Masa Muda di Balik Layar

Sudah hampir dua bulan aku gantung pena (sementara). Kukira selama itu aku akan menikmati masa mudaku. Dan aku sangat menikmatinya selama dua minggu terakhir. Aku mengurus penataan lampu pada Pementasan Teater “Noda Perdamaian”.

Aku mendapatkan cahaya mudaku di sana. Tak hanya di bibir panggung. Ada bermacam warna lampu yang kuperoleh selama proses latihan hingga hari pembubaran panitia yang berdarah-darah—kemungkinan cahaya-cahaya itu akan terus mewarnai hidupku, hidup kita.

Lampu merah, kuning, hijau, atau lampu sorot? Aku memeroleh semuanya, seperti para aktor dari Teater Rumput yang berlakon di bawah siraman lampu-lampu pada pementasan malam hari pertama Juli 2012.

Meraih semua itu, aku harus membuang jauh-jauh keraguan. Penawaran dan kepercayaan yang datang kubalas dengan keseriusan dan keyakinan. Kau tahu? Itu pertama kali tubuhku menggeliat di teater, dan aku dipercaya memimpin penataan lampu. Aku optimis, maka aku berhasil. Dan aku bahagia. Ternyata ada cahaya yang bisa aku lihat dalam kegelapan.*

Menerobos Lampu Merah; Siap Gagal

Dalam menata pencahayaan teater, lampu merah biasa dinyalakan untuk adegan marah dan sedih. Beda dengan di rambu lalu lintas, merah “menyuruh” pengendara untuk berhenti. Beda pula dalam rambu-rambu kehidupanku. Lampu merah adalah siap menerima kegagalan. Kata lain, aku akan menerobos lampu merah untuk mencapai seberang! Berani?

Pertengahan minggu ketiga Juni, Nazar Shah Alam—atau Pengko—baru mendapat tawaran mementaskan teater dari Azmi Labohaji, penulis naskah sekaligus sutradara. Pengko asisten sutradara. Ia dipercaya Azmi untuk menggaet aktor-aktor muda, sesuai permintaan produsernya, Rossa, yang merupakan Direktur Aceh Youth for Peace.

Awalnya aku ditawari sebuah peran. Aku tak open. Beberapa hari kemudian, aku menanyakan apa masih ada lowongan. Ternyata butuh orang untuk manajer lighting.

Apa tugasku? Hanya mengurus pencahayaan, katanya. Hei, aku bukan orang teater. Belum pernah samasekali. Pertunjukan itu merupakan pementasan tunggal. Sebuah proyek. Semua kru tentu harus dari kalangan profesional. Tapi apa salahnya mencoba jadi profesional. Semangka merah saja bisa diubah menjadi semangka kuning. Kenapa aku tidak? Aku yakin bisa dan siap gagal.

= = =

Nyak Gam berpekik. Ia masih memangku Usman di muka balai pengajian. Lampu fokus merah memudar perlahan hingga padam, seperti genangan air terakhir di pangkal gelas yang diisap habis oleh mulut manusia. Panggung AAC Dayan Dawood gelap. Aku puas. Lekas kuraih tangan Emon, Rijal, dan Mustafa, sebagai operator lighting dari Teater Rongsokan.

Aku girang. Seperti para pemain Spanyol merayakan juara Eropa setelah menekuk Italia di final. Padahal sebelumnya aku sudah membayangkan akan dimarahi Rossa sesaat sebelum pertunjukan. Sebab pada gladi resik—yang hanya sekali itu—penataan lampu masih kacau. Ia sendiri yang bilang.

Aku (menunjuk), Rijal (tengah), dan Emon (kanan). Good teamwork.

Tapi Emon dkk sangat baik untuk bekerjasama denganku. Emon profesional. Ia tangkas mengonsep penataan lampu yang tiba-tiba saja harus diubah seperti acara pementasan tari atau konser, menyelaraskan dengan kebutuhan kameramen; permintaan Rossa untuk presentasinya di Negeri Paman Sam, di kampusnya, Earlhem College. Maklum jika lightingnya tak murni seperti pementasan teater.

Aku berhasil memimpin penataan lampu di panggung yang sangat lebar—tiga kali gawang bola kaki. Perut panggung dengan langit-langit gedung pun sangat tinggi—dua pohon kelapa, sehingga tak bisa menggunakan 376 (?) bola lampu di langit-langit Event Hall AAC. Itu semua karena Emon dkk. Aku belajar banyak dari mereka.

