Canda Kurang Wajar

Dia pengen ikut tatkala kuberitahu aku sedang dalam perjalanan. Aku baru saja sei gud bai pada Sigli dan menyapa Meureudu seramah mungkin. Hm, belum aku menjawab, ia menawarkan diri untuk masuk ke tasku. Baiklah, sebab aku berboncengan dengan sepupu yang berbadan tegap.

Jleb! Ia nyemplung ke ranselku yang dalam; pengap. Hampir saja ia terperosok ke saku laptop 12 inchi. Untung pula kepalanya tak terbentur bahu Asus; andai kena, paras ayunya memar oleh intel atom. Ia senang, jatuhnya ke kaos berlogo daun ganja berjari sembilan.

Ia minta aku membuka resleting tas, agar ia bisa menghirup udara segar dan mengembus nafas dengan sempurna.

“Buka dikit.”

Kedua pipinya memuai, membentuk katupan mulut seperti bulan sabit dibaringkan. Kedua alis lebatnya melengkung seperti dua gunung yang dilukiskan bocah sekolah dasar. Lihat matanya; aku seperti tengah memandangi dua mentari pagi yang muncul setengah di langit timur. Lihat hidungnya; aku seperti menatap jambu air merah yang dagingnya tumbuh rapi dan mulus.

Sebentuk rupa dalam kerudung hitam itu, bila dipandang lama-lama, seperti bola lampu pijar yang menyinar terang, menyorot wajahku, selalu. Akan lebih mengena lagi jika aku menggantikan bolanya dengan yang warna hijau; kilauan sinar hijaunya pun kian menggelora—penawar insomnia terkini dalam kamus hidupku. Dan sebentuk rupa itu tenggelam dalam kaos hitam berlogo mariyuana di dada.

Baru sejenak, ia merasa kesepian. Ia minta aku memuat tivi ke tas. Aku bilang, ada laptop di sampingnya, buka saja. O, tak mungkin bisa. Namun ia tetap akan membukanya. Entah apa yang akan ditontonnya. Ia menonton hingga aku tiba di Cot Panglima, bukit tempat syahidnya panglima perang di Bireuen. Abu kuning gunung mengepul ke tubuh kami. Namun ia baik-baik saja. Debu-debu itu tak kuasa menembus lubang-lubang kecil rajutan tas.

Ia tetap menonton ketika aku mulai kedinginan sejak melampaui Bener Meriah; menempuh rute yang adakalanya seperti ular mengejar mangsa atau mirip sambungan huruf S yang ditulis bocah sekolah dasar.

“Huwaaaa.. dinginnyaaaa.”

Dia juga kedinginan. Ia menguak tindihan baju; masuk ke sela-sela jeans hitam dan kemeja kaos berkerah, hijau dengan strip putih, yang masih menebar aroma deterjen cair. Ia minta switer. Aku bilang, ada tuh dalam tas kecil di pantat ransel. Warnanya hitam. Ada kata Eiger. Dia bilang oke. Menerimanya begitu saja tanpa protes.

“Apa aja boleh.. itu yang dikasih, itu yang dipake.”

Dia mau pakai sarung tas. Aku jadi kesal. Dia bilang pula tak apa-apa. Aku tak tega. Ia cantik.

“Cantik dari Hongkong..”

Ia menggugat sendiri kecantikannya. Padahal aku tak sedang berbohong. Kalau aku bilang ia cantik, itu bukanlah gurauan. Dan bukan pula cantik dari Hongkong. Tapi dari Padang Tiji.

“Berarti cantiknya di daerah Padang Tiji aja yhaa. Haha.”

Lagi-lagi ia meragukan sendiri kecantikannya. Ia tak sadar kalau lebih cantik dari Danau Lut Tawar yang tengah kupandang sekali pun. Aku meyakinkannya bahwa ia memiliki cantik khas Padang Tiji (aku tebak kalian akan membayanginya seperti bola lampu hijau tadi) dan tetap begitu di mana pun berada, seperti bulan yang selalu bersinar di negara mana pun kita bermalam.

Dingin semakin menjadi-jadi ketika kami mampir di Gampong Kayu Kul, Kecamatan Pegasing, Kota Takengon, di rumah paman sepupuku.

Pertama-pertama, aku akan melepaskan ranselku pelan-pelan. Kuharap ia tak berguncang. Aku tarik resleting. Menguaknya lebih lebar dari sunggingan senyum rinduku padanya. Aku bahkan mengangkat kedua tangan seperti bocah hendak menangkap anak ayam, untuk mengangetinya bahwa kita sudah sampai di kota dingin.

Namun aku heran begitu mendapati letak pakaian, laptop, dan seperangkat kosmetik, masih seperti saat aku memuatnya di kampung. Jangan-jangan ia yang sedang berbohong padaku? Aku menyibak-sibak pakaian. Cemas dibuatnya. Tak ada dia di dalam tasku. Ke mana dia. Aku membuka semua tas kecil yang ada pada ranselku. Tak ada juga. Kecuali aroma alat kosmetik yang menyengat.

Ah, aku mengirimnya sms. Kamu di mana? Lagi apa?

“Aku lagi belanja ni sama Bapak, di Pasar Grong-grong.”

Ha oi! Alamak! Aku sadar kalau tadi kami hanya berkomunikasi lewat pesan pendek. Rupanya tadi, kami menciptkan canda yang mungkin juga dilakukan oleh anak muda lain. Dan, kami masih waras dong. Buktinya, aku mengaminkan ketika ia meminta aku menyampaikan salamnya kepada angin, gunung, rumput, dan minta dibawa bunga edelweis. Ehelg ehelg ehelg ehelg. J

Kukira canda yang kurang wajar itu lahir dari sebuah rasa rindu dua insan yang tak ingin berpisah secara biologis, batiniah, dan psikologis. Kukira gurau semacam itu bagus untuk menunda penuaan sejenak.[]

9 Juli 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s