pula istilah autoplagiarism atau self-plagiarism (penggunaan kembali karya sendiri tanpa menyebutkan sumber aslinya yang disebut juga swaplagiarisme).

Sudigdo juga menekankan, plagiarisme dapat berlaku pula untuk karya ilmiah dan seni seperti karya sastra, lagu, musik, seni tari, lukis, patung, film, drama, dan sebagainya. Yang sering kali menonjol, sebutnya, adalah plagiarisme ide. Dan derajat plagiarisme paling berat ialah plagiarisme kata demi kata yakni pencurian kata demi kata, yang dapat mencakup kalimat, paragraf, atau seluruh tulisan. Ia pun menyarankan lembaga perguruan tinggi agar memertajam definisi plagiarisme dan menyosialisasikannya pada mahasiswa sejak memulai kuliah.

Hati-hati menuduh plagiator

Melakukan plagiat agaknya hampir sama dengan melacur. Risikonya “dosa besar”. Karena itu, kiranya perlu hati-hati dalam menuduh seseorang melakukan plagiasi. Baiknya kita tidak ikut-ikutan jika tak mengetahui penyebab seseorang dituduh melakukan plagiasi. Apalagi mendapat info awal dari mulut ke mulut atau jejaring sosial semisal dari facebook ke facebook.

Sebagai manusia yang merdeka dan berpikiran jernih, baiknya mendeteksi alasan-alasan yang patut sebelum memvonis seseorang plagiator. Selain itu, kita bisa mendudukkan para pihak: orang yang diduga melakukan plagiat dengan orang yang diduga korban plagiat. Harus ada mediator yang berkompeten dalam menentukan kepastian siapa melakukan apa.

Dalam mediasi itu, kedua pihak harus menunjukkan tulisan (karya) mereka masing-masing. Apakah kedua-duanya pernah dipublikasi atau belum. Jika benar tulisan pihak korban diambil terduga plagiator meski hanya satu pargraf tanpa menyebutkan sumber, akan terlihat jelas perbuatan plagiasi. Jika korban belum pernah memublikasikan karyanya kemudian dijiplak terduga plagiator, berarti telah terjadi pencurian ide. Atau si terduga meniru gaya dalam menghasilkan karya yang disebut epigon.

Dari mediasi yang jujur, akan tampak siapa melakukan apa untuk kemudian diberikan sanksi, baik sesuai undang-undang maupun sanksi moral. Yang perlu ditekankan, hati menyebut-nyebut seseorang plagiator tanpa bukti kuat, karena itu dapat membunuh karakter tertuduh jika akhirnya tak terbukti.

Kecuali itu, Husni Mubarak (dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry yang sedang studi di Jurusan Islamic Comparative Law di Omdurman Islamic University, Khartoum, Sudan), sebagaimana sebut Hasan Basri M Nur melalui facebook, menyarankan, barangkali soal plagiarisme perlu disisipkan dalam Mata Kuliah Metode Penelitian.

Hemat saya, bila perlu dimasukkan dalam kurikulum Sekolah Lanjutan Tingkat Atas alias “menyekolahkan” plagiarisme, sehingga kita terhindar dari “pelacuran intelektual” itu.***

* Makmur Dimila, Mahasiswa Prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh

(Opini Serambi Indonesia, 25/2/12)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “‘Menyekolahkan’ Plagiarisme”

  1. kalo beneran, bakal jadi mata pelajaran/kuliah yang menarik tuh. hehe.
    jujur saya masih suka (walau frekwensinya jarang) copas-terjemahan dari situs luar untuk blog artikel berita-ringan saya. apakah itu sama ‘dosa’-nya dengan copas mentah2 ya? 😳

    1. Yap, sgat menarik.
      Copas bole aja, asal cantumkan sumbernya yang jelas, meskipun itu terjemahan.
      Makasi atas kunjungannya Gan. Aku juga suka blog kamu, apalagi mengenai “Tarot”. 🙂

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s