Hati yang Buntung V

Marlina. Aku lelah mencari pusaramu, seperti mencari batu delima di sungai yang dalam. Kau tahu, Marlina dan aku seperti sendok dan garpu yang dipertemukan dalam piring duralex. Tapi gelombang itu tanpa ampun merenggut garpuku. Maka berat bagiku sejenak berpaling pada yang lain, misal padamu.

Kau tahu Gibran? Ia meratapi kisah cintanya dengan Salma pada perempuan Prancis, pada gadis Mesir pula. Bolehkah aku lakukan hal yang sama? Ah, tidak, Marlinaku. Ia begitu rumit kulupakan. Aku ingin memeluknya, lalu kukata: hai dara bermata hijau lumut, benarkah kita ibarat sendok dan garpu? Akan dijawabnya selagi mengelus-elus punggungku: gelegar petir pun tak sanggup membantah!

Bulan separuh telah berlalu lagi. Purnama kami selanjutnya melintas begitu saja. Gejolak hati mulai lagi. Aku terkadang ingin memliki Marlina lain. Aku jadi merekam jejak selaksa  perempuan cantik yang kujumpai—kamu? mungkin, satu dari sekian yang kupandang. Aku melirik garpu-garpu yang tertata di buffet, garpu-garpu di lemari kaca, garpu-garpu di surau. Sungguh tak ada Marlina lain. Ia hanya satu, satu saja.

Ini pucuk April. Semoga ia tak lupa. Pada bulan ini kami memandang purnama yang terakhir. Secangkir kenangan itu tak cukup dengan secangkir kopi pahit untuk aku singkap kelopak mata semalaman mengingatnya. Pucuk April seperti kopi pahit pada tegukan pamungkas—hidupku kandas jika nanti itu benar-benar sesapan terakhir.

Apa? Kamu inginkan aku menjadikanmu Marlinaku? Perlu kamu ketahui, kamu hanyalah pendengar, curahan hatiku—kisah cintaku dengan Marlina. Kuulangi, aku dan Marlina ibarat sendok dan garpu. Sedang aku dan kamu.. hmm, kamu tahu jerami? Bila aku dan Marlina adalah tanaman semangka dan reranting kayu, kamu jeraminya—jerami agar aku mudah merambati reranting kayuku. Aku hanya memerlukanmu agar kami enteng berbuah.

Mata hijau lumut, rambut lurus gemulai, ketika tersenyum kedua belah pipi masing-masing membentuk separuh bulan hingga secara keseluruhan aku seperti menghadap bulan purnama, berkulit putih gading, berbodi alpukat, betis membunting padi. Begitu fisik Marlina, yang sama sekali tak kamu miliki. Dan setiap aku berbicara dengan jiwanya, aku temukan kedamaian. Lihatlah dirimu, apa kau akan menjaminkan kedamaian bagiku, seperti Marlina? Kurasa tak akan.

Oh, Marlina. Rinduku membuncah. Barangkali ia azab yang perih di dunia bagi seorang pecinta, apalagi yang tengah patah hati. Ini karena cinta. Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia, karena cinta membangkitkan semangat yang hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alami pun tak bisa mengubah perjalanannya. Kau tahu itu kata siapa? Itu kata Gibran. Namun ketika yang dicinta raib tak berkabar, masih adakah semangat itu?

Apa? Kamu akan membuatku kembali bersemangat? Tidak, kau bukanlah garpuku, atau reranting kayuku. Jika aku mata kiri, kau bukan mata kananku. Harus kau ketahui, lelaki terkadang hanya butuh perempuan yang tak suka dibilang ‘aku cinta padamu’ seperti Marlina, tapi dengan rasa. Pernah aku dengar di sinema: cinta itu ibarat angin, tak bisa melihat tapi merasakannya.[]

PM, Minggu 6 Mei 2012

Note:

Cerfet singkatan dari cerita estafet, yaitu cerita berbentuk prosa yang ditulis secara bersambung oleh lebih dari dua penulis. Di Harian Pikiran Merdeka edisi Minggu pada rubrik Budaya, siapa saja bisa menyambung cerfet yang berjudul Hati yang Buntung. Minggu terakhir sudah sampai lima.

Cerita itu intinya seorang lelaki yang kehilangan perempuan karena tsunami. Sang lelaki sulit menerima kenyataan itu dan ia selalu merindu. Sulit bagi si lelaki mencari Marlina—tokoh perempuan dalam cerita itu—lain.

Bagi yang berminat, silakan menyambung. Tulisannya antara 400-600 kata. Kirim ke redaksi@pikiranmerdeka.com.  

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s