Insya, Terinspirasi Deddy Mizwar

Insya dengan kamera. Foto | IST

Hobi melakon sejak belia. Belajar otodidak. Pernah ikut audisi KDI TPI seangkatan dengan Niken. Bermain di Termehek-Mehek Trans TV. Menjadi kru Rumah Citra Production Malaysia. Bertekad kuat jadi seperti aktor nasional Deddy Mizwar.

Awal-awal mengenyam bangku SDN 1 Kareung Atueh, Aceh Jaya, Insya sudah hobi berlakon. Di rumah, ia berakting dengan abangnya, Muzakkir. Ia suka menyulih suara. Kadang meniru kakek, suara robot, orang dewasa.

Setiap masuk waktu salat wajib, bungsu dari enam bersaudara itu selalu mengumandangkan azan di rumah. Kalau ayahnya keluar hendak bergaul dengan sesama orangtua, ia merengek minta gabung. Kalu tak diizinkan, menangis sesenggukan.

Suatu kali pada medio 2000, ia memenangkan lomba menyanyi antarkelas di sekolahnya. Itu kali pertama ia tampil, ketika kelas lima. Kesempatan itu baginya ajang tes mental.  Ia pun membawakan lagu India sambil berjoged ria. Ia tak menyangka, akhirnya meraih juara pertama.

Lulus SD setahun kemudian, ia berkeras melanjutkan ke SLTP. Tapi orangtua memaksanya masuk MTsS Assasunnajah di Lampuuek, Aceh Besar, agar ia bisa sekolah sekaligus mondok. Muzakkir juga mewasiatkannya, “Dek, kamu bagusnya menurut orangtua. Biar abang yang bekerja.”

Mengunjungi keluarga saat kelas dua MTsS, Insya dibilang orang Gampong Kareung Ateuh mirip penyanyi dangdut yang tampil di sebuah tivi swasta. “Artis sudah pulang,” kata orang-orang. Heboh sejenak. Wajah Insya hampir sama dengan raut penyanyi tembang Pangeran Dangdut, Abiem Ngesti. “Ya Allah, izinkan saya benar-benar masuk tivi,” doanya saat itu.

Balik lagi ke sekolah. Ia terus mengasah suaranya di grup dalail khairat. Saat itu ia hanya bisa menguasai zikir maulid, bahkan sudah membentuk grup zikir Khairul Huda bersama kawan sekampung sejak kelas lima SD. Ia sebagai syeh dan sering tampil saat musim maulid. Karenanya, ia sangat bertekad bisa masuk tim dalail khairat di Assasunnajah.

Sehari pratsunami, kesempatan itu datang. Jumat dini hari, ia salat tahjud di musala sekolah. Setengah jam ia menangis. Berfirasat buruk terhadap keluarganya. Tak biasa cengeng. Sebelumnya ia dikenal bocah keras, bendel nan cerdas.

Sabtu pagi, diumumkan para murid yang akan berlaga pada lomba dalail khairat antarkabupaten se-Aceh di Jantho, Aceh Besar. “Hore!” Insya tak menyangka, namanya disebut sebagai salah satu dari 15 personil tim dalail khairat. Ia berlari-lari. Menyalami semua santri mulai dari bilik satu hingga bilik tigabelas. “Saya akan boyong piala,” dia berjanji pada kawan-kawan. Sekejap bahagia. Namun saat di dalam mobil penjemput mereka, ia teringat keluarganya.

Esok, 26 Desember 2004, tsunami menghempas semua penghuni MTsS Assasunnajah yang dekat laut, di saat mereka tengah beradu vokal di Jantho, sampai-sampai acara ditunda. Rupanya Sabtu pagi perjumpaan dan jabatan terakhir Insya dengan kawan-kawan di pondok. Begitu juga keluarga di Lamno. Hanya selamat kakak tertua Hasbullah dan Juairiyah. Ayah Sulaiman, ibu Saudah, dan tiga saudara kandungnya terseret gelombang berlumpur hitam.

Pacatsunami, kehidupannya berubah. Ia sadar akan pesan abangnya. “Ternyata saya ini diharapkan jadi tulung punggung keluarga,” tuturnya. Lulus madrasah tsanawiyah, ia menyambung ke SMAN 6 Banda Aceh. Pada 2007 masuk IAIN Ar-Raniry. Mengambil jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Fakultas Dakwah. Tekadnya menjadi pelakon masih kokoh.

