Gempa Berkekuatan 35 Liter

Abdullah tak bergerak selangkah pun ketika gempa berkekuatan 8,5 skala richter mengguncang selama lima menit. Sementara orang-orang samping kedainya berhamburan ke jalan raya, berlindung di median jalan.

Lelaki enam puluh tiga tahun itu hanya berdiri tenang di muka rak rokok. Ia sengaja tak pindah demi menjaga keutuhan rak kaca berisi bungkusan kretek. Sebab rak itu juga miliki kas uang. Tak digubrisnya goyangan bumi yang membuat isi kedainya nyaris berantakan. Kecuali rak, ia jaga betul sebuah drum merah di sudut kedai.

Drum itu berisi bensin 35 liter. Disediakannya khusus bagi nyak-nyak penjual sayur-mayur, jika setiap subuh tiba akan selalu mengisi di kedainya. Itupula yang membuat suami Kartini harus ke kedai pagi buta. Sejak jualan tiga tahun lalu di Lubuk Batee, Ingin Jaya, Aceh Besar, ia sudah punya langganan tetap, di mana biasanya menghabiskan paling banyak 25 liter bensin per hari.

Rabu (11/4) yang panik itu, ketika bumi baru jeda bergoyang, Abdullah menutup kedainya. Ia ingin pulang ke rumah, menjenguk istrinya, tak jauh dari kedai, di gampong yang sama. Lagi pun, ia ingin jua melihat susunan padi di rumahnya yang baru panen, dikhawatirkan berjatuhan.

Sosok Kartini melintas di benaknya ketika orang-orang dari ibu kota provinsi mulai memasuki kawasan Ingin Jaya mencari tempat aman. Dinyalakan Vespa tuanya berwarna perak. Hendak berangkat, ia melongo pada seorang tua yang baru kehabisan bensin. Tetua itu bermimik takut, mencari-cari pangkalan minyak.

Abdullah merasa terpanggil. Ia matikan Vespa yang bodinya mulai berkarat, setua dirinya. Ia minta bantuan kawan sebayanya Ramlan Is, mengangkat drum merah tadi ke seberang jalan. Meletakkannya di tepi jalan. Dari kota, posisinya sekitar 300 meter dengan Bundaran Lambaro.

Usai menjual ke seorang tua tadi, warga kota dengan beragam aura kian menyesaki jalan negara. Kian banyak pula yang berhenti di pangkalan minyaknya. Dua pria beruban itu kemudian nyaris kewalahan melayani pembeli dadakan.

“Pak, sepuluh ribu,” minta Zahara, 30. Ia mengungsi dari Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Panteriek, Lueng Bata, Banda Aceh, memboncengi motor bersama dua anaknya. Saat gempa, ia lagi tidur. Ia mengisi penuh tangki motornya demi kelancaran mencari tempat aman, dataran lebih tinggi. “Mau ke Blang Bingtang,” katanya.

Rosmiati yang bola matanya berkaca-kaca dan tanpa mengenakan alas kaki, lari dari Peunayong bersama kakaknya Rizki Amelia dan putrinya yang digendongnya Fitri. Mereka juga mampir mengisi bensin pada Abdullah, sebelum melaju ke Lambaro. Mereka lagi ngurus surat motor di Austindo Nusantara Jaya Finance (ANJF) saat gempa dan terpaksa tak menuntaskannya.

Yuli juga berhenti isi minyak. Ia dari Lingke bersama putrinya yang 15 bulan, Kanza, dan anak kosnya. Sewaktu gempa, ia teringat tsunami 2004 yang kala itu tinggal di Punge, sebuah gampong di Meuraxa yang dekat laut Ulee Lhe. Tengah tunggui anak kosnya isi bensin, ia menanti-nanti kedatangan suaminya Fauzan yang saat gempa lagi di Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh. Begitu pula kakek-neneknya Kanza; kini sudah berpisah dengan mereka dari tadinya sama-sama ke luar kota.

Abdullah dan Ramlan sibuk menuangkan minyak ke tangki motor pembeli dadakan yang beragam rupa dan penampilan. Stok bensin kian menipis, sementara pengendara kian banyak menepi, meminta diisikan bensin. “Sabar, sabar,” kata Abdullah pada pengendara yang minta cepat-cepat diisikan bahan bakar.

Ketika tersisa seliter lagi di drum merah, Aira yang memboncengi dua kawannya dari Gampong Laksanana, menepi. Ia khawatir sekali kalau-kalau bensinnya habis. “Tinggal seliter lagi,” Abdullah memberitahu. Wajah Aira pucat. Ia sangat berharap bapak tua itu menjatahkannya. Sang perempuan muda bahagia sekali ketika Abdullah menuangkan bensin terakhir ke tangki motor matiknya. Lensa biru matanya bersinar dan senyumnya merekah. Lekas melaju, menuju Lambaro.

Berpeci putih lusuh. Rona hitam sebesar dua jari di jidat. Berkulit sawo matang. Pria berciri-ciri demikian itu menunggu agak lama untuk menyeberang kembali ke kedainya, karena mobil dan motor menyesaki jalan raya menuju Lambaro yang dianggap tempat teraman seperti saat tsunami 2004.

Sore yang gaduh itu, “Saya tidak mencari untung, tapi membantu orang lain yang lebih membutuhkan,” kata Abdullah pada Pikiran Merdeka. “Saya tetap jual Rp5 ribu per liter,” sambungnya.

Agar adil, tadi ia mengisi sesuai antrean. “Saya isi bensin dulu, baru ambil uang. Bukan sebaliknya,” kata ayah yang putri semata wayangnya tengah di Medan. Harusnya kata dia, minyak di drum merah itu ia sediakan bagi langganannya untuk subuh nanti. Tapi mengingat ada yang lebih membutuhkan, ia rela menjualnya. Lagi pula ia bisa mengambil lagi di SPBU Pagar Air nanti.

“Dan tadinya saya ingin pulang karena istri sendiri di rumah, tapi mengingat sayang pengungsi itu butuh minyak, ya kita membantu,” katanya. O ya, dibilangnya, tadi ia juga tak takut saat gempa, “karena saya baca doa menghadapi gempa (bencana).”

Barangkali, bagi Abdullah, gempa dua hari paska pemilukada itu hanya “berkekuatan” 35 liter. Tak perlu ditakuti. Dan memilih bantu orang yang membutuhkan ketimbang pulang ke rumah melihat istri dan padinya. Bensinya habis dalam waktu sekitar dua puluhan menit.[makmur dimila]

PM, 13-4-12

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s