Kampanyekan Gender ala Putri Sersan

Langka, mahasiswi Aceh yang berani menulis di media massa. Tak sampai lima. Satu di antaranya, Fatma Susanti. Putri Sersan Mayor ini baru saja merengkuh juara satu lomba menulis artikel.

Tulisannya Perempuan Aceh Berhak Sejahatera berhasil mengalahkan tiga ratusan peserta lomba yang diadakan Independen Research Institute (IRI) atau Lembaga Riset Independen. Santi—disapa, begitu bersemangat mengampanyekan kesetaraan gender lewat tulisan.

Jelang Sabtu (24/3) siang yang terik, “Dulu kebayang, nulis itu sesuatu yang sulit. Sekarang, setelah opini pertama Santi dimuat di Serambi Indonesia, ternyata nulis bisa jadi alat kampanye persoalan-pesoalan perempuan,” katanya pada Pikiran Merdeka.

Tulisan pertama Santi mengangkat isu gender: Perempuan Go Public. Perempuan tak lagi sebatas di sumur, dapur, dan kasur. Melainkan harus memperoleh hak yang sama dengan lelaki di ruang publik.

Sebelumnya, Santi bahkan tak pernah terlintas, berniat, dan bercita-cita menjadi mahasiswi yang coba menulis. Namun, ketika berdiskusi dengan seniornya di organisasi Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat atau SMUR, pintu menulis mulai terbuka bagi Santi.

Sejak medio 2011, potensi menulis disulut. “Nulis dong,” desak kawannya, Afifuddin. Hal sama dilakukan Sri Wahyuni, Calon Bupati Bener Meriah 2012-2017 dari jalur independen, saat menjadi pembicara di SMUR.

Ketika didesak, ia mengira-ngira, “menulis yang berkualitas itu susah. Kalau sekadar coret-coret siapa aja bisa.” Namun kawannya, terutama Afifuddin, terus menyulut semangat.

Bak gayung bersambut. Tak lama. Suatu hari ketika praktik pengalaman lapangan atau PPL di SMPN 8 Banda Aceh pada medio 2011, spirit menulis pada diri Santi menyala. Hari itu ia melihat majalah Potret di sekolah tersebut.

“Ternyata ada majalah perempuan di Aceh,” ia bergumam, usai membacanya. Santi menganalisis, majalah itu memuat tulisan ringan. “Kayanya saya juga bisa nulis kalau ringan seperti ini.”

Dari situ, ia mulai gemar menulis. Lalu menulis, tanpa perlu bergabung dengan forum atau komunitas menulis. Ia menulis, mengirimnya ke Serambi Indonesia. Opini pertamanya itu dimuat sebulan usai pengiriman. Wah, ia senang sekali.

Setelah itu, Santi kian bersemangat. “Entak asik entah hobi, jadi pengen nulis terus,” katanya. Hingga tulisannya dimuat lagi di Serambi, Potret, The Globe Journal, dan The Atjeh Post.

Pada 16 Januari 2012, IRI mengumumkan lomba menulis bagi pelajar dan mahasiswa Aceh, di manapun berada. Mengusung tema: mewujudkan masyarakat Aceh yang adil dan sejahtera. Afifuddin mengabarkan, “Santi, ada lomba.”

Putri Sersan Mayor Sulaiman itu awalnya malas. Sebab lagi nyusun skripsi. Namun didesak terus oleh kawannya. Ia pun menancapkan kuku. Ikut. Apalagi tema lomba tak jauh dengan isi skripsinya yang menulis tentang perempuan dan politik.

Saat itu berharap, bisa masuk 50 karya terbaik saja, di mana kemudian dibukukan. Ia minder kalau-kalau akan banyak penulis berpengalaman ikut lomba itu, sehingga sulit memeroleh posisi terbaik.

Tapi, dua hari jelang ulang tahunnya ke-22, Santi dapat “hadiah” spesial. Kawannya mengabarkan kalau ia meraih juara satu lomba menulis artikel yang diselenggarakan IRI. Anak kedua dari tiga bersaudara itu kaget. Tak menyangka. Begitupula ibunya, Zurniati, kaget. Santi tiba-tiba kok menang lomba.

Santi mengakui, usai opini pertamanya dimuat, ia tak pernah lagi mengabarkan pada orangtua ketika tulisan berikutnya tampil di media.

