Jembatan Celaka

Kita sama-sama mengangkut remah-remah waktu itu. Di sarang para pejuang menanti kita yang gagah berperang, menanti kita yang pantang menyeberang. Kita melangkah sama pelan sama cekatan. Ketika remah-remah terasa berat, kita berhenti, menggigitnya sedikit-sedikit.

Panas memang, sembari mengunyah remah, kita berjanji suatu saat memutuskan jembatan yang selama ini banyak penyeberang tumbang: jembatan yang celaka.

Hei, para pejuang sedang lapar, mari melangkah lagi, menyapu bercak-bercak darah pendahulu yang mati saat mengusung remah-remah ke sarang, mati diterjang yang di seberang.

Kita menyeret diri pelan-pelan. Ketika terasa lapar, kita berhenti sebentar, menggerut remah, mengunyah. Lapar telah tumpah, kita melangkah. Kita hampir tak sampai. Remah itu pula yang menghantarkan kita pada para pejuang.

Ah, waktu itu kau gagah sekali. Lagi sangat pantang menyeberang. Tapi ah, aku kecewa. Kau melarikan remahku bersama para pejuang tengik itu. Kalian sedang menyeberang jembatan celaka. Akan kukejar. Akan kugergaji jembatan itu ketika kalian di pertegahan titian. Dan aku tertawa garang menonton kalian tumbang dengan remah curian. [Rumah, Januari 2012]

Puisi di PM, Minggu 6 Mei 2012

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s