Kebanggaan ‘Keumala’, Kekecewaan Sela

Silla Vaqa Ismi memperlihatkan kopian surat permohonan izin latihan dan syuting dari Indirama Films. Surat ini ditujukan ke Dinas Pendidikan Kota Sabang. PIKIRAN MERDEKA/HERI JUANDA

Selasa (28/2) malam, film Keumala diputar perdana di Planet Hollywood Jakarta. Film yang mengundang decak kagum pemirsa. Sampai-sampai, Ketua DPRK Sabang Abdul Manan dan Wakil Wallikota Sabang T Islamuddin menonton ke ibukota. Lagipula, Islamuddin berperan sebagai seorang dokter. Namun, seorang anak yatim Sabang yang memerankan Inong, kecewa berat. Tanpa undangan, dirinya diabaikan.

Silla Vaqa Ismi—disapa Sela—lahir pada 11 Juli 2001. Bungsu dari tiga bersaudara. Tinggal di Gampong Aneuk Laot, Sukakarya, yang asri. Tsunami 2004 merenggut nyawa ayahnya, Iskandar Fahri, yang saat itu di Banda Aceh, sedang Sela dan keluarganya di Sabang dan selamat dari amukan tsunami. Sejak itu ia yatim. Hingga kini tinggal bersama ibunya, Kusmaningsih.

Awal Mei 2011, Sela, murid SDN 13 Sabang, tengah bermain lompat tali sama kawan sebaya di muka rumah kawannya di Gampong Perikanan. Hari itu, Tim Indirama Films mencari bakat di Sabang, butuh seorang anak untuk pemeran cilik di film Keumala.

Produser Ina Limbong Riung turut hadir. Kebetulan, mereka menangkap geliat Sela. Mereka dipotret. Sehari kemudian       Sela dan kawan-kawannya yang dipotret itu dipanggil guru SDN 13 untuk mengisi biodata.

Dua hari setelah itu diumumkan. Sela lulus seleksi, kenyataan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya: menjadi pemeran film. Gadis hitam manis ini pun diyel-yel kawan sebaya. Hore! Sela ke Jakarta.. Sela ke Jakarta.. Namun Sela tanpa melalui casting, tak jua audisi.

Seminggu kemudian, ia ke Banda Aceh. Hari berikutnya, ia jumpai produser di Bandara Sultan Isandar Muda. Ia diantar ibu angkat. Sebelum berangkat, Ina juga meminta izin syuting di Sabang.

Yayang Zakiyah Fhonna, kakak tertua Sela, lulus Ujian Nasional pada 16 Mei. Ia pun menemani adiknya ke Jakarta, atas izin orangtua. Sebelum take off, Nasriana sempat meminta nomor hape Ina. Juga berpesan padanya, “Tolong jaga baik-baik anak saya karena ia belum pernah ke luar daerah.”

Lalu mereka terbang. Sela dan Yayang hanya berbekal sekoper pakaian dan uang Rp500 ribu dari ibu angkat. Tiket pesawat ditanggung Indirama.

Beberapa hari sebelum keberangkatan, produser juga telah kirimi surat izin permohonan syuting ke Dinas Pendidikan Sabang, tertanggal 12 Mei 2011. Selain Sela, guru SD 28 Sabang Mahdi Umar juga disurati, guna memerankan Kakek Inong yang pandai berhikayat. Keduanya diminta kesediaan mengikuti latihan dan syuting selama 19 Mei sampai 18 Juni 2011.

Sebelum pertama kali ke Jakarta, Sela sudah merencanakan agar nantinya bisa ke Monas, Ancol, Taman Mini, dan bertemu Olga Syahputra pembawa acara Dahsyat. Bersemangat betul, meski saat itu ujian naik kelas di ambang pintu. Sekolah pun mengizinkan Sela ikut ujian susulan.

Malam tiba di Jakarta. Kemudian istirahat di mes Rumah Produksi Indirama Films.

Dua hari kemudian, belia setinggi bahu orang dewasa itu langsung latihan, tanpa kontrak kerja lebih dulu. Hari ketiga di Jakarta, 19 Mei, Sela memasuki masa syuting. Pertama, mulai dari Pelabuhan Tanjung Priuk, di Kapal Pelni. Ia sebagai Inong; gadis Aceh yang pulang ke Sabang hendak temui ibunya yang tak berkabar pascatsunami. Ia sekapal dengan penulis terkenal Keumala (Nadia Vega) dan fotografer Langit (Abimana Aryasatya).

Selama tiga hari syuting di Kapal Pelni, hingga mendarat di Pelabuhan Belawan Medan. Setibanya malam itu, kru lekas tembak ke Banda Aceh. Dua bus Pelangi satu pick-up. Siang tiba di Banda Aceh, lalu segera ke Sabang dengan feri. Sejauh itu, Sela belum pernah menerima uang saku, kecuali akomodasi saja.

Syuting di Sabang sekitar sepuluh hari. Awalnya kru menginap di Pantai Gapang, sebelum mengambil gambar ke Pantai Iboih. Dalam film garapan sutradara debutan Andhy Pulung itu, Inong menjadi makcomblang cinta antara Keumala dan Langit, hingga mereka jadian di Sabang.

Suatu hari di sela syuting itu, ibunya Kusmaningsih, membawakan Sela soal ujian kenaikan kelas dari sekolahnya. Ia mengikuti ujian di sela-sela main film yang tanpa ikatan kontrak kerja itu.

Usai syuting di Pulau Weh, kru kembali ke Jakarta. Yayang masih tetap menemai Sela. Sela masih punya cita-cita di Jakarta: ke Monas, Ancol, Taman Mini, dan bertemu Olga Syahputra pembawa acara Dahsyat. Bersemangat betul, meski saat itu ujian sudah berlangsung di sekolahnya. Pun Sela, sudah dijanjikan produsernya untuk jalan-jalan begitu tiba di sana.