Tak hanya Santi dan orangtuanya, Ketua Panitia Mulyadi Nurdin juga kaget. Sebagaimana komentarnya pada iri.or.id, Ketua IRI itu tak menyangka juara pertamanya direbut mahasiswi dengan tulisan bertemakan memperjuangkan hak-hak perempuan Aceh.

Ke depan, “Selama masih ada semangat mengampanyakan perempuan, Santi ingin terus menulis,” katanya.[] makmur dimila

 

Perempuan Aceh Berhak Sejahtera

Artikelnya pada lomba IRI berjudul Perempuan Aceh Berhak Sejahtera. Ia menukil, perempuan merupakan pihak yang sering terlupakan dalam pembangunan. Perempuan juga seolah tak memperoleh porsi sama dalam kesejahteraan layaknya laki-laki. Padahal jumlahnya yang tak sedikit, serta perannya yang cukup signifikan membuat perempuan seharusnya tak layak dinomorduakan dalam pembangunan dan mencapai kesejahteraan.

Perempuan Aceh menderita di saat konflik dan pascakonflik: pascatsunami dan pascadamai. Sejak penandatanganan MoU Helsinki, tulisnya, perjuangan masyarakat Aceh bertransformasi dari perjuangan bersenjata kepada perjuangan politik untuk mewujudkan dan merealisasikan MoU dan UUPA demi kesejahteraan.

Situasi Aceh terus mengalami perbaikan paska damai. Pembangunan infrastruktur dan perbaikan ekonomi masyarakat Aceh terus meningkat. Namun hal itu ternyata tak dirasakan perempuan Aceh.

Berbagai data dan penelitian menunjukkan, hingga kini kualitas hidup perempuan Aceh baik dari segi pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik dan hukum masih sangat memprihatinkan.

Menurut Santi dalam artikelnya, hal tersebut selayaknya tak boleh terjadi mengingat peran perempuan Aceh pada masa konflik ketika melakukan perjuangan bersenjata dulu sangat besar. Seperti ikut mengangkat senjata, menyokong perjuangan di garis belakang serta  bertindak menggantikan posisi laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Perempuan juga menjalankan fungsi-fungsi sosial keagamaan di tengah masyarakat.

Namun saat proses dan pascapenandatanganan perdamaian, peran perempuan semakin mengecil. Hak-hak perempuan juga tidak terakomodir dalam proses reintegrasi. Situasi ini semakin diperburuk dengan rendahnya perolehan kursi perempuan baik di eksekutif dan legislatif, tulisnya mengutip Sri Wahyuni dan Joko Sutranto dalam penelitian Situasi dan Peran Politik Perempuan Aceh Paska Damai: 2009.

Perempuan Aceh tak dapat menikmati kesejahteraan yang selayaknya diperoleh paska damai, ketika mereka dipinggirkan di ranah publik terutama dalam proses-proses politik. Bagaimana perempuan Aceh dapat memperbaiki kualitas hidupnya yang selama ini mengalami keterpurukan tanpa pelibatan dalam pengambilan-pengambilan keputusan dan kebijakan yang bersifat publik? Padahal sebagai warga negara, perempuan juga memiliki hak yang dijamin oleh hukum dan konstitusi untuk memperjuangkan sejumlah kepentingannya melalui partisipasi aktif di bidang politik dan pemerintahan.

Musabab itulah, Santi ingin fokus menuliskan persoalan-persoalan perempuan. Selain itu ia ingin membuktikan kalau perempuan itu juga bisa tampil di ranah publik dan berprestasi. “Salah satunya dengan memberanikan diri menulis di media massa,” katanya pada Pikiran Merdeka.

Santi ingat betul kata seorang akademisi. Bahwa perempuan itu harus meningkatkan kapasitas diri. Selama ini, katanya, perempuan Aceh masih digolongkan second class (dinomorduakan).

“Sekarang, bagaimana caranya perempuan itu bisa terus dihargai dan dipertimbangkan dalam segala bidang. Karena itu, perempuan harus berprestasi, meningkatkan kapasitas diri,” katanya. “Dengan begitu, burgeoning position (perkembanagan posisi) perempuan akan terlihat,” sambung dara berkacamat ini.[] makmur dimila

HOBI Harian Pikiran Merdeka, Minggu 25 Maret 2012.

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

4 thoughts on “Kampanyekan Gender ala Putri Sersan”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s