Penulis yang Ditakdirkan

Para pemenang lomba menulis IRI 2012. Dari kiri bawah: Nazar Shah Alam (peringkat 2 dari 50 karya terbaik), T M Syahrizal (juara harapan I), Fatma Susanti (juara satu), Putra Hidayatullah (peringkat 46 dari 50 karya terbaik), Sammy Khalifa (juara harapan III), dan aku (peringkat 1 dari 50 karya terbaik). Foto | IST

(Bukan Sekadar Ju èk Manök)

Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis (Imam Al-Ghazali). Begitu tulis kawan saya—Nazar Shah Alam—di laman Facebooknya. Sesungguhnya Alquran mengajarkan manusia untuk membaca dan menulis, sebagaimana wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW.

Manusia dilahirkan ke bumi memang bukan untuk menjadi penulis. Namun pada hakikatnya semua manusia adalah “penulis”. Setidaknya ia pernah belajar menulis huruf abjad sewaktu kecil. Namun tak semua manusia bisa menjadi penulis seperti dimaksudkan Imam Al-Ghazali di atas.

Para penulis pendahulu bilang, menulis itu gampang-gampang susah. Ada yang mengibaratkannya seperti naik sepeda, kalau tak pernah mencoba maka tak bisa seumur hidup. Atau seumpama berenang, kalau tak pernah mencoba nyemplung maka nihil untuk bisa mengarungi air yang dalam.

Di luar teori pendahulu, ada sedikit pandangan berbeda. Hemat saya, penulis itu sepertinya Tuhan berikan untuk orang-orang tertentu. Orang-orang yang telah digaris oleh Tuhan, orang-orang yang sudah ditakdirkan, sehingga karya-karya mereka punya soul of story.

Bukan angkuh bukan pula asal bersuara, tapi saya merasakan itu setelah menyelidiki beberapa rekan maupun orang luar yang mulai asik dengan dunia tulis-menulis. Orang-orang ini memang diberikan bakat menulis sejak lahir, namun ada saatnya bagi mereka menyadari potensi itu dengan karakter masing-masing.

Mereka jadi penulis diawali dengan latar yang bervariasi. Gola Gong misalnya. Tangan kirinya buntung sejak kecil, namun ia berhasil menjadi penulis besar setelah berusaha keras dengan menulis di mana saja. Ada Ali Audah, penulis yang hanya sejenak duduk di Sekolah Dasar. Ia belajar menulis dengan mencoret-coret di tanah, hingga ia menjadi sastrawan nasional, bahkan penerjemah terpercaya. Ada juga yang mulai produktif menulis di usia tua. Mungkin paling menarik jika ia memulainya sejak belia.

Dan bila disorot dari segi usia, anak muda—remaja hingga dewasa awal—adalah masa paling tepat untuk berkarya lewat tulisan, yaitu masa akhir SMA dan awal-awal masuk perguruan tinggi, hanya satu dua dimulai saat masih SMP.

Pada masa itu, anak SMA—kalau ia tertakdir—mulai menghimpun pengalaman remajanya yang bisa dijadikan bahan tulisan bagi pemula, sedang masa kuliah adalah masa transisi: meninggalkan ‘atribut’ remaja beranjak dewasa awal. Pada tempo itu pula mereka menghadapi berbagai masalah sebagai langkah penentu hidupnya ke depan; dan pada masa itu sangat bagus menulis jika sadar untuk memanfaatkannya, mengubah apa yang ia rasakan dengan panca-indra dan naluri ke dalam tulisan.

Saya melihat, memang ada beberapa yang tertarik menulis di usia itu. Tapi semangat mereka seperti ‘kotoran ayam’ alias ‘ju èk manök’. Sekejap saja panas. Setelah itu seketika raib. Itu terjadi jika menulis karena bergantung pada ada-tidaknya semangat. Tapi—menurut taste saya—jika memang ia ‘orang pilihan’, menulis bukanlah karena ada semangat membara, melainkan seperti ditakdirkan, meskipun itu hobi atau gaya hidup atau pekerjaan kedua. Semangat itu hanya sepintas lalu.