Mereka tiba malam. Sesampai itu juga kru gelar perpisahan. Tahap ambil gambar telah rampung. Usai acara perpisahan, Sela dan Yayang menginap di mes Indirama, yang terakhir kali.

Besok pagi mereka balik ke Aceh menumpangi Lion Air. Tiket masih ditanggung Indirama. Tapi tak ada kejelasan honor Sela dari produser. Harapan Sela ke Monas, Ancol, Taman Mini, dan bertemu Olga Syahputra, pupus. Ia hanya sempat ke sebuah mal dan Kampung Cina, waktu kali pertama datang.

Tiba di Banda Aceh, menggunakan taksi, keduanya pulang ke rumah ibu angkat. Hari itu, Nasriana mendapati kemenakannya tampak lelah betul, menjinjing koper pakaian, tanpa oleh-oleh. Kulit wajah keduanya meluntur. Sela pucat manai. Disusul minta makan, karena belum sarapan. Tubuh Sela dan Yayang gemetaran saat makan.

Detik itu pula, Nasriana menghubungi Ina, menanyakan penyebab anak yatim berusia 11 tahun itu diperlakukan demikian?

“Mohon maaf sekali ya dan terimakasih anak kami sudah sampai ke rumah. Kenapa anak saya kelaparan begini? Sejak subuh tadi berangkat dari Jakarta, hingga kini belum makan apa-apa.”

“Aduh, Mbak, maaf. Saya sudah kasih ke kru saya. Itu salah mereka,” kata Nasriana meniru Ina. Namun saat itu Nasriana meragukan ucapan Ina yang terkesan berkilah. “Saya lebih tahu kamu daripada kamu tahu saya. Kamu produser, saya penonton.”

Beberapa saat usai berdebat via hape, Ina minta maaf melalusi sms. Tapi Nasriana tak kuasa mengabulkannya. Ia sudah menangis, begitu pula Sela dan Yayang. “Mbak, maaf ya, bukannya kami enggak kasih makan orang ini (Sela dan Yayang), tapi uang itu sudah saya titipkan ke kru saya. Kru saya yang salah,” begitu kira-kira sms Ina, kata Nasriana. Namun ia tak membalas lagi.

Selang beberapa hari, giliran Kusmaningsih yang menelepon produser. “Mbak Ina, anak saya sudah siap kerja sama Mbak. Mana ucapan terimakasih kepada anak saya?” terang Nasriana, meniru ibu Sela.

Balas Ina, “Bu, memangnya itu aja yang saya urus. Maaf.” Tak lama, Ina menghubungi Kusmaningsih lagi. Minta nomor rekening. Padahal sebelumnya sudah pernah diminta, tapi Ina beralasan, yang dikirim dulu telah hilang.

Sudahlah, sementara. Saat kembali ke Sabang, Sela kembali mendapat yel-yel dari kawannya. “Sela sudah jadi artis ya.. Sela sudah ke Jakarta..” Sela memaksakan ekspresi senang, merespons teman.

Namun, usai melanjutkan ujian kenaikan kelas susulan atau seminggu setengah usai pulang dari Jakarta, Sela diikutkan ke Gorontalo oleh Palang Merah Indonesia Aceh melalui PMI Sabang, untuk mengikuti Jumpa Bakti Gembira (Jumbara) Nasional. Sela senang, ia ingin sekali berpose bareng anggota Polda Gorontalo Briptu Norman Kamaru yang populer lewat Chaiyya-Chaiyya.

Pelaksanaan Jumbara Palang Merah Remaja (PMR) PMI itu berlangsung 3-10 Juli 2011. PMR Aceh mendapatkan peringkat II Nasional dari 33 kontingen yang hadir ke Bumi Perkemahan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Dan, di sela-sela acara, Sela meraih hasratnya pose bareng Briptu Norman, meski harus berdesakan dengan kawan-kawan peserta.

Sepulang dari kampung Briptu Norman, Sela belum juga ada kejelasan honor. Rupanya, perpisahan malam itu perjumpaan terakhir Sela dengan sang produser. Bahkan saat promo film itu ke Sabang awal Februari 2012, Sela belum juga dihubungi Ina. Namun ia hadir juga, setelah dikabari Dinas Pariwisata Kota Sabang. “Itupun karena Mbak Nadia Vega kangen Sela,” kata Yayang pada Pikiran Merdeka, Rabu (29/2) petang.

Harusnya, Sela menonton bareng pemutaran perdana ke Planet Hollywood, Selasa lalu. Tapi hingga Rabu, ia di Banda Aceh bersama ibu angkat. Sela kecewa berat. Selain “diabaikan” tanpa undangan, ia (akhirnya) hanya menerima Rp2,5 juta dari hasil seni perannya di film Keumala. “Itupun setelah lebih dari lima kali kami kirimkan nomor rekening,” kata Yayang.

Dua minggu sebelum pemutaran perdana, seorang kru Keumala menghubungi Sela. (Sejauh itu, hubungannya dengan kru Keumala harmonis, kecuali dengan Ina yang miskomunikasi). Sela diminta lihat trailernya di internet, juga diminta datang ke Jakarta untuk nonton bareng pada 1 Maret. Heran bagi keluarga, karena bukan Ina yang menghubungi.

Sela sungguh kecewa. Pun begitu, “Sela tetap menerima tawaran syuting jika kesempatan kembali datang,” katanya, didampingi ibu angkat. Ia menganggap “nasib buruk” di Keumala sebagai pengalaman berharga untuk ke depannya.[makmur dimila]

(PIKIRAN MERDEKA, Jumat, 2 Maret 2012)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s