Keberhasilan lighting makin mantap ketika diskusi usai acara. Tak ada penonton yang mempertanyakan penataan lampu, kecuali seorang yang mengatakan bahwa ada satu adegan tak kena lampu fokus. Belakangan aku malah mendapat pujian bahwa penataannya bagus (setidaknya untuk pengambilan foto dan video), terang.*

Menikmati Lampu Kuning; Solidaritas

Bagi pengendara, lampu kuning mungkin saatnya memutar setir. Dalam teater, lampu kuning adalah kebersamaan, ketenagan, kedamaian. Dalam hidupku, itu rambu kedua (lampu kuning di traffick light berikutnya setelah menerobos lampu merah sebelumnya). Menikmati lampu kuning adalah membangun solidaritas.

Aku telah menerima tawaran. Telah diberikan amanah. Maka aku harus mempertanggungjawabkannya. Kau tahu? Caranya tidak bekerja sendiri-sendiri. Dalam dunia teater, tiga pilar yang sangat memengaruhi penampilan adalah aktor, lighting, dan musik. Setelahnya mungkin properti, baru dekorasi.

Aku masih “bayi” soal teater. Pernah lihat bayi memasang lampu rumah? Kurasa tidak, dan tak mungkin. Tapi akan bisa jika ia hanya perlu menangis keras-keras ketika lampu di rumah orangtuanya mati. Ketika bayi menangis, sang ibu pasti tahu apa yang diinginkan buah hatinya. Ha-ha.

Aku buta soal lighting untuk pementasan teater. Mencari operator profesional sangat mungkin mengimbangi kekuranganku. Aku mengontak Emon dari Rongsokan. Usai tawar-menawar, ia bersedia, dengan Pj-nya Tafe dibantu Rijal. Aku hanya perlu menempel terus pada mereka—begini cara belajar: mengamati, bertanya, dan memahami.

Setiap aktor latihan, aku hadir untuk melihat-lihat set lampu yang bagus. Mencatat poin-poin penting. Ini sebuah solidaritas. Dan perlu dilakukan. Aku mendatangkan Emon untuk melakukan hal yang sama. Kami berdiskusi. Mencatat poin-poin penting. Aku akan menemani setiap ia dan kawannya mendatangai kami. Ini juga sangat penting. Kau tahu? Kami mendapat konsep, meski harus diubah sesaat sebelum pementasan.

Ketika tugasku sudah kukuasai, tak boleh hanya sapu-sapu tapak tangan. Harus membantu yang lain. Seperti ikut berteriak-teriak bersama aktor. Dan membantu kru properti. Kami harus ke rumah “Usman” di Mon Jen, Lampeuneureut, Darul Imarah, Aceh Besar, untuk membuat benda-benda rekaan.

Tak hanya mendapatkan kebersamaan yang ceria, singgah ke kampung di balik bukit itu telah mengobati rasa rindu pada kampung halamanku. Suasana kampung di Mon Jeng dapat banget. Malamnya sunyi. Hanya jangkrik yang terdengar dalam kesunyian reranting pepohonan di depan bulan sabit terang yang menggayut di langit, seolah-olah menunjukkan pada Wak Lah—sebutan Usman di dunia nyatanya—bahwa malam itu keberuntungan di pihaknya.

Solidaritas semakin kuat ketika kami bermain patok lele di belakang AAC. Patok lele adalah sebuah permainan rakyat Aceh yang mulai langka—kami sudah berencana membudayakannya kembali melalui komunitas kami (jengan ada yang mendahului, kecuali bekerjasama, haha). Sebuah kebersamaan itu ternyata menyadarkan manusia juga.*

Memetik Lampu Hijau; Kepuasan

Dalam teater, lampu hijau biasanya menyorot adegan romantis. Atau membantu bagian musik hadirkan suasana pagi. Menguatkan nuansa alam. Dalam hidupku, tak jauh beda dengan teater. Inilah saat-saat romantis, menikmati keberhasilan, atau mencermati kepuasaan sebuah usaha.

Kau tahu? Lelaki mana yang tak suka perempuan cantik. Perempuan mana yang tak suka lelaki rupawan. Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan. Daya tarik manusia lahir di mana dan kapan saja.