Tahun berikutnya, Insya mencoba keberuntungan di tivi komunitas Kutaraja TV. Ikut seleksi, lulus. Bermain di film komedi serial Ma’un Raya Beurakah dan Aceh Pajan Sa. Ia bangga, tak lagi mirip artis. Tapi sungguhan tampil di tivi. Namun tak sempat menunjukkan pada orangtuanya. Pun begitu, spiritnya kian merekah. Di Kutaraja TV pula ia curi-curi waktu demi belajar mensutradarai film.

Ia bergabung dengan berbagai teater, seperti Teater Seni Udara, Teater Eureka Friends Care dan Lingkaran Convis. Sejak 2008, jadi penyiar Radio 103,6 Djati FM Banda Aceh. Tak cukup, ia ikut audisi Kontes Dangdut Indonesia TPI 5, seleting dengan Niken yang kemudian meraih juara empat. Cuma, Insya sebatas audisi di Banda Aceh saja.

Semangat tak surut. 2009, memenangkan Aceh Short Film Festival yang digelar Info Aceh melalui film Damai Desaku. Ia gabung Aceh TV setahun kemudian, sebagai aktor di serial komedi Cagok.

Suatu kali awal 2011, pulang kampung. Kerabatnya, Moly, menantang, “Apa di Aceh TV.. Kami tak bisa nonton. Coba ke tivi nasional.” Sesaat, ia menonton siaran Trans TV. “Ya Allah, izinkan saya masuk Trans TV,” doanya.

Balik ke ibukota, ia dapat kesempatan ikut audisi Termehek-mehek Aceh. Dan, ia lulus, untuk bermain di program Trans TV itu, mengambil lokasi syuting di Lhoknga. Di-smsnya Moly, “Saya masuk Trans TV, ini berkat abang.” Sekampung senang. Bahkan sekabupaten, karena bisa mengikuti jejak Sabirin Lamno yang populer di infotaiment lokal.

Jalannya kembali terbuka di pengujung 2011 yang mencekam oleh beberapa aksi penembakan terhadap buruh  asal Jawa. Ia diterima sebagai kru Rumah Citra Production Malayasia. Kru negeri jiran sedang syuting film Kitab Cinta di Banda Aceh saat itu. Mulanya Insya ingin dapat peran. Tapi usai menceritakan pengalamannya, ia malah ditawarkan bergabung, dan bekerja di Malaysia dengan ditanggung biaya hidup.

“Harusnya saya di Malaysia sekarang. Tapi satu mata kuliah lagi belum selesai karena ada sedikit masalah,” kata Insya pada Pikiran Merdeka, Sabtu (17/3).

Ia berharap, usai kuliah, setidaknya harus berkecimpuang di entertaiment setingkat nasional. “Paling tidak ke Jakarta. Tapi tetap ingin ke Malaysia,” kata pemuda kelahiran 1988 itu.

Keberhasilan diraihnya itu tak lepas dari dukungan beberapa gurunya, kawan teater dan komunitas, terutama Komunitas Ragam Aceh yang didirikan awal 2011. Kini, ia ingin mengabdi pada komunitas itu. Menularkan semua kemampuannya pada anggota Ragam.

Insya juga bertekad kuat jadi sutradara handal dari Aceh. Deddy Mezwar? Ya, ia ingin seperti aktor senior Deddy Mizwar yang multibakat di dunia seni peran. Bisa jadi aktor, penulis skenario, sutradara. “Deddy Mizwar kalau tak ada pemeran yang cocok misalnya, ia akan main. Begitu juga saya. Harus pandai improvisasi.” Satu motivasinya, “aku bisa karena aku yakin.”

T Zul Akhyar, Direktur Kutaraja TV mengatakan, saat itu ia melihat, Insya memang punya bakat berakting. Kemudian direkrut untuk bermain di serial komedi. Namun hanya sebagai artis lepas. Bantu-bantu.

Menurutnya, Insya memang ingin tahu banyak hal. “Saya melihat ia punya keinginan besar untuk menjadi multitalent, tapi dangkal,” kata dia. “Boleh sih berkeinginan seperti Deddy Mizwar, tapi fokus aja dulu satu. Baru nanti setelah mahir yang satu itu, terjun ke bidang lainnya,” sarannya.[makmur dimila]

(Rubrik HOBI Harian Pikiran Merdeka, Minggu, 18 Maret 2012)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s