Pantai Elok di Ujung Sumatera

Personel ‘Quartet Jaguar’ berpose di Lhok Mata Ie/Doc.self timer Samsung Galaxy Zulham Yusuf

Menapaki pantai ini, kita takkan membawa ‘oleh-oleh’ berupa pasir di saku celana, melainkan telapak kaki tertindik pecahan berbagai jenis karang. Butiran pasir merah bercampur pasir putih sangat memanjakan mata ketika menggenggamnya; jika pernah melihat sambal goang—garam dan cabai rawit merah ditumbuk—begitulah kelihatannya; pedas dan menggoda.  

Kita bisa menikmatinya di Lhok Mata Ie. Merahnya pasir pantai di balik Gle Pancu ini memang masih kalah dengan Pink Beach di Pulau Komodo Lombok yang pasirnya tampak merah jambu oleh campuran pasir putih dan pasir merah yang berimbang, dan tertinggal jauh dari Pantai Kaihalulu Hawaii yang pasirnya merah saga. Namun airnya yang hijau jernih cukup membayar kelelahan pengunjung saat menempuhnya.

Ada beberapa kendala untuk mencapai objek wisata tersembunyi nan juita itu. Sulit mendapatkan tempat yang aman memarkirkan kendaraan, adalah yang pertama. Biasanya pengunjung menjatuhkan pilihannya di usaha peternakan ayam di Gampong Lampageue. Namun pada Selasa cerah di sela-sela hari-hari Mei yang basah, kami menitipkan kendaraan di depan rumah pondok pesantren Hamzah Fansuri.

Dari sana, dengan kaki kami tempuhi jalanan Gampong Lampageue yang berserakan tahi lembu. Hanya tiga lemparan batu, kita dapati kandang ayam. Lurus dari kandang ayam itu, ada plang nama bertuliskan “Lhok Mata Ie”. Sepuluh meter ke depannya, di kiri jalan menuju objek wisata Ujong Pancu, lorong berupa jalan setapak menanti wisatawan. Kalau sudah menyentuh jalan setapak itu, tangan saya akan membekap mulut dan hidung. Bau kotoran dari kandang ayam begitu tajam, apalagi musim penghujan.

Perjalanan selanjutnya, ikuti saja jalan setapak sebelum mencapai dua jalur yang membelah, tampak seperti huruf Y. Jalan bercabang dua ini akan kita dapati sekira 200 meter atau 5 menit setelah melewati kandang ayam. Pagi jelang siang itu saya berhasil meyakinkan tiga kawan saya: Zulham Yusuf, Nazar Shah Alam, dan Rijal Pandrah, bahwa jalur yang benar adalah ke kiri. Dengan semangat kami mendaki hingga kemiringan 30 derajat selama 30 menit, hingga mencapai puncak dan menjumpai para pemuda petani cengkeh. Pemuda Lampageue itu terbahak ketika Zulham bilang bahwa kami ingin ke Lhok Mata Ie. Salah besar! Kata mereka.

Saya duga, Anda pasti bisa membayangkan bagaimana tiga kawan saya menghujam saya dengan sumpah-serapah. Saya membela, itu karena salah pemerintah setempat yang seperti enggan mengelola objek wisata, yang harusnya membuat peta atau petunjuk yang jelas. Kami terpaksa harus turun lagi, hingga mencapai jalan Y tadi, memasuki jalur kanan. Jalan setapaknya berupa tanah kuning yang gundul, dengan agak menanjak. Ruasnya pun lebih lebar dibanding yang kami lalui sebelumnya.

Itulah yang namanya petualangan. Kalau mudah bukan adventure namanya. Dan saya yakin, kekecewaan mereka akan redam saat tiba di pasir merah nanti.

Oh ya, ada yang menarik! Kita akan menemui padang ilalang sebahu orang Aceh dewasa sekira seperempat jam berikutnya. Persis padang ilalang di Belitong, Bangka Belitung, seperti di film Laskar Pelangi. Dari sini, tinggal mengisap sebatang rokok lagi, akan sampai di pantai yang berada di Kilometer Nol Pulau Sumatera, seperti tulis Yuswardi A Suud di Atjehpost.com pada hari pertama tahun 2012.