Jujur, aku tertarik pada seorang aktris pementasan Noda Perdamaian. Seorang aktor juga merasakan hal yang sama pada aktris itu. Tak kusebutkan nama mereka di sini, meski sebagian kalian sudah mengetahuinya melalui ruang lain.

Tak hanya kami. Kru lain juga saling menyatakan ketertarikannya pada lawan jenis, apa ia aktris ataupun kru. Mungkin ini yang disebut benih-benih cinta di lokasi latihan?

Biak cinta itu selalu mengisi ruang pikiran. Aku selalu menyebut: cinta itu seperti angin, tak bisa dilihat, tapi dirasakan (mengutip sepotong dialog dalam film Barat romantis, I Walk Alone). Kau tahu? Biak itu akan mengembang jika dirawat dan punah begitu saja jika dibiarkan. Dua pilihan ini tergantung masing-masing kita.

= = =

3 Juli 2012. Awan hitam menimpa Banda Aceh. Hari itu semua kru Noda Perdamaian melakukan (barangkali) prom day, hari perpisahan. Kalau sekolah-sekolah di Barat, biasa menggelarnya di malam hari dan menyebutnya prom night. Pada momen ini, hal-hal tak terduga muncul tiba-tiba.

Kami ke Pantai Lampuuek siang itu. Pakai dua mobil. Eh, ternyata ada seorang aktris yang pergi sendirian dengan motornya. Ia tak mau aku atau aktor itu menemaninya. Itu wajar. Sebab ia sudah berhubungan. Hanya kami tetap “menebar jala” pada aktris itu. Manusia berhak menebar jala sebelum janur kuning. Dan sebagai pemancing, kami tak boleh terpancing emosi ketika fisher lain datang memancing di kolam yang sama, atau petani lain “menggarap kebun” yang sama.

Perpisahan selalu mengharukan. Ini adalah momen terakhir jika tak bertemu lagi di hari-hari berikutnya. Dasar anak teater, di hari-hari biasa pun kerap menampilkan teater, menggarap drama tiba-tiba. (Kurasa hidup ini adalah teater. Pandai-pandailah melakukan improvisasi untuk bertahan hidup).

Lepas siang. Usai makan. Ah, tak usah kuceritakan. Aku hanya kasih klunya: di pementasan, aku bagian lighting dan si kawan sebagai aktor; dalam cerita itu, aku aktor di si kawan itu sebagai lighting. Kalau mencari kepiting malam hari, dia yang menyorot, aku yang menangkapnya. Sampai-sampai darah menetes dari bagian tubuh kami.

Ha-ha, maaf kawan, jangan sampai kita membuat noda perdamaian seperti orang-orang elit di negeri kita. Cukup sudah. Darah itu adalah iklan yang menyelingi kehura-huraan kita.

Biarlah prom day itu menjadi kenangan kita, sekeping sejarah hidup kita, hidup para penikmat seni dalam mengarang kehidupan pura-pura di dunia remang-remang. Harap menyambung sendiri cerita di Lampuuek itu. Bagi pembaca yang selain kru Noda Perdamaian, kurasa saat ini tak perlu tahu. Ini soal perasaan. Belum saatnya netizen ketahui.

Yang paling penting, aku mendapat cahaya hidup dari Pementasan Noda Perdamaian itu.

Pertama, seumur-umurku, baru kali itu aku menikmati masa muda sepuas-puasnya. Aku kurang mendapatkan kesempatan itu saat bekerja di koran harian.

Kedua, aku mendapat jalan hidup dari memenejeri lighting pementasan. Lampu merah, kuning, hijau, adalah konsep baruku dalam bertahan hidup atau survive.

Oya, dua lampu sorot (lampu halogen) di kiri dan kanan panggung itu adalah orang-orang yang ada di sekitarku. Aku harus tetap mengontrol mereka, mereka juga berhak mengawasi atau membimbingku jika memang perlu.

Ketiga, mengagumi lawan jenis itu nikmat. Hidup tidak datar. Naik-turun. Panas-dingin. Dan kita belajar banyak hal dari keadaan itu jika kita jeli mencermatinya. Seperti menata lampu teater, pasti ada keindahan dalam kegelapan.

Terakhir, terimakasih kepada Bang Ikram, Rossa, Bang Azmi Labohaji dan Nazar Shah Alam yang telah memercayaiku, juga kepada semua kru Noda Perdamaian, terutama lagi Bang Emon dkk. Spesial buat aktris itu. Smile please.. Senyummu adalah lampu hijau teater.[]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s