Di Aceh sendiri sudah mulai mencuat ke permukaan beberapa penulis pemula. Paling kentara terlihat di awal 2012 pada sayembara menulis yang diadakan Independen Reaserch Institute (IRI) atau Lembaga Riset Independen. Lomba menulis karya ilmiah populer itu diperuntukkan bagi pelajar dan mahasiswa Aceh di manapun berada.

Para pemenang lomba menulis IRI 2012. Dari kiri bawah: Nazar Shah Alam (peringkat 2 dari 50 karya terbaik), T M Syahrizal (juara harapan I), Fatma Susanti (juara satu), Putra Hidayatullah (peringkat 46 dari 50 karya terbaik), Sammy Khalifa (juara harapan III), dan aku (peringkat 1 dari 50 karya terbaik). Foto | IST
Para pemenang lomba menulis IRI 2012. Dari kiri bawah: Nazar Shah Alam (peringkat 2 dari 50 karya terbaik), T M Syahrizal (juara harapan I), Fatma Susanti (juara satu), Putra Hidayatullah (peringkat 46 dari 50 karya terbaik), Sammy Khalifa (juara harapan III), dan aku (peringkat 1 dari 50 karya terbaik). Foto | IST

Ada empat ratusan peserta mengikuti lomba itu. Hasilnya panitia memlihi 50 karya terbaik—di dalamnya sudah termasuk tiga juara utama dan tiga juara harapan—sebagai pemenang. Uniknya, yang meraih juara satu adalah mahasiswi yang mengaku menulis hanya karena iseng saja dan baru memulainya (salah satu latar baru seseorang menulis: iseng).

Arif Ramdan, seorang dari dua juri lomba itu menyatakan, sebenarnya semangat menulis pemuda Aceh itu tinggi. “Hanya saja mereka malu mempublisnya,” kata dia medio April lalu saat menjadi pembicara di acara sebuah komunitas menulis.

“Buktinya di lomba menulis yang diadakan IRI, banyak penulis baru muncul di 50 besar. Juara satu malah direbut perempuan,” sebut penulis buku Aceh di Mata Urang Sunda itu. “Beberapa penulis yang sudah langganan di media malah tersisihkan oleh pendatang baru,” katanya.

Memang, kecuali penulis itu seperti ditakdirkan Tuhan, banyak embrio penulis di Aceh malu atau enggan mempublis karyanya. Hemat saya, jika tetap begitu, mereka sama saja seperti katak di bawah tempurung, takkan pernah tahu bagaimana dirinya dipandang makhluk di luar lingkungannya, dan lambat laun janin kepenulisan itu gugur. Padahal dengan mempublis karyanya secara terus menerus, ia bakal tahu sejauh mana sudah kemampuan buah pikirnya.

Sementara, penulis yang ditakdirkan tak mengenal malu atau enggan dalam menyiarkan karya tulisnya. Penulis macam ini ibarat katak di luar tempurung. Ia akan terus menulis sepanjang hayatnya. Hingga ia mati pun namanya masih tetap berkibar, semisal Hamzah Fansuri, Ali Hasjmy, Pramoedia Ananta Toer atau Pram dan Chairil Anwar.

Kalau menanyakan bagaimana sih cara menulis? Jawabannya seperti wahyu pertama Nabi Muhammad SAW. Bacalah! Lalu tulislah dengan pena—dan sejenisnya. Saran dari workshop dan seminar menulis atau para penulis terdahulu, umumnya sama: ‘membaca dan menulislah’ jika ingin menjadi penulis. Dan jika sudah ditakdirkan, ia setidaknya cukup sekali diingatkan demikian. Bagi sebaliknya, ya terpulang pada diri mereka, nyemplung atau tidak?

Jika nyemplung, berarti ia membuat perubahan. Bila tidak, ia tertinggal. Dan bagi ‘katak di bawah tempurung’, mari menikmati mentari. Jadilah ‘katak di luar tempurung’ bila ingin menjadi penulis yang seperti ditakdirkan Tuhan.[]

Makmur Dimila adalah mahasiswa kelahiran 1990 yang mulai menulis dan mempublis karyanya sejak medio 2010.

Artikel PM, Minggu, 13 Mei 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Penulis yang Ditakdirkan”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s