Nazar Shah Alam hendak terbang di padang ilalang/Doc. Makmur Dimila

Sebagai penanda bahwa jalan yang ditempuh itu benar, kita akan menemui batang air yang membelah jalan setapak; konon airnya yang jernih mengalir dari sumber mata air di pucuk gunung. Ini merupakan titik aman terakhir menuju pantai impian, apalagi jika sudah mulai kedengaran monyet mengikik bersahutan. Hanya seperempat batang rokok lagi akan tiba.

Wow! Hijau. Jernih. Hamparan samudera hindia membentang luas. Nelayan menjaring ikan menggunakan boat, dengan latar gugusan pulau sejauh mata memandang. Kawan-kawan lekas melepaskan baju dan lari ke gelombang yang menjilat bibir pantai Lhok Mata Ie. Pecahan berbagai jenis kerang menjalari sepanjang pantai. Kita tak menyentuh pasir. Bila ingin melihat butiran pasir merah yang merekah, keruk saja di bawah lapisan karang itu. Rasakan!

Topografi pulau ini nyaris sama dengan Pulau Rubiah di Sabang. Hanya saja, di sini kami belum berani menyelam permukaan atau snorkling, karena gelombangnya tinggi dan airnya tak tenang, juga sangat sedikit ikan hias.

Sambil melepaskan celana, Pandrah menatap Zulham yang tak sabar mandi/Doc. Makmur Dimila

Cuma, di Lhok Mata Ie lebih banyak ‘ikan lapar’ alias sasaran empuk para fisher. Muhammad Nur Akmal yang sudah tiga kali menjelajahinya mengatakan, di bagian utara pantai ini, dari atas tebing, sangat cocok untuk memancing. Ikannya bisa sebesar kardus mi instan. Siang itu kami juga melihat kawanan ikan seukuran lengan orang dewasa di bawah tebing yang dimaksudnya.

Masih, dua sejoli asal Bireuen itu menikmati riak jernih kehijauan/Doc. Makmur Dimila

Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah itu sendiri mengakui bahwa Lhok Mata Ie memiliki panorama yang indah, alami, dan jarang dijamah. Ikannya keren-keren. Hanya, dia mengeluh, tidak terurus dan medannya sulit. Ditambah lagi tak ada petunjuk. “Salah-salah, sesat,” komentarnya melalui jejaring sosial.

Lhok Mata Ie jika diibaratkan manusia bagaikan kembang desa atau kalau orang Aceh mengenal idiom boh lam on yang belum terjamah. Baru beberapa tahun terakhir dikunjungi.

Senangnya Pandrah/Doc. Makmur Dimila

“Kawasan itu sempat terlarang dikunjungi saat perang masih bergolak di Aceh. Perpaduan bukit dan pantai membuat kelompok gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka memilihnya sebagai salah satu lokasi persembunyian. Setelah perang usai pada 2005, barulah satu persatu orang berani mendaki ke sana,” tulis Yuswardi A Suud di media online The Atjeh Post.

Nazar, aku, dan Pandrah/Doc. Zulham Yusuf

Ingin menikmati eksotisnya Pantai Lhok Mata Ie? Datanglah melalui Ulee Lheu menuju Jalan Hamzah Fansuri, Ujong Pancu, Gampong Lampageue, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Sekira 12 km dari Kota Banda Aceh. Cara lain adalah dengan menumpangi boat nelayan di Lampageue, namun kurang seru! Dan jangan lupa bawa bekal logistik serta perlengkapan berkemah jika tiba-tiba cuacanya buruk. [Makmur Dimila] 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

9 thoughts on “Pantai Elok di Ujung Sumatera”

    1. Itulah. Nyan kon peungalaman pertama kamoe ke Lhok Mata Ie. Jadi hana meuteupeue bahwa sinan bebe raya ungkot. Baro kemudian ketika kamoe ek u teubeng jih, memang deuek teuh takalon ungkot. Bebe raya diwet2 dikeue mata. Meunyo jak lom payah me kawe beu le. Haha. TQ

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s